Lost Love

Lost Love
Part 44 ~ Mulai menjauh


"Sayang, mami kangen banget sama Ara. Kok nggak pernah ke mansion sih? Mami suruh jemput sama Abang ya?"


"Ja-jangan Mam, Ara lagi sibuk belajar biar pintar. Nanti Ara ke mansion kalau hari libur," tolak Ara halus karena tidak ingin bertemu dengan Samuel.


Gadis imut itu sedang berusaha untuk menjauh meski rasanya sangat sulit.


"Ara ada masalah sama Abang? Suaranya kok beda? Sekarang juga Ara makin dewasa ya cara bicaranya, Mami jadi kehilangan bayi mami." ucap Fany lagi di seberang telpon. Untung saja tidak melakukan video call atau Fany akan melihat mata Ara yang tengah berkaca-kaca.


"Nggak ada Mam, kan Abang baik sama Ara," bohongnya. "Udah dulu ya Mam, Ara mau mandi sore."


Ara langsung memutuskan sambungan telpon ketika mendapat persetujuan dari mami Fany. Gadis imut itu segera mandi sore agar lebih segar saat akan tidur.


Dia berjalan ke dapur untuk bertemu bi Rini.


"Bibi, Ara mau minum susu," ucapnya duduk di meja pantri.


"Tunggu bentar ya Neng, bibi buat dulu," sahut bi Rini segera membuat susu sesuai perintah majikannya.


Ara hanya mengangguk dan segera meninggalkan dapur ketika mendengar motor berhenti di depan rumahnya. Senyuman Ara mengembang ketika melihat Keenan berdiri di sana seraya membawa kresek.


"Kak Keen?"


"Hm, katanya lo mau permen tapi takut keluar sendiri, jadi gue beliin," ucap Keenan memberikan kresek yang dia bawa.


Tadi saat di markas, Keenan tidak sengaja melihat instagram Ara dengan caption.


Perman Ara habis tapi takut keluar rumah😔


Senyuman Ara mengembang. "Makasih kak Keen."


"Sama-sama cantik. Masuk gih, bentar lagi gelap! Gue balik dulu."


Ara mengangguk antusias dan segera masuk kerumah tanpa menunggu Keenan pergi lebih dulu. Gadis imut itu membuka permen rasa coklat kemudian mencelupkan di susu yang telah dibuat oleh bi Rini.


"Enak banget permen Ara, coba ada Abang dia juga pasti .... Arakan musuhan sama Abang." Dia buru-buru meralat ucapannya sendiri.


***


Ara turun dari taksi seraya memperbaiki tas punggung pink yang ada di pundaknya. Jangan lupakan permen loli yang telah berada di mulut sejak pagi.


Langkah gadis imut itu memelan ketika mendapat ini Avegas berjejer rapi di parkiran sekolah, dia menunduk karena tidak ingin kelepasan menyapa tunangannya.


"Ara!"


"Milo, tungguin Ara!" teriaknya dan berlari menghampiri Edgar, dan itu semua tidak luput dari perhatian inti Avegas terutama Samuel.


Ara melirik Edgar ketika tasnya di ambil begitu saja, terlebih tubuhnya yang mungil membuatnya seperti anak Sd jika bersanding dengan Edgar ataupun Samuel.


"Kenapa tas Ara diambil?"


"Berat banget, lo bawa semua buku?" Edgar menjawab pertanyaan Ara dengan pertanyaan pula.


"Iya, soalnya Ara harus belajar lagi, kan minggu depan ujian semester. Milo mah enak pintar, Ara nggak," jawab Ara panjang lebar.


Edgar tertawa. "Nanti gue ajarin cara simpel belajar tuh gimana, biar nggak bawa buku banyak-banyak."


Edgar mengenggam tangan Ara memasuki kelas, meletakkan tas berat Ara di samping bangkunya.


"Duduk sama gue Ra!"


"Doni gimana?" tanya Ara.


"Katanya mau pindah ke belakang," bohong Edgar tapi Ara percaya-pecaya saja.


Sembari menunggu bel pelajaran berbunyi, Edgar sedikit mengajari Ara tentang rumus kimia yang ribetnya minta ampun, karena curiga hari ini kelasnya akan mendapat kuis dadakan dari guru kiler bernama Alvi.


"Edgar, Ara cape belajar rumus. Kita main game aja yuk!" ajak Ara mulai bosan, apa lagi hari ini pak Alvi tidak masuk karena ada urusan penting.


Pletak


Edgar menyentil kening Ara gemes. "Tadi ngebet belajar, giliran tau pak Alvi nggak masuk langsung malas, dasar!"


"Ara bosan."


"Ck, gemes banget sih tunangan orang." Edgar mencubit pipi Ara hingga sedikit memerah, membuat pemilik pipi semakin cemberut.


"Edgar jahat ih, cubit pipi Ara. Ara harus balas!" Ara naik ke atas meja dan membalas perlakuan Edgar pedanya, dengan mencubit pipi laki-laki itu juga.


"Ekhem!"


Aksi keduanya harus berhenti ketika 6 inti Avegas memasuki kelas.


"Abang?" lirih Ara segera memperbaiki duduknya.