
Ara mengigit bibir bawahnya setelah mendengar kabar dari mami Fany. Ada rasa khawatir di hatinya mengetahui Samuel belum juga pulang padahal sudah sore. Bahkan laki-laki wajah dingin itu tidak menjawab satu panggilanpun dari mami Fany.
"Kok Abang bisa marah sama Mami? Bukannya Abang selalu nurut ya sama mami?" lirih Ara entah bertanya pada siapa. Pasalnya dia hanya seorang diri di dalam kamar, sambungan telpon pun sudah terputus.
Ara segera menghubungi Samuel seperti permintaan mami Fany tadi. Panggilan kedua hingga ketigapun tidak ada jawaban sama sekali.
"Apa Abang sama kak Keen?" gumam Ara.
Langsung saja gadis imut itu beralih menghubungi Keenan. Tidak butuh waktu lama panggilannya dijawab.
"Kenapa Ra? Nyari El ya? Lagi tidur," ucap Keenan yang peka. Jika Ara sudah menelponnya, maka yang dicari hanya Samuel.
"Abang baik-baik aja?"
"Memangnya dia kenapa? Lo mau cerita?" tanya balik Keenan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Toh dia tidak punya kuasa untuk masuk-masuk kehubungan mereka. Terlebih Samuel tidak meminta bantuan sama sekali.
"Boleh?" tanya Ara sedikit tidak enak.
"Boleh dong."
Lagi dan lagi Ara mengigit bibir bawahnya seraya menunggu Keenan membangungkan Samuel di seberang telpon. Senyuman Ara mengembang sempurna mendengar suara serak kekasihnya.
"Kenapa lo?"
"Abang berantem sama mami?" tanya Ara hati-hati.
"Bukan urusan lo! Nggak usah ikut campur!"
"Mami tadi telpon Ara terus nangis-nangis. Mami khawatir sama Abang dan nyuruh abang pulang."
Hening, tidak ada sahutan di seberang telpon. Hanya deru nafas yang sesekali Ara dengar.
"Ara ganggu?"
"Nggak."
"Abang mau pulang kerumah kan?"
"Nggak."
"Ara nggak bakal ninggalin Abang apapun yang terjadi. Mami juga nggak bakal ngomong sama siapapun kok Bang. Jadi Abang nggak perlu khawatir. Ara suka sama Abang dan nggak bakal pergi jauh," ucap Ara panjang lebar.
Memang saat di telpon tadi, mami Fany sempat meminta maaf padanya atas pelakuan Samuel dulu. Padahal dia sama sekali tidak mempermasalahkan semuanya.
Samuel berada di dekatnya sudah cukup bagi Ara.
"Udah dulu ya Bang, Ara mau mandi sore dulu dan nunggu Abang jemput. Dadah Abang Sayang."
Tut
Kenapa harus mami? Padahal selama ini Ara menyimpannya rapat-rapat agar tidak dipisahkan oleh ayahnya sendiri.
"Nak!"
Lamunan Ara buyar seketika mendengar panggilan ayah Deon.
"Kenapa Yah?"
"Mau olahraga sama ayah nggak? Kita lari-lari sore yuk." Deon menyembulkan kepalanya di balik pintu dan itu terlihat lucu di mata Ara.
Ayahnya memang tegas dan menyeramkan, tapi tidak jika berada di sekitarnya. Deon, pengawal berdarah dingin yang pernah berada di sekitar Daren saat menjadi bintang, dan hanya Kirana yang bisa meluluhkan hatinya sampai sekarang ini.
"Ara nggak mau olahraga, Ara capek," tolak Ara.
"Yah ayah sendirian dong."
Ara terkikik geli setelah ayahnya telah pergi dan menutup pintu. Gadis imut itu segera mandi sore dan belajar sebentar sebelum pergi malam minggu bersama sang kekasih.
***
"Jadi?" tanya Keenan.
Samuel melirik sekilas dan kembali fokus pada layar tv. Laki-laki wajah dingin itu sekarang berada di kamar Keenan bermain game.
"Nggak ada," jawab Samuel.
"Sagara?"
"Belum, dia sedang masa pemulihan di suatu kota. Apa harus gue bunuh dia?" tanya balik Samuel.
Memang Samuel sudah tahu dimana keberadaan Sagara, tapi belum bergerak karena laki-laki itu berada di rumah sakit yang jauh dari kota.
"Belum waktunya, lebih baik lo fokus sama masalah lo dan Ara dulu. Uangkapin rasa cinta lo sebelum terlambat El. Mau selemot apapun perempuan, mereka membutuhkan kepastian untuk tetap bertahan," nasehat Keenan.
"Perjuangan ada batasnya dan rasa lelah cepat atau lambat akan datang. Sekeras apapun batu, jika terus terkikis air bakal hancur juga El. Hatipun seperti itu."
Samuel kembali melirik Keenan yang kini dalam mode serius.
"Gue udah ngomong pas Ara tidur."
"Goblok kok diperlihara!" kesal Keenan. Padahal sejak tadi dia dalam mode serius hanya untuk menenangkan sahabatnya yang tengah emosi.
...****************...
Jangan lupa like dan ramaikan kolom komentar.