
"Oh iya, namaku adalah Manji Triasta. Panggil saja Manji." Kata orang itu memperkenalkan dirinya dengan senyuman.
"Manji? Oh... ternyata kau. Kupikir entah siapa." Kata Lang biasa saja.
"Kau tidak terkejut kalau ini adalah aku!? Sungguh kejam kau Lang." Kata Manji pura-pura sedih.
"Kenapa aku harus terkejut? Emangnya kau hantu?" Tanya Lang.
"Eehhh?! Kau selalu dingin seperti biasanya. Yaudah deh, lupakan saja." Jawab Manji merasa kecewa.
Lalu mereka pulang bersama. Manji adalah seorang anak dari sahabat Ibu Lang. Manji mengenal Lang pada saat mereka berusia 10 tahun, mereka dulu sering bermain bersama.
Saat sampai ke rumah, Lang melihat mobil Tantenya sedang parkir di halaman. Lang masuk ke rumah, lalu menyerahkan surat dari sekolah kepada kakeknya.
"Apa!? Surat pemanggilan? Kamu melakukan hal apa Lang?" Tanya Tante Lang.
"Mereka mengganggu aku membaca." Jawab Lang dingin lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar anak itu. Dia kembali berulah. Kalau begini caranya, sampai kapanpun dia tidak akan memiliki teman." Kata Tantenya mengeluh.
"Besok aku akan datang ke sekolah Lang dulu. Lalu pergi ke kebun." Kata kakek Lang.
"Tidak usah yah. Biar aku yang ngurus Lang, ayah ke kebun saja." Kata Paman Lang.
"Bukannya kamu ada rapat nanti di kantor?" Tanya kakek Lang ke pamannya.
"Rapatnya jam 12 kok. Palingan masalah Lang selesai paling lama jam 10." Jawab paman Lang.
"Kalau begitu, kalian menginaplah disini untuk malam ini." Kata nenek Lang.
"Baiklah bu." Jawab tante Lang.
Keesokan harinya, Lang berangkat sekolah bersama pamannya. Guru-guru menjelaskan perbuatan-perbuatan Lang, paman Lang meminta maaf atas perbuatan Lang.
"Kami telah mempertimbangkan hukuman untuk Lang." Kata Wali Kelas.
"Karena Lang memiliki nilai yang tinggi, kami tidak akan mengeluarkannya dari sekolah ini." Sambung Wali kelas.
"Namun, dia akan dipindahkan dari kelas 1.1 ke kelas 1.5. Kami harap Bapak dan keluarga lebih memperhatikan Lang." Sambung Wali kelas.
"Maaf. Kami akan lebih memperhatikannya. Terima kasih atas pemberitahuannya." Jawab paman Lang. Lalu dia pamit pulang.
"Lang, nanti kamu ikut bersama Bu Tia. Jika kamu ingin kembali ke kelas 1.1, kamu harus ubah sikapmu itu." Kata Wali kelas kepada Lang.
"Baiklah." Jawab Lang singkat.
Bel masuk pun berbunyi. Lang mengikuti Bu Tia menuju kelas 1.5. Bu Tia adalah Wali kelas 1.5, dia sangat ramah, semua murid selalu menyapanya setiap pagi.
"Anak-anak, kita mendapatkan teman baru. Dia dipindahkan dari kelas 1.1. Silahkan perkenalkan dirimu" Kata Bu Tia dan menyuruh Lang memperkenalkan diri.
"Nama saya Kiru Lang Kuarta." Kata Lang memperkenalkan diri. Lalu kelas pun hening.
"Anu... Hanya itu saja?" Tanya Bu Tia kepada Lang. Lang menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kamu duduk dikursi kosong yang ada di belakang Manji." Kata Bu Tia menunjukkan kursi.
Lang berjalan menuju kursinya. Para murid takut memandang Lang kecuali Lang dan si ketua kelas.
Lang tidak menanggapinya lalu dia pun duduk.
