Lost Love

Lost Love
Part 53 ~ Benar-benar menjauh


Samuel menghampiri Ara setelah Sagara telah pergi. Laki-laki wajah dingin tersebut jongkok di depan Ara yang kini memeluk lututnya di atas kursi teras.


"Lo nggak papa?" tanya Samuel dengan ekpresi datarnya, jangan lupakan darah disudut bibir juga beberapa lebab merah di wajah.


Untung saja dia datang tepat waktu, atau dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Ara. Kalau saja tadi dia tidak mengikuti saran Rayhan, mungkin sekarang Ara ... Sudahlah, membayangkan saja rasanya Samuel ingin mengamuk sekali lagi.


Tangannya terulur untuk mengurai rambut panjang Ara.


"Lo nggak papa?" ulang Samuel dan dijawab anggukan oleh Ara.


"Masuk gih, makanya jangan buka pintu sembarangan!" omel Samuel berdiri.


Ara mendongak dan menatap Samuel sekilas. "Makasih udah nolongin Ara," lirihnya.


"Hm."


"Abang kenapa kesini?"


"Disuruh mami, bawain lo donat!" Samuel berjalan menuju motor untuk membawa dus donat yang sengaja dia beli di jalan.


Sama sekali laki-laki wajah dingin tersebut tidak disuruh oleh siapapun, hanya inisiatif sendiri. Tapi karena gengsi yang dia punya, makanya mengatas namakan Fany.


Samuel menyerahkan kotak tersebut pada Ara. "Masuk!"


"Iya."


Ara segera turun dari kursi dan masuk kerumahnya. Menutup pintu begitu saja tanpa mempersilahkan Samuel masuk.


Sementara yang ditinggalkan duduk di kursi teras seraya memejamkan mata. Menikmati rasa sakit yang kini mulai dia rasakan karena pukulan dari Sagara.


"Ternyata gini rasanya diacuhkan?" gumam Samuel, dia tersenyum miring. Aranya kini benar-benar telah berubah, tidak seperti Ara yang dulu perhatian padanya.


Ternyata rasa cinta bisa layu seiring berjalannya waktu jika tidak dipupuk setiap hari.


***


Ara terus berjalan dengan tatapan kosongnya, meletakkan kotak donat tersebut di atas meja ruang tamu dan ke kamarnya sendiri.


Dia merosotkan tubuhnya setelah sampai di kamar. Memeluk kembali lututnya yang bergetar hebat. Tatapan Sagara tadi sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan daripada Samuel.


"Ara takut bunda," lirih gadis imut tersebut.


Pikiran Ara sedang kacu karena terkejut, sampai melupakan siapa yang telah datang menolongnya, dan bagaimana kondisi laki-laki tersebut.


***


Langkah gadis imut tersebut berhenti ketika melihat kotak donat di atas meja. Dia menghampiri donat tersebut dan langsung teringat siapa yang membawanya semalam.


"Abang!" teriak Ara.


Dia langsung berlari menuju pintu untuk memeriksa apa Samuel sudah pergi atau tidak.


"Ara lupa sama Abang, maaf," lirih gadis imut tersenyum.


Dia kembali masuk ke rumahnya dan menuju dapur untuk bertemu bi Rini yang mungkin saja tidak tahu kejadian semalam karena tidur di rumah belakang.


"Bibi, donat Ara di masukin kulkas ya. Nanti Ara makan setelah pulang," ucapnya seraya menyantap omelet buatan bi Rini.


"Iya Neng. Oh iya, Neng Ara nggak tidur semalam? Itu kantung matanya hitam," ucap Bi Rini.


"Ara belajar biar pintar Bi ... Hehehe." Cengir gadis tersebut.


Setelah sarapan, dia segera berangkat ke sekolah tanpa jemputan dari siapapun. Terlebih hari ini Edgar tidak datang ke sekolah sebab menemani mamanya yang akan dioperasi.


Ara naik taksi seperti biasa, duduk di jok belakang seraya memainkan ponselnya.


"SMA Angkasan kan Neng?" tanya sopir taksi tersebut tersebut.


"Iya Ara mau sekolah. Kenapa pak?" tanya balik Ara, padahal sopir taksi itu hanya bertanya untuk memastikan.


Ara turun dari mobil setelah berterimakasih pada sopir taksi. Berjalan memasuki lingkungan sekolah di mana parkiran motor sudah dihuni oleh inti Avegas lengkap.


"Ab ...." Ara tidak melanjutkan ucapannya. Dia mengepalkan tangannya dan berlalu begitu saja tanpa menatap Samuel lebih dulu.


Ara berniat berterimakasih dan meminta maaf sekaligus, tapi urung ketika mengingat larangan Sagara semalam.


Gadis itu masih takut dengan tatapan yang dilayangkan Sagara.


"Ara!" panggil Samuel.


Ara semakin mempercepat langkahnya, namun sia-sia karena kaki panjang yang dimiliki oleh Samuel. Laki-laki itu menarik tangan tangannya agar berhenti.


"Kata mami, lo ...."


"Ara ada tugas Bang El, jadi harus pergi!" ucap Ara menarik tangannya dan berlari menjauhi Samuel.