Lost Love

Lost Love
Part 81 ~ Pacar


Jam 9 malam, barulah Samuel pergi dari rumah Ara, dan kini gadis imut itu tengah duduk di meja belajarnya seraya melamun.


Benarkah semuanya akan baik-baik saja jika dia kembali pada Samuel? Tidak akan ada orang yang terluka seperti ancaman Sagara?


Jujur saja, Ara sangat ingin kembali apalagi ketika mendengar semua yang dikatakan Samuel padanya.


Tingkah tunangannya tadi sangat berbeda dan lunak padanya. Bahkan laki-laki dingin itu baru merubah posisinya ketika akan pergi.


Ara dan Samuel juga sempat makan malam bersama.


"Ara boleh ketemu Abang?" gumam Ara memadangi wajahnya di depan cermin.


Ingin curhat pada seseorang, dia langsung saja mengambil ponselnya dan menghubungi Edgar untuk bicara berdua saja.


Saat bertemu Samuel tadi, Ara sempat membahas tentang Edgar dan jawaban Samuel cukup diluar dugaanya.


"Boleh, tapi nggak ada sentuhan fisik!"


Itulah yang dikatakan Samuel ketika Ara bertanya apa bisa berteman dengan Edgar.


Sanyuman Ara mengembang ketika telponnya di jawab oleh seseorang di seberang telpon.


"Gue senang lo nelpon Ra," ucap Edgar di seberang telpon.


"Ara juga senang bisa telpon Milo," balasnya masih dengan senyuman padahal Edgar tidak mungkin melihatnya.


"El nggak marah?" tanya Edgar memastikan.


"Abang biarin Ara temenan sama Milo asal nggak pegangan tangan," jawabnya jujur.


"Milo, Ara mau nanya sesuatu sama Milo, tapi jawab jujur ya."


"Apa tuh?"


"Kalau ada yang ancam Milo buat jauhin Ara, Milo bakal lakuin? Ancamannya orang itu mau bunuh Ara."


Ara memgigit bibir bawahnya menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh Edgar, karena jawaban Edgar akan menjadi solusi baginya.


"Gue nggak bakal jauhin lo, apapun resikonya. Mau lo yang terluka ataupun gue. Nyawa ada ditangan-NYA, lalu buat apa takut?"


"Jawaban Milo sama kayak pikiran Ara. Makasih udah mau dengerin Ara malam ini."


***


Jika Ara sedang mencari solusi dari masalah yang dia hadapi sendiri, lain halnya dengan Samuel yang kini mencari hiburan di aspal bersama teman-temannya.


Jam 10 malam, Samuel telah berada di lokasi balapan bersama teman-temannya yang lain. Laki-laki wajah dingin itu memeriksa motor milik Azka yang akan dia gunakan balapan beberapa menit lagi.


"Anjir apa-apaan nih!" umpat Rayhan dan Ricky yang sibuk di sebuah bangku.


Samuel menoleh pada temannya. "Kenapa?" tanyanya.


"Nga-ngak ada," jawab Rayhan cepat.


Samuel menatap penuh selidik Rayhan dan Ricky yang langsung mematikan ponselnya. Dia segera melihat ponselnya sendiri dan terkejut melihat apa yang terjadi.


Tangannya terkepal hebat melihat sesuatu yang langsung membakar hatinya. Foto dimana Ara mencium Sagara kini tersebar di twiter dengan caption.


Pacar💜


"Brengsek!" geram Samuel dengan gigi bergemulutuk.


"Udah waktunya."


Samuel menghela nafas ketika ponselnya direbut begitu saja oleh Azka. Tanpa banyak bicara, dia segera melajukan motor merah tersebut ke tengah-tengah aspal bersama yang lainnya.


"Cuma editan!" teriak Rayhan demi menenangkan Samuel, namun tidak berhasil.


Samuel tidak bodoh hingga tidak bisa membedakan editan dan asli. Jelas-jelas foto yang dia lihat tadi tidak ada cacat sedikitpun.


"Gue yakin lo kalah kali ini," ucap Leo menyeringai pada Samuel.


Bukannya menyahuti, Samuel malah menutup kaca helmnya dan bersiap untuk malajukan motor.


Putaran pertama, Samuel akan melawan Leo, jika menang dia akan melawan pembalap dari lawan lain lagi.


Tepat saat hitungan ketiga, Samuel melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata hingga Leo sedikit tertinggal jauh. Semakin menambah kecepatan seiring emosi yang terus tersulut setiap kali mengingat foto tersebut.


Dia sebagai tunangannya saja tidak pernah mencicipi bibir Ara, dan Sagara dengan lancang menyentuhnya?


"Tunangan lo ciuman sama cowok lain njir!" teriak Leo semakin memanas-manasi.


"Polos-polos bibirnya kayak SC*TV satu untuk semua!"


"Diam lo ban*gsat!" bentak Samuel dengan mata menyiratkan kemarahan. Terlalu emosi, Samuel sampai tidak fokus pada jalanan.


Laki-laki wajah dingin itu berniat untuk menendang motor Leo, namun gagal ketika ketua Wiltar menurunkan kecepatan motornya.


Ciiiiiitttt


Brak


"Mampus lo!"