Lost Love

Lost Love
Part 168 ~ Hampir bertemu


Setelah memarkirkan mobil dengan aman di depan rumahnya, Ara segera turun membawa tas tangan yang sejak pagi menemani dirinya. Gadis cantik tersebut berjalan memasuki rumah dan disambut heboh oleh Kirana.


"Ya ampun Sayang, bunda tuh khawatir banget sama kamu!" Kirana memutar tubuh Ara kekiri dan kenakan untuk memastikan putrinya baik-baik saja.


Hal itu membuat Ara jengah, gadis tersebut menghentikan tingkah berlebihan bundanya.


"Cukup Bunda, Ara nggak papa. Cuma luka dilutut saja," jawab Ara tanpa ditanya.


Sontak saja tatapan Kirana tertuju pada lutut mulus Ara yang terluka. Wanita itu tidak sengaja mendengar suara kegadugan saat bertelponan dengan putrinya di bandara tadi.


"Ck, kamu ini seorang dokter, tapi ceroboh sama kesehatan sendiri!" Kirana mulai mengomel tanpa henti karena terlalu menyayangi putrinya.


"Sudah Rana, kasian Ara dia mau istirahat dulu!" Tegur Deon.


Ara langsung mengembangkan senyumnya melihat keberaan ayahnya, dengan adanya Deon maka Kirana tidak akan bisa menganggunya lagi.


"Ara istirahat dulu Yah, Bunda!" Ara berteriak sambil berlari menuju tangga agar sampai di kamarnya dengan cepat.


***


Di jam yang sama tapi di tempat yang berbeda, Samuel membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah sampai di apartemennya sendiri.


Sejak 3 tahun yang lalu Semuel memilih tinggal sendiri karena orang tuanya sering kali menjodoh-jodohkan dia dengan gadis lain, padahal Samuel hanya mencintai satu perempuan saja, yaitu Arabella.


"Sakin kangennya, gue sampai dengar suara dia di bandara," lirih Samuel mengusap wajahnya kasar.


Samuel melirik ponselnya yang baru saja berdering tanda ada pesan masuk, laki-laki itu langsung saja mengeceknya.


"Gue dirumah sakit!" Isi pesan dari Rayhan.


"Bukan urusan gue!"


"Jengunkin napa El, lo kan baru pulang jalan-jalan."


"Pala lo jalan-jalan, gue kerja bego!"


"Ayolah sepupu gue yang tampan, jenguk gue sambil bawa makanan. Gue nggak mau nyusahin Giani."


Samuel mendengus kesal, dia langsung bangkit dari tidurnya lalu meraih kunci mobil di atas nakas. Meski terkesan dingin, tentu saja Samuel tidak tega jika harus mengabaikan permintaan Rayhan yang sedang sakit.


Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen menuju rumah sakit Edelweis di mana Rayhan sedang dirawat. Samuel ditemani dengan suara musik romantis.


Beberapa menit berkendara akhirnya Samuel sampai di rumah sakit. Langkah lebarnya langsung menuju lift dimana seorang pria dengan pakaian dokter berdiri di sana.


Samuel melirik orang yang menegurnya dan terkejut melihat keberadaan Edgar.


"Hm."


"Masih dingin aja, udah ketemu Ara?" tanya Edgar sok akrab padahal dulu mereka tidak sedekat itu.


"Bukan urusan lo!" Samuel langsung masuk ke lift setelah terbuka, tentu saja diikuti oleh Edgar karena akan menuju lantai yang sama.


Sesekali Edgar melirik Samuel yang tampak jauh lebih tampan dengan setelan kemeja warna abu-abu dipadukan celana jeans warna hitam.


"Mungkin mereka sudah bertemu." Edgar membantin.


Pria itu keluar lebih dulu dari lift sebelum Samuel. Keduanya berjalan berlawanan arah sebab berbeda tujuan.


Samuel membuka pintu ruangan yang dia yakini Rayhan berada di dalamnya. Decakan kesal keluar dari mulut pria itu melihat bukan hanya Rayhan yang ada di dalam, melainkan inti Avegas lainnya juga hadir.


"Kan kata gue juga apa, Ray bukan ngabarin kira doang," kata Dito kesal. Pria itu rela meninggalkan meeting pentingnya karena mendengar kabar Rayhan masuk rumah sakit.


"Sakit apa lo, Ray?" tanya Samuel duduk di samping Azka yang penampilannya sangat santai. Seperti baru saja bangun tidur.


"Gue sakit parah asal kalian tahu."


"Sakit apa?" tanya inti Avegas serempak.


"Gue muntah-munta tapi nggak ada yang keluar. Aneh kan? Sampai lemas dan pingsan, makanya dilarikan kerumah sakit."


"Lo hamil?" tanya Keenan.


"Hah?"


"Anjir nih anak, lo kira Ray cewek, Ken?" tanya Azka tidak habis pikir dengan mantan ketua Avegas tersebut.


"Maksud gue Giani."


"Apa hubungannya sama gue yang muntah-muntah? Kan bukan gue yang hamil."


"Hamil simpatik njir!" bentak Samuel.


"Cielah yang jomblo tau aja hamil simpatik, udah ada calon ya?" goda Ricky mengoyang-goyangkan jarinya.