Lost Love

Lost Love
Part 166~ BIFA


Kedatangan Samuel dengan raut wajah kusut, membuat inti Avegas saling menyenggol dan berbisik satu sama lain. Mereka mengira setelah diberi waktu selama dua hari, sikap Samuel akan berubah seperti dulu lagi.


Meski tidak ada senyuman, setidaknya tidak memancarkan aura-aura patah hati.


"Napa tuh anak?" bisik Rayhan pada Keenan.


"Tanya aja sendiri, lo kan sepupunya," sahut Keenan tanpa dosa.


Rayhan mendelik, laki-laki itu beranjak dan langsung mendaratkan tubuhnya tepat di samping Samuel yang baru saja duduk.


"Wajah lo belum disetrika?" tanya Rayhan asal sehingga mendapatkan tatapan tajam dari Samuel. "Aelah canda doang njir, sensi amat dah kek cewek," lanjut Rayhan langsung menjauhkan tubuhnya dari Samuel.


Keenan, Ricky dan Dito hanya bisa tertawa menanggapi tingkah Rayhan yang memang sering kali menguji kesabaran. Sementara Samuel mendaratkan punggungnya pada sandaran sofa sambil memejamkan mata.


"Gue bakal kuliah penerbangan," imbuh Samuel setelah lama terdiam.


Hanya ini yang bisa dia lakukan sebagai pencarian cintanya yang telah hilang.


"Anjir orang kaya mah bebas," hebo Ricky.


Bagaimana tidak, sekolah pilot atau pendidikan penerbagan bisa mengabiskan uang ratusan juta.


"Cuma 900 jt mah kecil kalau El," celetuk Rayhan mulai merendah padahal kekayaan orang tuanya sama saja.


"Semoga berhasil El, rencananya mau sekolah dimana lo?" celetuk Keenan.


Dengan Samuel memilih menjadi pilot, artinya laki-laki itu sudah siap berpisah bersama Avegas mungkin kisaran 1-2 tahun lamanya. Terlebih jika Samuel memilih sekolah di luar kota.


"BIFA, gue titip Avegas ya sama lo. Setelah berhasil gue balik." Samuel senyum samar.


Sebenarnya mengambil keputusan ini sangat sulit baginya. Meninggalkan Avegas, teman-temannya juga orang tua adalah hal yang sulit, tapi dia mengorbangkan semua itu demi Aranya.


Jika dulu Ara yang selalu berkorban demi dirinya, maka kali ini Samuellah yang berkorban demi Aranya.


Samuel membuka matanya saat merasakan tepukan dipundak. Dia melirik Dito yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Makasih udah ada buat gue, kalian teman terbaik yang pernah gue miliki!"


"Anjir air mata gue keluar sendiri dengar El ngomong makasih." Histeris Ricky langsung menghampiri Samuel dan hendak memeluknya, tapi urung saat tubuhnya di dorong cukup keras oleh Samuel.


Memang sejak dulu laki-laki dingin itu sangat anti berpelukan sesama jenis meski dalam keadaan haru atau genting sekalipun.


"Air mata gue masuk lagi njir karena kelakuan bang*sat lo itu!" kesal Ricky mengusap matanya yang memerah.


Bukan menangis, tapi mengantuk setelah begadang semalaman bersama Dito di markas.


***


Jam sembilan malam, barulah Samuel pulang ke Mansion dan mendapati orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga entah sedang membicarakan apa.


Tidak ingin menganggu, Samuel melewati ruangan begitu saja. Namun, langkahnya berhenti karena panggilan dari mami Fany.


"Duduk sini dulu El, mami sama papi mau bicara sama kamu!" panggil Fany.


Samuel menghela nafas panjang, meski begitu tetap saja menghampiri orang tuanya. Laki-laki itu duduk berhadapan dengan Daren. Keduanya masih belum akur sampai sekarang.


"Kamu benar mau jadi pilot? Yakin?" tanya Daren memastikan.


"El yakin Pih, dan El mau sekolah di BIFA ( Bali International Flight Academy )" sahut Samuel.


"Papi hargai keputusan kamu dan jangan kecewakan papi untuk kedua kalinya!"


Samuel mengangguk patuh, mungkin dulu dia berani pada papinya. Tapi setelah melihat kemurkaan Daren, nyali Samuel seketika menciut.


Dia melirik ke samping saat Fany mengelus lengannya penuh kasih sayang. "Semoga apa yang kamu ingingkan tercapai Nak," lirih Fany.


"Persiapkan saja dirimu, untuk urusan sekolah serahkan pada papi." Usai mengucapkan hal tersebut, Daren segera meninggalkan ruang keluarga.