Lost Love

Lost Love
Part 115 ~ Kesalahan fatal


"Jadi begini perlakuan kamu sama Ara El? Apa Sasa alasannya kamu bermain fisik sama gadis sebaik Ara, jawab mami!" bentak Fany dengan air mata yang mulai berderai membasahi pipinya.


Rasa kecewa menjalar mengitu saja di hati wanita paruh baya tersebut setelah tahu apa yang dilakukan putranya pada seorang gadis tidak bersalah seperti Ara.


"Maafin El Mam ...."


"Benar?"


"Iya," lirih Samuel menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat pancaran mata maminya.


Brugh


Fany jatuh terduduk di atas lantai tanpa pengalas apapun, rasanya dia tidak ingin mempercayai semua yang ada.


"Dan kamu mulai balik sama Ara setelah pacar kamu meninggal Nak? Apa Ara hanya pelampiasan untuk mengisi ke kosongan hatimu? Kenapa kamu tega ngelakuin ini semua Samuel. Kamu bukan cuma nyakitin hati Ara, tapi hati mami juga." Fany terisak pilu dan itu berhasil menyentil ulu hati Samuel.


Laki-laki wajah dingin itu ikut merosotkan tubuhnya ke lantai, memeluk tubuh bergetar Fany. "El cinta sama Ara mam, Ara bukan pelampiasan. El mohon jangan ...."


"Kalau pacar kamu nggak bunuh diri, apa kamu bakal liat perjuangan Ara?"


"Mam." Tengorokan Samuel tercekat, sulit rasanya menyangkal setiap kalimat yang keluar dari wanita yang telah melahirkannya kedunia.


Sekarang dia sadar, bukan hanya menyakiti hati Ara. Tapi dia juga telah menyakiti hati orang-orang tersayangnya.


"Andai Ara gadis yang normal dan berpikir seperti kebanyakan gadis pada umunya. Mungkin sekarang kamu nggak bakal liat Ara lagi Nak. Nggak ada perempuan yang akan sanggup menderita fisik maupun batin hanya karena laki-laki."


"Mami, El minta maaf. El tau semua yang El lakukan pada Ara nggak bisa dimaafkan begitu saja. El mohon jangan ngomong sama siapapun dan jangan pisahin El sama Ara," lirih Samuel memeluk tubuh maminya sangat erat.


Tidak terasa air mata ikut menetas membasahi pipinya. Menangis karena penyesal dan rasa takut yang teramat sangat di hatinya. Andai saja dulu dia tidak bodoh dan memperlakukan Ara dengan baik, maka hal seperti ini tidak akan terjadi.


Tubuh Samuel terhempas Fany mendorongnya cukup kuat. Wanita paruh baya itu berdiri tanpa ingin menatap putranya.


"Apa harus mami ngasih kesempatan untuk ketiga kalinya?" tanya Fany.


"Mami, kali ini aja tolong dengarkan Samuel. Samuel janji bakal buat Ara bahagia, nggak buat dia sedih, menangis apalagi terluka."


Samuel memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. "El udah berubah, tapi kalau kesalahan El harus dibayar dengan kehilangan Ara ...." Samuel bangkit dari duduknya. "Maka Mami juga harus kehilangan Samuel!"


Usai mengatakan itu, Samuel keluar dari kamarnya dan berjalan dengan cepat menuju lantai dasar.


"Samuel!"


Samuel tidak mendengarkan panggilan maminya, terus berjalan hingga sampai di garasi. Mengambil motor dan melajukan dengan cepat meninggalkan mansion.


Motor hitam merah itu malaju tanpa arah dengan kecepatan di atas rata-rata sebab yang orang mengenderainya tengah menahan emosi yang sangat besar.


***


"Sayang, ada apa?" tanya Daren menghampiri istrinya di anak tangga ketika mendengar teriakan wanita paruh baya itu.


"Apa aku terlalu sibuk sampai nggak bisa ngertiin anak kita?" tanya Fany menatap suaminya dengan mata memerah.


Daren yang tidak mengerti situasi hanya bisa memeluk Fany dan mengelus punggungnya. Mengecup kening Fany berulang kali.


"Kamu udah jadi ibu yang baik Sayang. Nggak ada yang salah tentang didikanmu," bisik Daren.


"Apa yang terjadi, hm? Kamu bertengkar sama anak kita?" tanya Daren.


Fany mengeleng dalam pelukan suaminya. Mendengar ancaman Samuel tadi, membuat Fany tidak bisa melakukan apapun. Samuel adalah anak satu-satunya dan dia tidak ingin kehilangan putranya itu.


"Lalu kenapa Samuel pergi dalam keadaan marah, Sayang?"


"Aku juga nggak tau, dia dapat telpon dan pergi begitu saja. Mungkin terlalu mendesak makanya buru-buru. Aku manggil tadi karena khawatir."


"Jangan terlalu khawatir, putra kita bisa jaga diri. Sekarang kita ngunjungin Oma aja, kata pelayan oma udah bangun. Bentar lagi juga Mama datang," bisik Daren menenangkan.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.