Lost Love

Lost Love
Part 28 - Balasan untuk Samuel


Bugh


Samuel tersungkur setelah mendapat pukulan dari papinya sendiri. Dia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Pukulan papinya memang tidak main-main apa lagi jika sedang marah.


Dengan susah payah Samuel bangun ketika kerah bajunya ditarik paksa.


"Siapa yang ngajarin kamu kasar sama perempuan Samuel! Apa kau bangga setelah memukul tunanganmu sendiri!" bentak Daren dengan mata memerah.


Mungkin jika Daren bisa memakan orang, maka Samuel sudah habis di tangannya.


"Karena El nggak suka sama ...."


Bugh


Pukulan kembali menghantam wajah tampan laki-laki dingin itu. "Alasan kamu tidak berguna! Apakah kau pantas menjadi laki-laki jika seperti ini!"


Daren mendorong tubuh Samuel sangat keras hingga punggung laki-laki wajah tampan itu membentur besi kandang Jack.


"Kalau sampai Papi dengar lagi kamu mukul Ara, maka Papi atau kamu yang akan mendekam di penjara!"


"Dasar anak nggak berguna!"


"Abang!" teriak Ara dari dalam Mansion, gadis imut itu baru saja jalan-jalan dengan mami Samuel dan terkejut mendegar teriakan seseorang.


Ara tidak menyangka tunangannya tengah disiksa habis-habisan oleh papinya sendiri. Gadis imut itu duduk di lantai dan menindahkan kepala Samuel agar bertumpu di pahanya.


"Kenapa Papi pukul Abang?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Karena dia pantas mendapatkannya," jawab Daren dan berlalu begitu saja.


Jangankan sengaja memukul, Samuel gagal menjaga saja akan membuat Daren murka. Pernah sekali inti Avegas mendapatkan luka lebab di wajah karena gagal menjaga cucu perempuan satu-satunya Adhitama.


"Abang luka, Ara nggak suka," lirih Ara mengusap darah yang keluar dari hidung juga mulut Samuel.


"Gue nggak papa, mending lo pergi!" usir Samuel menghempaskan tangan Ara yang penuh darah.


Gadis imut itu mengeleng. "Ara nggak mau sebelum Abang baik-baik aja." Ara mendongak dan menatap beberapa penjaga yang memperhatikan mereka.


"Tolongin Ara, bawa Abang ke kamar!" pintanya dengan berderai air mata.


Para penjaga segera menolong Samuel karena sudah mendapat perintah, sebab sejak tadi Daren melarang untuk mendekat.


Penjaga tersebut menidurkan Samuel di ranjang setelah sampai di kamar.


"Keluar!" perintah Samuel pada Ara tanpa ingin menatap.


Tangan Ara bergetar, sebenarnya dia takut akan darah, tapi memberanikan diri untuk mengobati Samuel.


"Sayang."


"Mami? Ara harus gimana?" tanya Ara ketika Fany menghampiri di dapur.


"Sebelum di obatin, kompres dulu sambil bersihin Nak. Ara bisa?"


"Ara bisa kok Mam, Arakan calon dokter," jawab Ara.


"Ya sudah obati Abang, setelah itu jangan peduli lagi! Orang jahat memang harus dijahatin balik," kompor Fany walau sedikit sedih melihat kondisi putranya tadi.


Ibu mana yang tega melihat putranya terluka? Terutama anak tunggal? Tapi apa daya dia harus melakukannya agar Samuel jera.


Samuel bukan lagi anak kecil yang harus diberi kelembutan, apa lagi tentang kekerasan fisik. Seseorang yang ringan tangan jika terbiasa tanpa diperingati, maka akan melakukannya di lain waktu jika ada kesempatan.


"Kata Bunda kalau ada orang jahat sama kita jangan dibalas Mam, itu dosa," balasnya membuat Fany tersenyum bangga.


Gadis itu kembali ke kamar Samuel membawa baskom kecil berisi air hangat, setelah berpamitan pada mami Samuel.


Dia duduk di pinggir ranjang menghadap Samuel yang tengah memejamkan mata.


"Ara obatin ya Bang," ucap Ara sebelum meletakkan handuk berbahan lembut yang telah setengah basah oleh air hangat.


Tidak ada sahutan dari Samuel, bukan karena tidur, tapi kepalanya yang seperti ingin pecah menahan sakit, apa lagi ketika Ara mengompres bagian hidungnya.


"Maafin Ara, harusnya Ara kunci pintu tadi biar Mami nggak liat bekasnya," lirihnya merasa sangat bersalah.


"Diam atau keluar, hm?"


Ara mengigit bibir bawahnya, tidak bersuara lagi dan hanya fokus pada luka Samuel.


Setelah membersihkan dengan air hangat, Ara memberikan salep lalu menempelkan hansaplast di beberapa bagian yang memang terluka, sementara yang lebab di biarkan saja.


"Ponsel gue mana?"


"Ah ponsel ya, tunggu Ara cari dulu ..." Gadis imut itu langsung berdiri hendak mencari ponsel Samuel agar tunangannya tidak marah.


Namun, sesuatu di luar dugaan terjadi, dia tidak sengaja menyenggol air bekasnya tadi, hingga tumpah mengenai tubuh Samuel.


"Arabellla!" geram Samuel menatap Ara sangat tajam.


"Maafin Ara, Ara nggak sengaja."