
"Pulang Ra!" guman Samuel seraya berjalan meninggalkan makam Azka bersama yang lain.
Di makan itu hanya tersisa Salsa yang engang untuk pulang.
"Ara nggak mau pulang, Ara mau nemenin Abang hari ini," jawabnya di sertai gelengan kepala.
Samuel menghentikan langkahnya dan menatap Ara lekat. Meneliti dari atas sampai bawah.
"Balik ke sekolah ya? Nanti gue jemput setelah pulang," bujuk Samuel mengenggam tangan Ara.
Lagi-lagi gadis imut itu mengeleng. Ara tidak ingin pulang dan mau menemani Samuel saja.
"Pokoknya Ara nggak mau pulang apalagi balik ke sekolah. Abang tadi ngomong kalau hati Abang hancur jadi Ara mau nemenin."
"Ra, om Deon bakal ...."
"Ara nggak mau." Ara tetap pada pendiriannya.
Samuel menghela nafas panjang, dia memasangkan helm di kepala Ara tanpa berucap lagi. Suasana hatinya tidak baik-baik saja untuk berdebat.
Biarkan Ara ikut dengannya hari ini.
"Kita mau kemana Abang?" tanya Ara memeluk tubuh Samuel dari belakang. Menikmati angin dari atas motor yang telah melaju pelan bersama komplotan motor lainnya.
"Mansion."
"Ara mau," ucap Ara.
***
Ara mengembangkan senyumnya setelah berada di mansion. Dia melirik Samuel yang tampak murung di atas motor padahal telah sampai cukup lama.
Tangan Ara terulur untuk menyentuh tangan Samuel yang berada di setir motor. "Ayo Abang!" ajak Ara memecah keheningan.
"Ah ya," sahut Samuel.
Meski berusaha terlihat baik-baik saja kehilangan sahabatnya, sulit dipungkiri rasa sesak di dada tetap ada.
Andai saja malam itu Samuel tidak percaya kata-kata Azka yang mengatakan akan langsung pulang. Mungkin sekarang Azka tidak akan pergi.
"Abang jangan bengong mulu, nanti kesurupan. Ayo main sama Ara aja," celetuk Ara memeluk lengan Samuel memasuki kamar yang selalu terlihat bersih.
"Gue ganti baju dulu."
Kamar yang terasa sangat nyaman dan rapi. Deretan gigi rapi Ara terlihat ketika melihat sebuah foto tergeletak di atas nakas.
"Hihihi ... Abang nyimpen foto Ara." Gadis imut itu terkikik geli melihat fotonya sendiri yang bahkan dia tidak punya.
Foto candid saat dia berada di tengah lapangan SMA Angkasa.
"Ara bakal ngasih abang yang banyak," gumannya.
Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mengirimkan puluhan foto pada Samuel. Tentu saja yang paling cantik dan mengemaskan.
"Ngapain ngirim foto?" tanya Samuel yang telah kembali dengan setelan sederhana. Kaos biru dengan celana pendek.
"Biar Abang bisa liat kalau Ara jauh dan nggak bisa ketemu."
"Lo mau pergi?"
Ara mengelengkan kepalanya. "Nggak, tapikan Abang sama Ara nggak bisa 24 jam. Abang bentar lagi ujian dan kuliah jadi kita jauhan."
"Udah besar sekarang." Samuel tersenyum tipis. Mengacak-acak rambut Ara gemas. Naik ke tempat tidur dan menarik paha Ara agar bergeser ke tengah ranjang, terlebih sejak tadi Ara duduk sila.
"Belum tidur dari semalam." Entah itu informasi atau pertanyaan, Ara tidak tahu.
Namun, melihat Samuel yang mulai tengkurap dengan pipi berada di paha Ara sudah bisa mengerti semuanya.
"Ya udah Abang tidur aja yang nyenyak. Ara bakal nemenin Abang disini sampai Abang bangun nanti." Ara mengelus kepala Samuel penuh kelembutan.
Dia tidak dapat melihat raut wajah Samuel sebab laki-laki itu tidur dengan kepala berpaling dari tubuh Ara.
Terhenyak, satu hal yang Ara rasakan ketika tetesan demi tetasan hangat membasahi paha mulusnya.
"Tidur yang nyeyak Abang dan jangan memikirkan sesuatu. Sesuatu yang hadir pasti akan pergi karena itu memang tujuannya. Siap menyambut artinya juga siap kehilangan," gumam Ara.
Kali ini tangannya menepuk-nepuk punggung kekar Samuel. Dengkuran halus mulai terdengar, tapi air mata masih saja mengalir membasahi paha Ara.
"Ara yakin Abang kuat dan bisa ikhlasin kak Azka. Ara nggak tau kenapa kak Azka bisa pergi, yang pasti Ara mau Abang nggak ikut tawuran lagi biar nggak terluka dan pergi kayak kak Azka juga."
...****************...
Akhirnya otor nongol juga di sini😕.
Semoga nggak ada yang ninggalin Elara karena jarang up.