"Wah Lang, akhirnya kita sekelas ya. Apa kau terkejut saat melihatku?" Tanya Manji dengan girang.
"Tidak." Jawab Lang singkat sambil membaca buku.
"Kenapa kau tidak dikeluarkan saja. Jika kau dikeluarkan, sekolah ini bisa aman." Kata Ketua kelas itu dengan dingin.
"Jika kau ingin menanyakan hal itu. Tanya saja kepada guru." Jawab Lang dingin sambil membaca buku. Ketua kelas sangat mulai kesal.
"Sudahlah Kanja. Kamu kan ketua kelas, harus membuat aman dong." Kata Manji menenangkan ketua kelas. Ketua kelas bernama Kanja Masiro, dia memakai kacamata, dia juga tampan, tinggi dan pintar. Dia dimasukkan ke kelas 1.5 karena pernah terlibat perkelahian.
"Kanja... Apakah kau bisa mengajariku soal ini." Kata seorang siswi menanyakan salah satu soal matematika.
"Mey... Apa kamu mau ikut gabung dengan kami?" Tanya Manji dengan penuh kegirangan. Siswi itu bernama Sentia Meylia. Dia berpenampilan seperti kutu buku. Dia dimasukkan ke kelas 1.5 karena memiliki nilai rendah.
"Anu... Aku enggak mau membuat Lang merasa terganggu." Jawab Mey merasa takut.
"Tenang saja... Kan ada Kanja yang siap melindungimu." Kata Manji menggoda mereka berdua. Wajah mereka memerah. Lang tidak mempedulikan mereka dan membaca bukunya.
"Oh iya Manji... Kamu kok bisa sedekat itu dengan Lang?" Tanya Mey kepada Manji.
"Kami itu sudah kenal sejak kecil." Jawab Manji.
"Dari dulu Lang sudah bersikap dingin dan jarang berbicara." Sambung Manji.
"Jadi begitu ya... Apa waktu kecil kalian sering ngobrol?" Tanya Mey lagi.
"Tidak... Kami memang bersama, tapi hanya aku yang berbicara." Jawab Manji merasa sedih. Mereka pun tertawa.
"Jadi, kalian kenal dimana? Apa kalian satu SD?" Tanya Mey lagi.
"Tidak... Kami kenal dari Mendiang Ibu kami. Kalian tau! Ibu Lang..."
"Cukup...! Kalian terlalu menggangguku." Lang berdiri dan memotong pembicaraan Manji.
"Manji... Sudah kubilang, jangan pernah membicarakan Ibuku." Kata Lang yang mulai marah kepada Manji.
"Iya... iya... Aku salah... Maaf ya." Kata Manji sambil tertawa.
"Kau...! Jangan pernah lagi menanyakan tentang aku." Kata Manji marah dengan Mey. Mey menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau memarahi Mey. Padahal dia hany ingin berteman denganmu." Kata Kanja marah kepada Lang.
"Apa kau pikir aku takut denganmu!?" Sambung Kanja menarik kerah baju Lang. Lang mulai menatapnya dengan tajam.
"Lang... Jangan marah. Ingat janjimu untuk tidak berkelahi lagi." Kata Manji dengan takut. Dia mengetahui kalau Lang mulai marah.
"Lepaskan bajuku." Kata Lang dengan dingin. Para murid mulai takut dan melapor kepada Wali kelas.
"Aku akan melepas bajumu jika kau meminta maaf kepada Mey." Jawab Kanja dengan marah.
"Kanja... Cukup. Aku gak apa-apa kok. Kumohon jangan bikin kegaduhan dikelas." Kata Mey menenangkan Kanja.
"Wali kelas datang." Kata seorang murid.
Kanja melepas baju Lang. Bu Tia memarahi mereka berdua lalu menyuruh Lang meminta maaf kepada Mey. Lang menuruti kata Bu Tia dan minta maaf kepada Mey.
Saat dikelas, Manji minta maaf kepada Lang. Manji merasa kalau masalah ini darinya. Lalu, kelas kembali seperti biasa.