Lost Love

Lost Love
Part 12 - Kemarahan Sagara


Acara pertunangan sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Para tamu telah pulang kerumah masing-masing termasuk Ara dan orang tuanya.


Kini yang tersisa hanyalah Samuel dengan segala pikiran yang ada di dalam kepalanya. Laki-laki berwajah dingin itu mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Sialan lo Ra, lo cuma datang buat ngancurin hidup gue!" geram Samuel tidak terima dan melimpahkan semua kesalahan pada Ara.


Dia memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya. Dia melepas cincin tersebut kemudian melemparnya ke sudut ruangan.


Samuel merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya memperhatikan langit-langit kamar.


"Entah apa yang terjadi malam nanti," gumamnya.


***


"Nggak mungkin, Abang bohong!" sentak Sasa tidak terima mendengar penjesalan Sagara tentang pertunangan Samuel dengan gadis lain.


"Sa, dengerin Abang, dia bukan yang terbaik buat kamu. Jangan dibutakan oleh cinta, abang nggak mau kamu sakit hati dan sedih," bujuk Sagara memegang kedua pundak Sasa yang mulai bergeter hebat.


Gadis itu menepis tangan Sagara kasar. "Sasa tau Abang nggak pernah suka sama El, tapi nggak gini juga. El baik kok sama Sasa, dia cinta sama Sasa," lirihnya.


"Sa?"


"Percaya sama Sasa," pinta Sasa mendongak untuk menatap manik milik abangnya.


Dia membalas pelukan Sagara ketika merasakan elusan lembut abangnya itu.


"Abang nggak rela kalau adek abang satu-satunya disakiti sama laki-laki Sa. Kamu harta abang satu-satunya," lirih Sagara mengecup puncuk kepala Sasa.


"Sasa tau Bang, makanya biarin Sasa pacaran sama El."


Sagara mengangguk, walau pancaran matanya menyiratkan kemarahan. Mungkin jika film animasi, kepalanya sudah mengeluarkan asap sakin marahnya.


Laki-laki berusia 22 tahun itu melerai pelukannya. "Masuk ke kamar, Abang ada urusan dulu."


Sasa mengangguk sebagai jawaban.


Memastikan Sasa sudah menuruti perintahnya, barulah Sagara meninggalkan rumah. Laki-laki itu akan menemui seseorang dan memberi pelajaran karena mengingkari janji padahal belum lewat bulan.


"Bangsat lo El, mana janji yang lo ucapain, hm?" geram Sagara. Dia menarik kerah kemeja Samuel agar bangun dan kembali menerima pukulan darinya.


Sebelum bicara dengan Sasa, Sagara lebih dulu menghubungi Samuel untuk bertemu di tempat sepi. Untung saja pacar adiknya itu bukan pengecut hingga memenuhi undangan darinya.


"Bangun lo sialan! Dasar pengecut!" bentak laki-laki berusia 22 tahun.


"Gue ngaku salah karena ingkar janji, tapi gue jamin bakal jaga dia dan nggak buat dia sakit hati!" ucap Samuel lantang berusaha berdiri walau kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya.


"Halah omong kosong. Kalimat lo udah gue dengar beberapa bulan yang lalu ... cuih!" Sagara meludah tepat si samping kaki samuel.


Sagara kembali menarik kerah baju Samuel cukup kuat. "Kalau sampai lo buat pipi adek gue tersentuh satu tetas air mata, maka lo, geng lo dan seluruh orang-orang yang lo sayang, mati ditangan gue!" ucap Sagara penuh ancaman, setelah itu melepaskan kerah baju Samuel.


Laki-laki berwajah datar dan dingin itu mengusap darah di sudut bibirnya. "Ini semua karena salah lo!" geram Samuel seraya mengepalkan tangannya.


Dari awal, Ara adalah pembawa masalah dalam hidupnya. Samuel menjatuhkan tubuhnya di atas aspal yang jarang dilalui kendaraan.


"Kenapa hidup gue harus sekacau ini!" teriak Samuel memperhatikan bintang-bintang yang bersinar di atas langit malam.


Dia mengatur nafasnya yang memburu ketika mendengar ponsel disaku celananya berdering. Tanpa melihat siapa pemanggilnya dia langsung saja menjawab.


"El."


Samuel langsung bangun ketika mengenali suara gadis itu.


"Sa? Lo nangis?" tanyanya ketika suara Sasa terdengar serak.


"Kata abang kamu tunangan sama cewek lain, itu nggak benar kan El? Kamu cuma cinta dan sayang sama aku?"


Mata Samuel terpejam, dia menghembuskan nafas panjang sebelum berbicara.


"Abang lo salah paham Sa, gue nggak mungkin duain lo."


"Aku tau makanya aku nggak percaya sama Abang. El, kalau kamu liat Abang lari aja ya, dia marah soalnya."


"Iya nanti gue lari kalau ketemu Sagara," jawab Samuel. "Sa, udah ya. Besok gue jemput."