Lost Love

Lost Love
Part 26 - Samuel Berubah?


Jam 9 malam, Samuel belum juga bisa keluar dari markas karena di sandera oleh ketuanya. Jika Azka sudah turun tangan untuk menasehati, itu berarti yang dia lakukan sangat keterlaluan.


Samuel menyandarkan kepalanya sembari mendengar ceramah panjang lebar Azka.


"Lo cowok El, lo lebih dewasa dibanding Ara, harusnya lo bisa ngertiin dia. Gue nggak bela siapapun di sini, karena pada dasarnya kalian sama-sama salah. Lo kenal Ara mungkin dari bayi, harusnya lo ngerti sifat dia gimana."


"Benci boleh tapi sampai nyakitin, namanya nggak waras. Kalau lo memang nggak suka sama dia, it's okey tinggalin atau cuekin, jangan main tangan!"


Samuel hanya mengangguk sebagai respon, dia sama sekali tidak menyangkal apapun.


"Lo ngelanggar aturan Avegas, jangan injakkan kaki di markas selama satu bulan full!" ucap Azka sebagai akhir dari pembicaraan.


Memang aturan main fisik pada seorang perempuan tertulis jelas di mading yang ada di rumah sederhana tersebut. Bukan hanya untuk inti Avegas, tapi semua anggota, sebab ketua Avegas sendiri tidak suka kekerasan.


"Pak ketu," celetuk Rayhan.


"Hm."


"Nggak jadi, selamat ngebucin!" cengir Rayhan tidak berani mengutarakan isi pikirannya setelah melihat tatapan tajam Azka.


"Pulang kuy, nggak suka gue dekat-dekat sama cowok yang sukanya main fisik!" sindir Rayhan mengikuti langkah Azka keluar dari markas.


Untung saja mereka berada di ruangan rahasia jadi anggota Avegas lainnya tidak tahu masalah Samuel.


Sepeninggalan inti Avegas, Samuel juga beranjak dari duduknya dan bersiap-siap pulang. Bukan ke Mansion, tetapi kerumah Ara. Untuk minta maaf? Entahlah.


Samuel melajukan motornya dengan kecepatan sedang hingga sampai di depan rumah Ara. Alisnya saling bertaut melihat mobil yang sangat dia kenali.


"Mami ada di rumah Ara?" guman Samuel.


Laki-laki itu melangkah perlahan, mengucapkan salam sebelum masuk. Suara seorang gadis menyahuti salamya.


"Abang mau jemput Ara juga kayak Mami? Ara nggak papa kok, cuma deman dikit," ucap Ara menyambut kedatangan Samuel.


"Hm."


"Abang ...." Tangan Ara terulur ketika melihat wajah tampan tunangannya babak belur, bahkan sudut bibirnya terdapat darah kering.


"Mami, Abang luka!" teriak Ara membuat Fany yang tengah membereskan pakaian Ara, berjalan menghampiri.


Wanita paruh baya cantik itu sengaja datang malam-malam untuk menjemput Ara setelah mendapatkan kabar dari bi Rini bahwa Ara demam. Sekalian saja Fany mengemas pakaian Ara dan tinggal dimansion untuk beberapa waktu.


"Bukan Mam."


"Duduk dulu, biar Mami ...."


"Ara aja yang obatin Abang Mam, Ara pintar kok, kan cita-cita Ara jadi dokter." potong Ara menarik tangan Samuel menuju ruang keluarga.


Untung saja laki-laki wajah dingin itu tidak memberontak jadi Ara tidak kewalahan manariknya.


"Abang duduk dulu, Ara ambil obat!" ucap gadis imut tersebut dan meninggalkan Samuel seorang diri.


Laki-laki wajah tampan itu menatap kepergian Ara dengan berbagai pikiran di kepalanya.


"Apa selama ini gue terlalu kejam?" gumam Samuel.


Memang Samuel tidak sadar, karena tidak ada yang menegur dirinya, bahkan Ara sekalipun. Jadi dia mengira hal itu tidak sakit sama sekali bagi Ara.


"Abang mikirin apa?"


"Nggak ada," jawab Samuel acuh, mengalihkan perhatiannya ke arah lain karena tidak ingin menatap Ara.


Dia membiarkan gadis imut itu mengobati luka lebab di wajahnya karena memang sedikit perih, juga ada Fany di rumah.


Samuel tidak mungkin memperlakukan Ara kasar jika ada maminya.


"Romantis banget putra sama calon mantu Mami," celetuk Fany ketika melewati keduanya.


"Ara senang bisa berguna buat Abang, bisa ngobatin lukanya," celetuk Ara.


"Lo doain gue luka?" tanya Samuel dengan suara dinginnya membuat Fany tertawa.


"Bu-bukan itu maksud Ara. Ara cuma senang aja." gugup Ara.


Lama gadis imut itu mengobati luka di wajah Samuel, hingga tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam.


Fany kembali menghampiri kedua manusia berbeda generasi itu. Ternyata Ara sudah tertidur di pangkuan Samuel. Catat dipangkuan Samuel entah karena apa Ara bisa tidur di sana.


"Mami senang liat kamu bisa sayang sama Ara meski di paksa Nak. Jangan kecewain Mami sama Papi ya El!"