Lost Love

Lost Love
Part 130 ~ Mulai menyelidiki


"Lama banget tidurnya," ucap Samuel ketika Ara perlahan-lahan membuka mata.


Sudah hampir dua jam Samuel duduk sisi brangkar, bahkan sekolah telah sepi sebab bel pulang berbunyi setengah jam yang lalu.


"Ara buat Abang nunggu lama? Maaf," lirih Ara langsung duduk setelah menyesuaikan retinanya dengan cahaya ruangan.


"Nggak tuh, baru 2 menit nunggu." Samuel langsung berdiri dan menarik tangan Ara agar segera turun dari brangkar dan pulang.


Namun, gadis itu tidak kunjung bergerak, malah menyentuh pelipis Samuel yang terdapat lebab.


"Abang habis berkelahi sama siapa? Kok mukanya memar gitu? Padahal pas Ara tidur nggak ada." tanya Ara dengan wajah polosnya.


"Kejedot pintu," jawab Samuel menyingkirkan tangan Ara. "Ayo, semua orang udah pulang!" ajak Samuel dan dijawab anggukan oleh Ara.


Gadis imut itu menautkan jari-jarinya dan saling menguci satu sama lain. Berjalan di koridor sekolah yang benar-benar telah sepi. Apalagi hari ini tidak ada kegiatan ekstrakurikuler yang berlangsung.


"Kenapa nggak bangunin Ara kalau semua orang udah pulang Bang?"


"Kenapa?" tanya Samuel acuh.


Membukakan pintu mobil untuk Ara agar segera masuk, terlebih cuaca masih belum bersahabat setelah hujan reda satu jam yang lalu.


"Ngapain?" tanya Samuel melirik Ara yang tengah bercermin pada spion.


"Mau liat pipi Ara, kalau merah nggak mau pulang dulu. Tapi ternyata udah nggak terlalu," jawab Ara dengan senyumnya.


Tanpa tahu bahwa karena dirinya, Samuel telah diskorsing selama seminggu dari sekolah.


***


"Abang mau ikut turun?" tanya Ara setelah mobil berhenti tepat di depan rumah.


Samuel mengangguk sebagai jawaban. Tidak mungkin laki-laki dingin itu meninggalkan Ara tanpa penjelasan, yang ada Deon akan semakin mencurigai dirinya, terlebih sekarang ayah Ara tengah bergerak sendiri menyelidiki penculikan Ara tanpa mempercayai ucapannya.


"Nggak usah," cicit Ara menarik kaki baju Samuel, tapi tetap saja Samuel turun dan membukakan pintu untuk Ara.


Menyalami om Deon yang kebetulan berdiri di teras rumah, mungkin karena mendengar suara mobilnya.


"Kenapa pulang telat?" tanya Deon.


"Tadi Ara ketiduran di UKS Om. El nggak tega harus bangunin," jawab Samuel tanpa ingin berbohong lagi.


"Iya Om, ini salah El karena nggak becus jagain Ara di sekolah. El janji kejadian kayak gini nggak bakal terulang lagi." Samuel menunduk. Hanya Deon yang bisa membuatnya takut selain mami Fany.


Bukan takut akan dipukuli, tapi takut dipisahkan tanpa dia ketahui nantinya.


Samuel mendongak ketika pundaknya ditepuk oleh Deon dengan senyuman yang selalu dia lihat. "Kesalahan memang sering terjadi, kenapa harus takut seperti itu hm? Duduk dulu, ayah mau bicara sama kamu," ucap Deon tenang.


Pria paruh baya itu merangkul Ara yang terlihat pucat menuju kamar.


"Bunda lagi ke minimarket sama bibi, jadi Ara istirahat di kamar aja ya?" Deon mengelus pipi putrinya penuh kehati-hatian. "Kasian pipi putri ayah bengkak karena orang lain."


"Ara nggak papa Ayah, jangan marahin Abang ya? Abang nggak salah apa-apa. Ara yang nggak dengerin Abang dan milih pergi sendiri jadi kena palak sama siswa." Ara merengek dan mencegah ayahnya pergi memenui Samuel.


"Nggak Sayang, buat apa juga ayah marahin El hm?"


"Janji?"


"Janji."


Deon mengecup kening Ara sebelum meninggalkan kamar dan menghampiri Samuel yang masih setia menunggu di teras depan. Deon mendudukkan diri di samping Samuel.


"Kamu tau bayangan Nak?"


"Ba-bayangan?" beo Samuel sedikit kaget. Tentu saja Samuel tahu Bayangan, bahkan dia salah satu inti di sana. "Kenapa Om?"


"Nggak papa, ayah cuma dengar katanya Bayangan kalau diberi misi nggak pernah mengecewakan clien mereka. Ayah meminta bantuan mereka untuk sesuatu tapi sampai sekarang belum mendapatkan balasan apapun."


"Bantuan apa?" Samuel memusatkan perhatiannya pada Deon.


"Untuk menyelidiki penculikan Ara Nak. Rasanya ayah menemukan kejanggalan di dalamnya. Kamu mengatakan itu korban salah sasaran, tapi setiap Ara selesai mimpi buruk dia sering menyebut nama laki-laki yang telah menculiknya. Berarti Ara kenal orang itu. Ayah takut orang yang menculik Ara adalah musuh bisnis ayah sendiri," jelas Deon dengan raut wajah seriusnya.


Berbeda dengan Samuel yang jantungnya berdetak tidak karuan. Jika Deon berhasil mengusut tentang penculikan Ara, maka semuanya akan terbongkar.


Bagaimana mungkin Deon meminta bantuan Bayangan? Sementara anggota Bayangan tengah berusaha mencegah agar penyelidikan tidak membuahkan hasil apapun.


...****************...


Makin rumit😕


Jangan lupa tebar kembang dan kopi biat otor bisa rileks dan nggak tegang