
Resepsi telah berakhir beberapa menit yang lalu, semua tamu telah pulang kerumah masing-masing termasuk para sahabat Samuel.
Sementara mempelai pengantin masih saja berdiri di depan kamar hotel. Ara yang menundukkan kepalanya karena merasa malu juga jantungnya yang tidak stabil, sementara Samuel yang sedang memikirkan cara agar bisa tidur berdua dengan istrinya malam ini.
Namun, sepertinya apa yang diingingkan Samuel tidak akan terkabul, terbukti Asa tidak ingin berpisah dengannya.
"Ayo sama Oma aja," bujuk Kirana mengulurkan tangannya untuk mengambil Asa dalam gendongan Samuel. Namun, gadis kecil itu mengeleng.
Semakin mengeratkan pelukannya di leher Samuel. Gadis kecil itu baru saja bangun dan mencari ayah dan bundanya yang tampak sangat bahagia di pesta tadi.
"Asa mau bobo saja ayah," lirih Asa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Samuel.
"Ara!" panggil Samuel.
Ara yang sangat lelah segera mengangkat kepalanya. Menatap orang tuanya juga Samuel secara bergantian.
"Bunda dan ayah pergi aja, biar Asa sama Ara. Lagian dia nggak rewel kok," sahut Asa diluar espektasi Samuel.
Pria itu mengira Ara akan membujuk Asa, tapi lihatlah Ara malah mengizinkannya. Tidak ingin berdebat meski hatinya sangat kesal, Samuel akhirnya membawa Asa masuk ke kamar, sementara Ara masih sibuk dengan orang tuanya.
"Harusnya kamu bujuk Asa, Nak. Samuel pasti ...."
"Ara lelah, kalian masuklah ke kamar."
Usai mengatakan hal tersebut Ara segera menyusul Samuel dan Asa yang duduk di sisi ranjang. Diam-diam dia tersenyum melihat wajah kesal Samuel yang tidak bisa disembunyikan.
Sebenarnya Ara mengizinkan Asa untuk tidur satu kamar dengannya agar Samuel tidak berani melakukan apapun. Pria itu berani menciumnya di basemen rumah sakit padahal tidak ada ikatan apapun, dan sekarang? Oh tidak, Ara takut diterkam oleh pawang harimau tersebut.
"Bunda."
"Iya Sayang?"
"Kita bobo bertiga? Asa mau ditengah, dipeluk bunda sama ayah," ucap gadis kecil tersebut menghampiri Ara yang hendak masuk ke kamar mandi.
"Tentu saja, sekarang bunda mau ganti baju dulu." Mengusap rambut Asa penuh kasih sayang.
Sementara Samuel masih saja menekuk wajahnya di sisi ranjang memperhatikan interaksi Asa dan Ara.
***
Samuel merengangkan otot-ototnya yang terasa sangat pegal. Pria itu mengerjapkan matanya perlahan ketika merasakan deru nafas seseorang menyentuh lehernya.
Pria itu awalnya sangat terkejut melihat Ara ada dalam pelukannya, tapi keterkejutan itu berubah menjadi sebuah senyuman ketika mengingat apa yang terjadi kemarin.
Dia dan Ara telah resmi menjadi sepasang suami istri setelah dibuat uring-uringan selama satu bulan oleh orang tuanya.
Tangan Samuel bergerak mengelus pipi mulus Ara yang terlihat sangat mengemaskan. Momen ini adalah momen yang selalu Samuel inginkan. Saat terbangun, mendapati wajah perempuan yang sangat dia cintai.
"Istriku?" gumam Samuel mengulum senyum. Rasanya aneh tapi Samuel menyukainya.
Ara mengerjap dalam pelukan Samuel, tapi bukan untuk bangun, melainkan semakin mengeratkan pelukannya. Entah gadis itu sadar bahwa yang dipeluknya adalah Samuel atau tidak.
"Gemas banget, pengen aku makan."
"Bunda."
Atensi Samuel teralihkan pada gadis kecil yang baru saja bangun tepat di belakang Ara. Perlu kalian tahu, saat pertama kali tidur Asa memang berada di tengah, tapi ketika semua orang sudah terlelap, Samuel berpindah tempat karena ingin memeluk istrinya.
Samuel menempelkan jarinya di bibir ketika Asa menatapnya. "Jangan ribut, bunda masih bobo," ujarnya dengan suara kecil.
Bukannya mendengarkan suara tangisan Asa semakin kencang, membuat Ara yang masih berada di alam mimpi mau tidak mau harus terbangun karena mendengar suara tangisan putrinya.
Gadis itu mengerjap perlahan, matanya membulat sempurna melihat wajah bantal Samuel yang sedang menatapnya.
"Ngapain kamu ada di sini?" tanya Ara dengan tatapan tajamnya. Dengan kasar dia mendorong tubuh Samuel yang berada di pinggir ranjang sehingga terjatuh.
Brugh
"Aaakkkkhhhh." Samuel meringis, sementara Ara bergeming di tempatnya menatap Samuel tidak suka. Hingga dimana tatapan itu berubah ketika mengingat sesuatu.
"Ma-maaf aku lupa." Gadis itu buru-buru turun dari ranjang menolong suaminya. "Aku lupa kalau kita udah nikah, ak-aku ...."
"Bunda!"