
Samuel menghela nafas panjang melihat berita yang tengah berlangsung di Tv. Berita tentang dua orang dengan tusukan yang sama sebab berkelahi satu sama lain. Laki-laki wajah dingin itu melirik jarum jam yang menunjukkan angka 11 malam.
Dia bangkit dari duduknya lalu menyambar jaket juga kunci motor di atas meja. Sejak pulang dari markas dan bercerita banyak hal dengan Azka, perasaan Samuel sedikit tenang dari yang sebelumnya.
Meski kematian Sagara masih abu-abu, Samuel tetap waspada tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Berusaha agar tidak selalu mengedepankan emosi walau sangat sulit baginya.
Langkah kaki Samuel mulai menapaki satu persatu anak tangga di mansion milik orang tuanya. Mansion terlihat sangat sepi, mungkin penghuninya telah tidur di kamar masing-masing.
"Mau kemana?"
Samuel yang hendak naik ke motornya segera berbalik dan mendapati wanita paruh baya tengah bersedekap dada di depan pintu. Dia menghampiri maminya kemudian meraih tangan Fany untuk dia kecup.
"Mau kerumah sakit Mam," jawab Samuel.
"Mami mau bicara serius sama kamu. Bisanya kapan?" tanya Fany meminta waktu pada putranya.
"Tentang siapa?"
"Ara."
Samuel terdiam sejenak, menatap maminya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nak, mami ...."
"Besok aja Mam," potong Samuel kemudian meninggalkan maminya di ambang pintu.
Membunyikan klakson motor sebelum benar-benar pergi. Samuel tahu apa yang akan dibicarakan oleh maminya, itulah mengapa mencoba mengulur waktu sampai semuanya baik-baik saja. Setidaknya Ara keluar dulu dari rumah sakit dan beraktivitas seperti biasa.
"Lo nggak boleh takut El," ucapnya pada diri sendiri dengan tangan terkepal.
Melajukan motor dengan kecepatan sedang hanya untuk menikmati perjalanan menuju rumah sakit.
Kali ini dia tidak memakai jaket kebanggan Avegas sampai ujian sekolah telah selesai. Sebab geng Wiltar tengah merajalela untuk menghancurkan mereka.
Tepat setelah sampai di depan rumah sakit, Samuel mendongakkan kepalanya untuk melihat kondisi ruang rawat Ara dari luar. Lampu sudah mati, pertanda gadis itu telah tidur.
Meski begitu, dia tetap saja melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit yang mulai sepi pengujung. Hanya ada beberapa dokter dan perawat yang berkeliaran mengurus pasien-pasien yang mungkin saja membutuhkan penanganan khusus.
Langkah Samuel berhenti tepat di depan pintu ruang rawat Ara. Tangannya mengantung di udara seperti ragu membuka pintu yang ternyata tidak dukunci dari dalam. Mungkin atas perintah dokter berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.
Dia mendudukkan diri di samping brangkar, meraih tangan yang terpasang selang infus.
"Lo masih mau bertahan kan Ra? Meski orang tua lo balik, lo bakal bergantung dan minta perlindungan gue kan?"
Tangan Samuel beralih untuk menyentuh rambut Ara yang tergerai dengan indah. Wajah damai kekasihnya terlihat lebih cantik dan mengemaskan.
Samuel takut jika Ara tidak membutuhkan dirinya lagi, bukankah dengan begitu Ara tidak punya alasan untuk bertahan? Cinta? Mungkin bukan cinta yang membuat Ara bertahan dengan sikapnya, melainkan kebodohan dan kepolosan Ara dalam menanggapi cinta.
"El?"
Refleks, Samuel langsung menarik tangannya dari kepala Ara. Tidak lupa berdiri sedikit menjauh.
"Kirain tadi siapa yang duduk Nak. Bunda takut banget Ara ada yang ganggu." Kirana yang baru saja keluar dari toilet segera berjalan mendekat.
"Tadi Ara nyari kamu terus dan pengen telpon, tapi Bunda nggak biarin."
"Kenapa tante?" tanya Samuel.
"Karena tante tahu kehidupan kamu bukan tentang Ara aja. Ara kalau nggak dibatasin bakal nempel mulu sama orang yang dia sayang."
"El suka kok," gumam Samuel tanpa dapat di dengar oleh Kirana.
"El, bunda bisa minta tolong?" tanya Kirana.
"Boleh tante."
"El mau jagain Ara di sini? Bunda harus pulang, ayah di rumah juga lagi nggak enak badan," pinta Kirana.
Dia sangat bersyukur Samuel datang di saat-saat yang tepat seperti ini. Kirana sejak tadi bingung harus bagaimana menanggapi dua orang tersayangnya yang sama-sama membutuhkan seseorang.
Andai Samuel tidak datang, mungkin Kirana akan tinggal dan rumah sakit dan membiarkan Deon seorang diri di rumah.
"Pulang aja tante, biar El jagain Ara."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.