Lost Love

Lost Love
Part 107 ~ Markas


Senyuman Ara mengembang sempurna ketika membuka mata dan mendapati seorang wanita paruh baya duduk di samping brangkar.


"Bunda?"


"Mau dipeluk sama bunda?" Kirana menerantangkan tangannya.


Tanpa menunggu lama, Ara langsung menghambur kepelukan wanita yang selama ini dia rindukan. Pelukan yang begitu erat tanpa ingin terlepas begitu saja.


"Ayah juga datang Bunda?"


"Tantu Nak, ayahkan sayang sama Ara. Ayah lagi ada urusan sama om Daren, nanti balik jengukin Ara lagi," jawab Kirana.


"Ara senang bisa ketemu bunda lagi. Bunda nggak bakal pergi-pergi lagikan dari hidup Ara? Ara udah pintar belajar, terus bisa nyiapin baju sendiri."


Kirana tertawa, di situasi apapun Ara memang tidak pernah benar-benar sedih. Gadis imut itu terlalu mudah melupakan kesedihan dan kesalahan orang lain hingga segala sesuatu tidak terlalu membuatnya stres.


"Bunda nggak bakal kemana-mana lagi. Mungkin cuma ayah yang bakal pergi buat ngurus kepindahan," jawab Kirana semakin membuat hati Ara tenang.


Gadis imut itu melerai pelukannya setelah di rasa sudah cukup. Senyuman masih menghiasi wajah Ara untuk saat ini.


Dia berhasil tidur tanpa memimpikan hal-hal gila lagi, entah efek obat dari dokter atau dekapan nyaman Samuel.


"Abang udah pulang?"


"Kenapa?"


"Ara cuma nanya aja."


***


Keributan di markas karena pertengkaran kecil dari para anggota tidak membuat Samuel yang tengah terlelap di sofa panjang terbangun.


Sejak meninggalkan rumah sakit, Samuel malah melanjutkan tidurnya di markas meski sudah tahu kegaduhan sering kali terjadi di sana.


"Kumat lagi," celetuk Dito melirik Samuel.


"Kayaknya El emang banyak masalah deh. Dulu pas Sasa meninggal dia juga gini, tidur mulu bawaanya," timpal Ricky.


Memang Samuel jika banyak pikiran dan terlalu lelah, maka laki-laki wajah dingin itu akan gampang tertidur meski terdapat keributan.


"Woy kalian udah liat berita belum!" teriak Rayhan dari lantai atas membuat anak-anak Avegas beralih padanya.


Langsung saja Keenan memeriksa ponselnya dan melihat berita trending untuk hari ini. Dia melirik Dito.


"Ulah lo?" tanya Keenan.


"Hm."


"Gercep lo," puji Keenan.


Bagaimana tidak, nama mereka benar-benar bersih dari kasus tersebut. Tidak ada panggilan polisi sama sekali.


Bahkan tersangka yang menyatakan telah membunuh dengan luka tusukan adalah teman gengnya sendiri.


"Gue nggak yakin Saga mati," celetuk Azka.


"Kenapa?"


"Terlalu mudah," jawab Azka lagi.


"Tapi di berita ada dua orang meninggal dengan luka tusukan diperut. Bukannya malam itu El cuma nusuk dua orang ya? Mana jaket mereka sama lagi."


"Lo tau manipulasi?" tanya Azka.


"Hm."


"Entah trik apa lagi yang Sagara mainkan, intinya terlalu mudah kalau dia benar-benar mati." Azka beranjak dari duduknya. Sudah sore, dia harus pulang karena pernikahannya berlangsung besok. Ini saja Salsa sudah mengirim pesan tiada henti untuk menyuruhnya pulang dan tidak membuat masalah lagi.


"Pura-pura percaya aja biar dia senang!" teriak Azka sebelum menghilang dibalik pintu.


"Mati alhamdulillah, nggak mati syukurilah," celetuk Dito. "Intinya tetap waspada."


"Betul-betul-betul," sahut Rayhan dengan cengiran.


"Pusing gue bro. Masalah Sagara sama Leo nggak ada akhirnya," gumam Keenan menyendarkan tubuhnya pada sofa. "Belum lagi kita bakal ujian."


"Ingat kata pak ketua. Jangan sering-sering nongkrong di markas, apalagi pakai jaket kebanggan Avegas," timpal Rayhan.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.