
Ara merebahkan tubuhnya di pangkuan sang ayah seraya memeluk Elara. Jangan lupakan permen di mulutnya sejak tadi selalu menempel.
Gadis itu tengah menikmati udara dingin setelah hujan di samping rumahnya bersama Deon, bermanja-manja seperti biasa.
"Kenapa semua kunci jendela sampai rusak, Sayang?" tanya Deon sembari mengelus rambut indah putrinya.
Sementara yang ditanya sibuk memejamkan mata.
"Ara?"
"Abang yang rusakin Yah, katanya biar nggak lupa dikuci sama Ara. Abang nggak mau Ara dalam bahaya," jawab Ara.
"El keliatan sayang banget sama Ara. Pasti selama ditinggal Ara senang banget."
"Abang emang sayang sama Ara, Ayah. Abang nggak pernah buat Ara nangis terus sedih. Abang selalu buat Ara tertawa bahagia." Dengan antuisias dan raut wajah meyakinkan, Ara menceritakan hal-hal yang hanya membuatnya bahagia, sementara hal menyakitkan dia simpan seorang diri.
Gadis imut itu bangun dari tidurnya ketika bundanya datang membawa tiga gelas minuman hangat. Susu untuknya, kopi untuk Deon dan Kirana Teh.
Ketiganya menikmati momen di sore hari dengan penuh senyuman dan kebahagiaan.
"Ntar malam jadi ikut sama Abang, Nak?" tanya Kirana.
Ara mengangguk. "Nanti Abang jemput Ara jam 8 malam." Dia menoleh pada ayahnya. "Bolehkan Ayah?" tanyanya memastikan.
"Boleh dong asal sama Abang. Tapi pulangnya jangan terlalu larut meski malam minggu."
"Siap Ayah!" pekik Ara penuh kegirangan.
Gadis itu beralih menikmati susu hangatnya dan sesekali mendengarkan obrolan-obrolan orang tua sebatas pekerjaan. Kadang Ara ikut menimpali jika merasa tidak mengerti.
"Jadi Ayah bakal pergi lagi?" Senyuman Ara mengendur mendengar fakta bahwa ayahnya akan kembali ke negera orang. Padahal dia sangat berharap bisa bersama-sama lagi seperti dulu.
"Hanya beberapa minggu Nak, cuma ngurus kepindahan dan menetap di sini. Bunda kan bakal tinggal sama Ara."
"Janji pulang lebih cepat?" Ara mengulurkan jari kelingkingnya dan disambut hangat oleh Deon.
Senyuman Ara kembali mengembang, apalagi ketika kedua manusia paruh baya itu memeluknya sangat erat.
"Ara sayang sama bunda dan Ayah!" teriak Ara.
"Apapapun bakal ayah lakuin buat anak ayah satu-satunya ini bahagia. Dan ayah bakal beri pelajaran sama orang-orang yang berani nyakitin apalagi buat bidadari ayah menangis," lanjut Deon mengelus pipi cubi Ara.
"Termasuk Abang?" tanya Ara memastikan.
"Tentu saja. Ngomong sama ayah kalau Samuel nyakitin kamu! Ayah bakal bawa kamu pergi jauh sampai nggak bisa ketemu lagi," jawab Deon tanpa keraguan dihatinya.
Meski sering kali Deon mendapat hinaan dari rekan kerjanya karena sikap Ara yang terlalu ke kanak-kanakan dan terkesan mempemalukan. Deon sama sekali tidak pernah menyesal mempunyai anak seperti Ara.
Malahan sangat beruntung telah dikaruniai gadis cantik dan mengemaskan seperti Ara.
Deon tersenyum, meraih tangan Kirana dan mengenggamnya erat. Dia merasa menjadi laki-laki paling beruntung mendapatkan dua perempuan cantik dihidupnya.
Jika Deon dan Kirana sejak tadi saling melempar senyum, maka berbeda dengan Ara yang tengah memikirkan perkataan ayahnya.
"Ara nggak boleh nangis, terus nggak boleh ember biar Ayah nggak bawa ara pergi," batin gadis imut itu.
Ara sangat takut kalau saja ayahnya tahu apa yang telah dilakukan Samuel sebelumnya.
"Sayang?"
Ara tersentak saat Deon menepuk pundaknya. Gadis imut itu segera berdiri seraya mengendong Elara.
"Ara mau ke kamar dulu Ayah-Bunda. Dadah," ucap Ara dan berlari ke kemarnya, tidak lupa menutup pintu rapat-rapat.
Harus kalian tahu, semua jendela terutama pintu balkon kamar Ara sudah kembali seperti sediakala. Bisa dibuka dan ditutup. Ini semua karen Deon memperbaikinya sendiri.
Lirikan mata Ara tertuju pada benda pipih yang tegelatak di atas ranjang, dia meraih benda itu dan terkejut melihat panggilan tak terjawab dari mami Fany.
Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi terdapat banyak. Langsung saja gadis imut itu menghubungi Fany.
"Mami kenapa telpon Ara?" tanya Ara setelah sambungan telpon terhubung.
"Abang ...."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.