
"Mau kemana lo?"
Langkah Samuel berhenti di ambang pintu UKS, membalik tubuhnya dan mendapati Azka yang tengah mengenggam tangan Salsa.
"Ara," jawab Samuel kelewat santai padahal baru saja membuat keributan di lapangan.
"Nggak dengar tadi guru Bk ngomong apa? Sana nyusul! Ara biar sama gue dan Salsa."
Samuel menghela nafas panjang, niatnya untuk menemui Ara akhirnya gagal. Laki-laki dingin itu melangkahkan kakinya menuju ruang BK untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah dia lakukan.
Membuka pintu perlahan dan mendapati pria paruh baya duduk membelakanginya. Tanpa menolehpun, Samuel tahu siapa pria itu.
Samuel langsung duduk di samping papinya yang ternyata dipanggil oleh pihak sekolah, padahal yang Samuel tau papinya sedang ada meeting penting hari ini.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada Samuel pak hingga saya dipanggil?" tanya Daren setelah meneliti penampilan putranya.
"Putra tuan Daren baru saja membuat kekacauan di sekolah dengan memukul adik kelasnya hingga masuk rumah sakit. Anda tahu sendiri pihak sekolah tidak memandang status orang tua siswa meski menjadi donatur tetap sekolah."
"Saya tau itu," sahut Daren meregangkan dasi yang sejak pagi mencekeknya. Pria paruh baya itu kembali melirik putranya yang terdapat lebab diwajah.
"Kena pukul sama adik kelas?"
"Pak Alvi," jawab Samuel.
Daren mengangguk mengerti, Alvi adalah menantunya dan tentu lebih dewasa dari Samuel jadi dia tidak keberatan akan hal itu.
Berbeda jika Samuel mendapat pukulan dari adik kelas, mungkin Daren akan mengejek putranya sebagai pemegang sabuk hitam.
"Karena apa?"
"Dia nampar Ara Papi, dan El nggak suka itu."
"Papi ngerti." Daren menepuk pungungg Samuel beberapa kali sebelum menatap guru BK.
"Putra saya hanya membela diri dan itu saya benarkan, tapi tetap saja harus dihukum karena melanggar peraturan sekolah. Hukum Samuel sesuai kebijakan sekolah, saya akan menerimanya dengan senang hati," ucap Daren langsung berdiri dari duduknya.
"Saya akan bertemu keluarga korban nanti, mari," lanjut Daren dan segera meninggalkan ruang BK setelah berjabat tangan. Meninggalkan putranya yang akan diberi sangsi karena melanggar aturan sekolah.
***
Di dalam UKS, Azka dan Salsa dengan setia menemani Ara yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin karena terlalu lelah hingga tidak menyadari keributan yang terjadi, terlebih letak UKS cukup jauh dari lapangan.
"Sini!" panggil Aksa menepuk kursi yang dia duduki. "Diluar hujan kamu pasti dingin," lanjut Azka.
Salsa tersenyum dan segera duduk satu kursi yang sama dengan Azka. Menikmati pelukan hangat sang suami. Dia menyandarkan punggungnya di dada Azka.
"Aku kira yang buat keributan kamu. Tau sendiri aku takut kamu terluka Ka."
"Nggaklah, kan aku udah janji nggak bakal buat keributan setelah nikah."
"Nggak percaya," cibir Salsa menikmati pelukan sang suami tapi tatapannya tertuju pada wajah damai dan mengemaskan Ara.
"Azka, Ara tuh gemesin ya? Dari cara bicara dan tingkahnya aku suka. Tapi sering sedih karena dikit-dikit dia teluka karena dekat sama Samuel. Kenapa sih kalian harus bentuk geng-geng gitu?"
"Gabut aja."
"Gabutnya nyeremin tau nggak," gerutu Salsa menyingkirkan tangan Azka dari perutnya ketika tidak sengaja menekan luka jahitan yang belum kering sepenuhnya.
"Kenapa?"
"Ketekan Ka."
"Oh, nggak sengaja." Cengir Azka segera mengendurkan pelukannya.
"Sal, tau kisah Sasa nggak?"
Salsa menganggukkan kepalanya. "Tau dari Rio. Sasa ternyata bukan khianatin Samuel, tapi dijadiin ajang belas dendam Leo ke Avegas karena tau Sasa pacarnya El. Benar kan?" tanya Salsa dan dijawab anggukan oleh Azka.
"El udah tau?"
"Tau apa?"
Salsa dan Azka langsung menoleh ke sumber suara, menelan salvinya kasar melihat Samuel berdiri tepat di belakang mereka.
"Om Deon lagi nyelidikin latar belakang penculikan Ara."
"Dapat?"
"Nggak, gue sama yang lain berusaha gagalin dan mantau jangan sampai om Deon ketemu Sagara," jawab Azka masih tidak ingin menceritakan kisah sebenarnya tentang Sasa yang membuat Sagara begitu dendam pada Samuel.
Azka juga baru tahu cerita Sasa yang sebenarnya dari mantan wakil geng Wiltar.
...****************...
Gimana part ini? Feelnya dapat nggak?
Semoga ya😙