Lost Love

Lost Love
Part 33 ~ Kesepakatan


Usai mandi dan lengkap dengan sarung yang Samuel lilitkan di pinggang. Dia langsung saja menarik tangan Ara agar keluar dari kamar. Kali ini tarikannya tidak kasar karena dia sudah berjanji pada maminya tidak akan menyakiti fisik Ara. Ingat, hanya fisik bukan batin atapun hati.


"Padahal Ara mau liat Abang sholat," ucap Ara menatap Samuel, tapi tetap saja laki-laki wajah dingin itu menutup pintu kamarnya, tidak lupa mengunci.


"Ara, kok ada di luar Nak?" tanya Fany yang kebetulan lewat. Wanita paruh baya itu baru saja keluar dari kamarnya.


"Abang nyuruh Ara keluar padahal Abang cuma mau sholat Mam."


Fany tertawa sembari merangkul pundak Ara. "Abang memang gitu Nak, nggak mau ada yang liat kalau lagi beribadah. Dia gengsi orangnya," gibahnya membuat Ara tertawa.


Karena tidak mungkin Ara menunggu Samuel selesai sholat, dia mengikuti langkah mami Fany menuju dapur. Sepertinya akan menyiapkan makan malam bersama beberapa pelayan.


"Ara, makanan Oma tolong diantar ya Sayang!" pinta Fany.


"Oke Mam." Dengan senang hati Ara membawa nampang tersebut menuju kamar yang berada di lantai bawah. Alasan kamar oma Jelita berada di lantai dasar agar mudah jika ingin berjemur di halaman Mansion.


Ara membuka pintu kamar pelahan-lahan dan menghampiri wanita yang sangat tua duduk di atas ranjang.


"Oma lagi apa?" tanya Ara basa-basi.


"Nggak ada Nak, itu buat Oma?"


"Iya, nanti Ara suapin biar makannya banyak dan Oma nggak lelah." Ara tersenyum lebar. Meletakkan nampang di atas nakas, lalu mengambil bubur beserta lauk yang sudah di cincang halus.


Dengan telaten Ara menyuapi oma Jelita, sesekali bercerita seperti anak kecil. Itu semua tidak luput dari perhatian Samuel yang hendak mengunjungi Oma Jelita.


Mata laki-laki wajah dingin itu mengerjap perlahan-lahan melihat bagaimana telatennya Ara memberi makan Om Jelita. Bahkan pancaran matanya menyiratkan kasih sayang.


"Sasa pernah nggak gitu sama Oma?"


Samuel memutar bola mata malas, dia sangat kenal suara siapa itu. Samuel heran, kenapa Rahyan hoby banget datang ke mansion merecoki dirinya. Bahkan waktu Rayhan lebih banyak di mansion daripada rumahnya sendiri.


Jika ditanya, maka jawabannya adalah .... "Di sini ramai, di rumah kagak. Mama sama Papa gue sibuk kerja."


"Ya udah gini aja deh. Lo benci Ara dari sudut mananya? Dia baik, cantik dan tentu lo kenal sejak kecil. Tau gimana tingkah dia. Nilai plus dari Ara adalah polos dan manja, idaman semua cowok anjir, apa lagi Edgar ...."


Brugh


Rayhan tersungkur ke lantai marmer ketika lututnya ditendang oleh Samuel. Laki-laki playboy itu meringis kesakitan, dan tentu saja Ara dan Oma Jelita melihatnya.


"Kak Ray?" keget Ara. Karena dia sudah selesai menyuapi Oma Jelita, dia langsung saja menghampiri Rayhan hendak menolong.


Baru saja akan mengulurkan tangannya, suara Samuel mengintrupsi.


"Mau ngomong apa?" tanya Samuel.


"Ah Ara hampir lupa Bang." Tangan Ara yang sempat terulur malah meraih tangan Samuel dan meninggalkan Rayhan begitu saja, padahal tangan Rayhan hampir mengapai tangan Ara.


"Gini banget nasib jadi zomblo," gumam Rahyan berdiri tanpa bantuan siapapun. Dia menghampiri oma Jelita. Sementara Ara membawa Samuel ke suatu tempat.


"Lo mau kemana?" tanya Samuel menarik tanganya dari Ara.


"Kata kak Alana, Ara harus bawa Abang ke tempat sepi buat bicara," jawab Ara jujur, padahal Alana sudah mewanti-wanti agar dia tidak membocorkan ini pada Samuel.


"Alana?"


"Iya." Ara menganggukkan kepalanya. "Abang duduk Ara juga duduk."


Meski bingung dan mulai kesal, Samuel tetap saja duduk sesuai arahan Ara. Lagipula dia tidak punya tenaga marah-marah untuk saat ini.


"Ara mau minta waktu satu bulan sama Abang. Ara minta Abang nggak boleh kasar-kasar dan jutek sama Ara selama satu bulan full. Biarin Ara masuk kedunia Abang. Kalau waktu Ara habis dan Abang belum cinta sama Ara, Ara bakal batalin pertunangan," ucap Ara tanpa menjeda karena takut melupakan dialog yang dia hafal sejak tadi.


Samuel menyeringai, siapa takut? Dia yakin tidak akan kalah dari Ara.


"Deal!" Samuel mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Ara.