
Ara, gadis dengan jas dokter tersebut duduk di sisi brangkar sambil menundukkan kepalanya, rasa canggung tiba-tiba menghampiri, terlebih Samuel terus saja menatapnya sejak tadi.
Ara tidak bisa pergi kemana-mana karena tanganya di genggam begitu erat oleh Samuel, untung saja hari ini tidak ada jadwal operasi untuknya.
"Tangan aku pegal," lirih Ara tanpa ingin menatap Samuel.
Hatinya sangat mudah luluh meski sudah memupuk kebencian terlalu lama, apalagi jika melihat pancaran mata Samuel.
"Nggak, gue nggak bakal lepasin!" sahut Samuel. Pria itu tidak menerima alasan apapun, takut kalau saja genggamannya terlepas, gadis yang dia cintai pergi dan tidak kembali lagi.
Pria itu merubah posisinya menghadap Ara setelah melepas jarum infus tanpa sepengetahun dokter cantik tersebut.
Darah di tangan Samuel dia hiraukan agar bisa menikmati wajah cantik kekasihnya. Tentu saja Ara masih kekasihnya, sampai sekarang Samuel tidak setuju berpisah.
"Setelah keluar dari rumah sakit kita nikah ya? Gue nggak terima penolakan!"
"Maksud kamu ap ... Samuel tangan kamu terluka!" pekik Ara melihat darah yang menetes di punggung tangan Samuel. Gadis itu lantas berdiri untuk mencegah pendarahan.
"Apa kamu tidak bisa memperdulikan diri sendiri? Selalu saja ceroboh dalam hal kesehatan. Memangnya kamu punya berapa nyawa hah?" Ara mulai mengomel lagi, sementara Samuel menikmatinya sambil mengulum senyum.
Memperhatikan Ara membalutkan perban di tanganya yang kebetulan ada di dalam laci nakas.
"Gue punya 9 nyawa kalau lo lupa," sahut Samuel. Tapi sekarang tinggal 8 setelah hampir mati beberapa tahun yang lalu."
Atensi Ara langsung tertuju pada Samuel, gadis itu penasaran apa yang menyebabkan Samuel hampir mati.
"Gue tau lo khawatir." Tersenyum tanpa dosa. Samuel tidak ada keinginan untuk menceritakan aksi bunuh dirinya karena merasa putus asa.
Saat ditinggal oleh oma tercinta juga tidak kunjung menemukan keberadaan Ara, rasanya dunia Samuel saat itu benar-benar hancur. Melompat dari jembatan adalah pilihannya. Namun, sialnya tubuh dan pikirannya tidak sejalan.
Tubuhnya berenang ke tepi meski sangat sulit karena berada di dasar laut yang dalam. Terlebih luka perih ditubuhnya karena dipukuli beberapa orang dengan pasrah sebab benar-benar ingin mati.
Gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur, tapi sayangnya ucapan Samuel kembali terdengar.
"Gue mau minum, tapi tangannya nggak sampai, nih lihat." Mengerakkan sedikit saja, padahal jelas-jelas itu bisa diraih.
"Ambil sendiri nggak usah manja. Kamu itu udah sehat!"
Ara urung mendekati Samuel yang sangat menyebalkan juga pemaksa, sifatnya melebihi dari anak-anak.
"Lo beneran nggak mau rawat gue?"
"Kalau iya kenapa?" tanya balik Ara.
"Ya sudah pergi!"
Ara menghela nafas panjang, segera membalik tubuhnya untuk pergi. Membuka pintu ruang rawat Samuel, baru saja akan melangkah, suara benda terjatuh ke lantai terdengar.
Ara kaget bukan main melihat bekas darah di sebuah pisau pemotong apel.
"Samuel, kamu gila!" bentak Ara dengan mata berkaca-kaca. Sungguh tindakan Samuel selalu berada di luar dugaan.
Lengan kiri pria itu mulai mengeluarkan darah segar, sebab baru digores oleh benda yang sangat tajam. Mungkin luka goresannya sepanjang 5 cm, entah kedalamannya.
"Gue memang gila sejak lo pergi. Bukannya nggak peduli, kenapa masih di sini?" Membiarkan darah terus mengalir tanpa Samuel cegah, bahkan tidak ada ringisan keluar dari bibir pria itu.
...****************...
Samuel menyebalkan🤕