
14 tahun kemudian.
Seorang pria berusia 30 tahun sedang menarik kopernya keluar dari bandara setelah membawa ratusan orang mengudara bersama.
Pria itu tidak lain adalah Samuel yang sukses membanggakan orang tuanya dengan menjadi Pilot lumayan berbakat.
Nama Samuel sempat dikenal banyak orang saat insiden lepas kendalinya pesawat dan keluar dari rute yang seharusnya dua tahun yang lalu. Karena keahlian juga cekatannya, Samuel berhasil menyelamatkan ratusan nyawa dan menerima penghargaan.
Tidak ada senyuman yang menghiasi pria itu meski berbagai sapaan dia dapatkan sepanjang jalan. Hanya wajah datar yang selalu menemani Samuel setiap harinya.
Menunggu selama 14 tahun tidak membuat Samuel menyerah untuk menunggu cintanya kembali. Sampai sekarang masih Aralah yang mengisi hati pria dingin tersebut.
Berbagai kota dan Negara Samuel kunjungi tapi tidak sekalipun pria itu menemukan petunjuk tentang keberadaan gadis yang selama ini dia cari.
"14 tahun Ra, lo nggak kangen sama gue?" gumam Samuel senyum kecut.
Tatapan pria itu tertuju pada lalu-lalang pengunjung. Dari yang jomblo, pasangan romantis juga keluarga bahagia Samuel saksikan di bandara.
"Andai aja dulu gue nggak bodoh mungkin sekarang kita juga udah bahagia Ra," batin Samuel.
Pria itu berharap suatu hari nanti penantinnya tidak sia-sia. Semoga saat bertemu Ara, mereka masih memiliki stasus yang sama dan tidak dimiliki oleh siapapun.
Baru saja akan kembali melangkah, koper yang ditarik oleh Samuel ditabrak oleh seseorang yang berjalan terburu-buru. Perempuan itu langsung bangun tanpa meminta bantuan siapapun.
"Maaf saya tidak sengaja, mari," imbuh perempuan itu kembali berlari tanpa memperdulikan lututnya yang luka.
"Suara itu?" bantin Samuel. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya tapi sudah tidak menemukan perempuan yang baru saja menabrak koper Samuel.
Dilirikan koper yang tidak rusak sama sekali, hanya saja ada bercak merah di bagian roda. Samuel menunduk untuk memperatikan dengan seksama.
"Ck, koper baru tapi sudah melukai seseorang!" decak Samuel tidak suka.
"Sayang!"
"Mami," sapa Samuel. Pria itu mengecup pipi maminya penuh kasih sayang.
"Mami sudah menunggumu cukup lama, ternyata sedang pacaran sama koper. Sudah jam 4 sore mami yakin kamu belum sholat," omel Fany.
"Ini Samuel baru mau mampir sholat di musholah," jawab Samuel mengamit pinggang ramping maminya keluar dari bandara.
***
"Iya Bunda aku tahu, setelah ini aku pulang kerumah," sahut seorang gadis pada bundanya di seberang telpon.
Gadis itu lantas meletakkan ponselnya di atas meja lalu memperhatikan lututnya yang sedikit terluka. Dia baru sadar setelah keluar dari ruang operasi.
"Semoga saja pemilik koper tidak marah," gumam Ara mulai membersihkan darah kering di lututnya.
Gadis itu tadi tidak sengaja menabrak seseorang di bandara karena terburu-buru, alhasil sekarang kakinya terluka. Jika bundanya tahu, maka Ara akan mendapat omelan bertubi-tubi.
Ara mendonggakan kepalanya saat pintu ruangan di ketuk oleh seseorang. "Dokter cantik apa aku boleh masuk?" izin seorang pria.
Ara tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Tentu Edgar."
Edgar tersenyum manis dan masuk keruangan Ara. Pria itu tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Ara setelah berpisah culup lama. Ara baru saja tiba sebagai dokter ahli bedah dari luar negeri.
Dan kebetulan bekerja dirumah sakit yang sama dengan Edgar.
"Aku kira kamu lupa sama aku, Ra."
"Kenapa aku harus lupa? Bukannya kita berteman?" tanya balik Ara. Gadis itu baru saja kembali di negara kelahirannya satu minggu yang lalu sebab dipindah tugasnya oleh pihak rumah sakit.
"Banyak berusah sekarang."
"14 tahun kalau nggak ada perubahan, aku benar-benar bodoh." Ara tertawa, tawa yang sama persis yang Edgar lihat saat sekolah dulu. Hanya saja Edgar tidak lagi melihat sikap lucu dan mengemaskan Ara. Gadis itu benar-benar telah berubah menjadi gadis dewasa dengan segala daya pikat dalam dirinya.