
Tepat saat bel istirahat berbunyi, Ara langsung berdiri dari duduknya dan menarik tangan Edgar.
"Milo, ayo kita ke pinggir lapangan. Ara pengen liat orang main basket, pasti seru!" ajak Ara antusias.
"Tunggu Ra, gue nyimpen buku dulu," sahut Edgar segera membereskan buku-bukunya yang ada di atas meja.
Sebenarnya Edgar sedikit tidak enak badang, tapi dia juga tidak ingin membuat Ara sedih dengan menolak ajakan gadis imut tersebut.
Senyuman Edgar mengembang ketika tangannya di genggam oleh Ara cukup erat seraya berjalan keluar kelas.
"Lo nggak takut tunangan lo cemburu Ra?" tanya Edgar dan dijawab gelengan oleh Ara.
"Nggak, Abang nggak pernah marah kok kalau Ara dekat sama orang. Lagian kan Ara temenan sama Milo," sahut Ara terus saja berjalan menapaki satu persatu anak tangga menuju pinggir lapangan yang mulai dipenuhi oleh kaum hawa.
Pertandingan antar sekolah akan segera tiba sebentar lagi, dan SMA Angkasa akan menjadi tuan rumah kali ini, itulah mengapa para siswa mempersiapkan diri sesuai kemampuan masing-masing agar mengharumkan nama sekolah.
Inti Avegas ikut dalam pertandingan tersebut atas permintaan kepala sekolah langsung, padahal Azka sebagai ketua tim basket sudah mengundurkan diri ketika naik kelas beberapa bulan yang lalu.
Kini Ara dan Edgar duduk di pinggir lapangan menikmati latihan-latihan para cogan.
"Milo nggak ikut basket?" tanya Ara.
"Nggak, gue bakal sibuk persiapin yang lain jadi nggak bisa Ra."
"Gitu ya, padahal pasti Milo keren kayak Abang kalau main basket." Senyuman Ara semakin merekah dan fokus pada adik kelasnya yang tengah bermain basket melawan kakak kelas. Di antara mereka ada Azka dan Dito.
Tanpa Ara sadar sejak tadi Edgar terus mempertikan senyum cantiknya.
"Ra," panggil Edgar.
"Iya kenapa?"
"Nggak ada cuma manggil aja." Edgar langsung saja melepar pandangannya ke arah lapangan. Dia ingin mengatakan sesuatu namun ragu.
"Mama Milo baik-baik aja? Nanti pulang sekolah Ara mau jenguk lagi, boleh nggak?"
"Nggak usah deh, takutnya Mama nyaman sama lo," celetuk Edgar.
"Mama Milo nyaman sama Ara? Nggak papa, Ara suka kok rawat orang sakit. Ara mau rawat mama Milo sampai sembuh."
Edgar lagi-lagi tersenyum. "Andai lo mau jadi calon mantu mama gue Ra."
"Gitu ya?" Edgar menganggukkan-anggukkan kepalanya. Dia sedikit merendahkan tubuhnya kebelakang menggunakan tangan sebagai tumpuan. "Kalau gue suka sama lo, lo mau nggak jadi tunangan gue ...."
"Abang!" pekik Ara ketika Samuel tiba-tiba datang dan menarik kasar tubuh Edgar.
"Maksud lo apa hm? Lo mau rebut Ara dari gue?" tanya Samuel dengan kilatan amarah di matanya.
"Gue nggak punya urusan sama lo!" balas Edgar berusaha menghempaskan tangan Samuel dari kerah seragamnya, namun sia-sia karena cengkraman laki-laki wajah dingin itu terlalu kuat.
"Brengsek lo!"
Bugh
Samuel langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah Edgar, bahkan tidak segang-segang menendang perut adik kelasnya tersebut.
"Abang, jangan pukul Milo!" teriak Ara berusaha mengejar Samuel yang tengah menyeret Edgar hingga di tengah lapangan.
Edgar yang merasa dirinya tidak bersalah langsung saja membalas pukulan Samuel. Meski ada yang tepat sasaran ada juga yang meleset.
"Kalau iya kenapa hah?" balas Edgar.
"Bacot lo sialan!"
Brugh
Hanya dalam sekali tendangan tubuh Edgar terhempas di atas rumput, hingga segam putih abu-abu laki-laki itu kotor dan lusuh.
Samuel menghampiri Edgar, tidak ingin memberi ampun pada laki-laki yang secara tidak langsung mengungkapnya perasaanya pada Ara.
Baru saja akan kembali melayangkan tinjunya, teriakan Ara sudah menggema.
"Udah, jangan pukul Milo lagi. Ara nggak suka!" teriak Ara sekencang mungkin seraya memeluk tubuh Edgar yang kini terbatuk karena rasa sakit.
Gadis imut itu menangis seraya membatu Edgar agar bangun tanpa memperdulikan Samuel yang berdiri di belakangnya.
"Milo nggak papa? Maafin Abang," ucap Ara mengusap darah segar yang mengalir dihidung Edgar dan melap di seragam putihnya.
"Gue nggak papa."