
Samuel melirik Ara yang kini bersandar di pundaknya. Laki-laki itu menunduk untuk membisikkan sesuatu di telinga sang kekasih.
"Mau pulang?" tanya Samuel meski jarum jam baru menunjukkan angka 11 malam.
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara masih mau sama Abang di sini. Besok hari minggu jadi nggak papa," jawabnya meski rasa mengantuk sudah menyerang.
Samuel menselonjorkan kaki kanannya, kemudian menepuk paha yang terbalut celana kain berwarna cream itu.
"Tidur sini!"
"Ara?" tanya Ara tidak percaya dan dijawab anggukan oleh Samuel.
Laki-laki itu tersenyum tipis melihat keantusiasan Ara tidur di pangkuannya. Meski sibuk bercerita dengan teman-temannya, tangan Samuel tidak pernah berhenti mengusap kepala Ara.
"Jadi gimana ini? Jadi nggak besok?" tanya Rayhan.
"Nggak usah, selidiki di markas aja. Bentar lagi kita ujian, sebaiknya hindari sesuatu yang buat kita terluka," sahut Azka.
Sebenarnya mereka merencanakan sesuatu untuk melawan Leo, tapi urung sebang kurangnya bukti pembunuhan juga Azka tidak ingin teman-temannya terluka hanya karena masalahnya dengan Salsa.
"Gila sih, nggak nyangka banget gue kalau Leo ...." Ricky mengigit bibir bawahnya melihat Salsa datang dan duduk di samping Azka. Tidak ingin gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Leo kenapa?" tanya Salsa.
"Nggak ada," jawab Azka.
"Jangan tawuran!" perintah Salsa.
"Nggak Sal."
Azka melirik teman-temannya. "Nggak ada niatan buat pulang lo pada? Gue ngantuk."
"Hilih, ngantuk apa ngantuk tuh," cibir Rayhan.
"Paling mau dikelonin sama istri tercinta," timpal Ricky.
"Ya udah pulang aja kita. Bocil gue juga udah tidur ini," sahut Samuel ketika menyadari Ara sudah tertidur di pangkuannya.
"Kuylah, kasian pengantin baru pengen romantis-romantisan." Keenan bangkit dari duduknya dan mengambil jaket di sofa.
"Bagus dah kalau ngerti, buruan pergi!" desak Azka dengan wajah datarnya.
"Ka, jangan gitu ih sama teman sendiri," tegur Salsa takut sahabat-sahabat Azka tersingung, padahal itu tidak akan terjadi sebab inti Avegas sudah saling mengenal sejak lama.
Azka melirik Samuel yang belum juga bangkit dari duduknya. Laki-laki dingin itu sibuk memasukkan ponsel di tas kecil Ara.
"Mobil lo," jawab Samuel.
Azka mengangguk mengerti, langsung mengeluarkan kunci mobilnya dan menyerahkan pada Samuel. Tidak lupa mengantar sampai di depan rumah. Memperhatikan sahabatnya yang tengah rempong membawa Ara dengan tas kecil di lengan kanan.
"Tingkatkan bro, gue suka lo peduli sama Ara." Azka menepuk pundak Samuel sebelum masuk ke mobil.
Sementara inti Avegas lainnya telah pergi.
"Hm," gumam Samuel. Dia membunyikan klakson mobil sebelum melajukannya perlahan-lahan.
Sepanjang jalan, Samuel mengenggam tangan Ara yang terasa sangat dingin. Mungkin karena udara malam.
"Untuk kali pertamanya gue merasa beruntung karena lo bodoh dan lemot Ra. Mungkin kalau nggak, lo udah ninggalin gue seperti kata mami," gumam Samuel mengecup tangan Ara yang tersemat cincin tunangan mereka.
"Gue suka sama lo Ra. Apa lo dengar?"
Tidak ada sahutan apapun dari gadis imut itu, pertanda Ara benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Samuel memutar setir kemudi memasuki halaman rumah orang tua Ara. Melepas pengaman miliknya untuk lebih leluasa bergerak dan menikmati wajah yang terlihat sangat damai tersebut.
Dia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi penglihatannya. "Gua sadar nggak pantas dapat hati lo setelah apa yang gue lakuin Ra. Tapi gue terlalu egois buat milikin lo kembali. Ara, jangan ragukan apalagi bertanya apa gue cinta dan sayang sama lo karena jawabannya cuma satu. IYA. Dan selamanya jawaban itu nggak bakal berubah," gumam Samuel menatap Ara penuh cinta.
Cup
Samuel mengecup pipi Ara sebentar. "Jangan pernah sakit apa lagi alasannya gue."
"Eeeuugghhh."
Samuel sontak menjauhkan tubuhnya ketika Ara mengeliat. Buru-buru dia turun dari mobil untuk mengendong Ara memasuki rumah.
Samuel berharap apa yang dia katakan tadi tidak didengar oleh Ara meski sepenggal kalimatpun. Jika iya, dia akan sangat malu menghadapi Ara nantinya.
Bukankah konyol mendapati kenyataan bahwa dia yang menolak keberadaan gadis imut itu, dan dia sendiri jugalah yang mengigingingkannya kembali?
"Akhirnya kalian pulang juga. Langsung bawa ke kamar aja Nak," sambut Deon di ambang pintu.
...****************...
Jangan lupa like dan ramaikan kolom komentar.
Follow ig otor @Tantye005, Tiktok @Authorbucin💘