Lost Love

Lost Love
Part 11 - Pertunangan


Satu minggu kemudian di dalam sebuah ruangan.


Seorang laki-laki bewajah dingin tengah memperhatikan penampilannya melalui pantulan cermin. Samuel Reinhard Winarta Adhitama, dialah laki-laki itu.


Tidak ada senyuman yang menyertai wajahnya padahal hari ini adalah hari pertunangannya dengan gadis bernama Arabella Prianka. Gadis yang sangat Samuel benci karena terlalu manja dan kekanak-kanakan.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Fany yang baru saja datang. Wanita paruh baya itu mengunjungi kamar putranya untuk menjemput, sebab semua tamu sudah datang.


Perlu digaris bawahi tamu yang datang. Hanya keluarga besar Adhitama beserta teman-teman Samuel juga orang tua Ara. Ini semua keinginan Samuel dengan alasan takut pihak sekolah tahu dan malah bermasalah.


Padahal pemilik sekolah juga hadir hari ini.


Fany mengikuti keinginan Samuel karena tidak ada pilihan lain untuk membuat putranya betunangan.


"Nggak ada," sahut Samuel melirik maminya sekilas.


"Ayo kalau begitu!" ajak Fany tetapi Samuel bergeming di tempatnya. Laki-laki berwajah dingin itu engang bergerak. Rasanya dia ingin kabur dan menemui Sasa.


"El lo mau tunangan apa nggak sih?" Samuel memutar bola mata malas ketika ketuanya datang.


"Nak Azka, bujuk teman kamu itu!"


"Baik tante."


Azka duduk di atas meja seraya berdekap dada. Sangat tidak sopan, tapi siapa peduli. Laki-laki tampan dan tidak kalah dingin dari Samuel itu menatap sahabatnya cukup lama.


"Mau dibantu kabur?" tanya Azka.


"Permaluin keluarga?"


"Itu mau lo." Azka mengedikkan bahu acuh.


Samuel berdiri dan merapikan jas di tubuhnya, berjalan keluar dari kamar tanpa mengajak ketuanya sama sekali. Sementara Azka diam-diam tersenyum tipis.


Mengizinkan Samuel kabur? Tentu tidak akan Azka lakukan, itu hanya sebuah pancingan agar Samuel berpikiran tentang keluarganya.


Acara pertuangan sederhana berlangsung di mansion milik keluarga Adhitam atas permintaan oma Jelita yang tidak bisa bepergian lagi.


Pesta sederhana yang selalu keluarga besar Adhitama lakukan sangat berbeda dengan pesta sederhana kebanyakan orang diluar sana.


Terbukti dekorasi yang mewah nan elegan sudah memenuhi Aula tempat yang memang di khususkan untuk acara di mansion tersebut.


"Akhirnya pemeran utama datang juga," celetuk Rayhan ketika Samuel berjalan ke barisan para orang tua untuk menjemput tunangannya seperti yang telah di rencang sebelumnya.


"Izinkan saya untuk membawa putri om," ucap Samuel mengulurkan tangannya pada Ara yang sejak tadi tersenyum lebar.


"Bawa dia dan gantikan ayah untuk membahagiakannya," jawab Deon.


Samuel berjalan ke atas panggung seraya mengenggam tangan Ara dan itu terlihat romantis di mata para orang tua juga teman-teman Samuel.


Di salah satu barisan paling depan, seorang laki-laki menatap sendu Ara.


"Semoga Samuel nggak nyakitin gadis sebaik Ara," batin Keenan.


Samuel menatap Ara dengan tatapan yang sulit diartikan, tidak ada senyuman sama sekali di wajahnya.


"Senyum dong aelah, musiknya udah romantis itu," celetuk Rayhan padahal sejak tadi disuruh dia.


"Abang ayo senyum kasian fotografernya ih!" Alana ikut-ikutan berteriak.


Samuel bergeming, padahal sudah memegang cincin yang dibawa seseorang.


"Abang ayo pasangin cincinnya!" pinta Ara.


"Hm." Dengan ragu, Samuel mulai memasukkan cincin di tangan Ara. Namun, cincin itu terjatuh sebelum terpasang di jari manis Ara.


Lirikan mata laki-laki berwajah dingin itu tidak sengaja menangkap bayangan seseorang yang baru saja datang memakai topi hitam dan kaos yang senada, itulah mengapa sedikit hilang fokus.


Azka dan Rayhan yang paham lirikan Samuel segera menoleh dan terkejut siapa yang berdiri di antara para pengurus Wo.


"Mampus Sagara tau," bisik Rayhan.


"Ish Abang mikirin apa sih? Sampai jatuhin cincin," kesal Ara menunduk untuk mengambil cincin di lantai.


"El apa yang kamu tunggu!" tegur Daren papinya.


Tanpa menunggu waktu lama, Samuel langsung memasukkan cincin tersebut di jari manis Ara, begitupun sebaliknya. Dia memejamkan mata ketika suara gemuruh tepuk tangan terdengar.


Dipikiran Samuel saat ini hanyalah Sasa.