
Ara semakin mengeratkan genggaman tanganya pada Samuel ketika melihat ayahnya berdiri di teras rumah. Tatapan Deon menyiratkan kemarahan dan itu tertuju pada kekasihnya.
"Ayah, Ara udah ...."
"Masuk!" perintah Deon tanpa mengalihkan tatapannya dari Samuel.
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara tadi udah izin sama Bunda kalau belajar bareng sama Abang di mansion. Jangan marahin Abang, Ya!" pinta Ara lagi engang melepaskan genggaman Samuel.
Sejak dia masuk rumah sakit, sikap Deon jadi berbeda. Bahkan sesekali menyuruh Ara untuk menjauhi Samuel.
"Ayah bilang masuk Ra!"
"Masuk gih, gue nggak papa," bisik Samuel melepaskan genggaman Ara. "Om Deon nggak bakal ngapa-ngapain gue," lanjutnya.
"Ya udah," lirih Ara. Dia berjalan mendekati ayahnya, mencium punggung tangan pria paruh baya itu sebelum menemui sang bunda di dalam rumah.
Sementara di teras, terjadi keheningan beberapa saat sebelum Deon kembali bicara dengan tegas.
"Ara bukan perempuan yang bisa diajak pergi begitu saja sampai selarut ini! Jangan menanam pengaruh buruk dalam dirinya," ucap Deon menatap Samuel tidak suka.
"Maaf Om, lain kali saya nggak bakal ngajak keluar Ara malam-malam seperti ini."
"Nggak ada lain kali, pergilah!"
Samuel menghela nafas panjang memandangi punggung Deon memasuki rumah.
"Harusnya gue jujur sejak awal," gumam Samuel menlajukan motornya meninggalkan rumah Ara.
Niatnya mengajak Ara kemansion tadi untuk menenangkan hatinya sebelum menyerang wiltar, tapi yang terjadi malah sebaliknya karena sikap ayah Deon yang tidak lagi seperti dulu.
***
Setelah sampai di dalam kamar, Ara berusaha menghubungi Samuel, tapi laki-laki dingin itu tidak menjawab satupun panggilannya.
Ara hanya ingin meminta maaf karena sikap sang ayah, tapi apa boleh buat Samuel sudah tidak bisa di hibungi lagi.
Gadis imut itu merubah posisi tidurnya membelakangi pintu ketika melihat ayahnya masuk. Dapat Ara rasakan seseorang duduk di atas kasurnya.
"Sayang?"
"Kita batalin perjodohan ya Nak?" bujuk Deon, berhasil merubah posisi Ara.
Gadis imut itu bangun dan menatap manik tajam ayahnya dengan sendu. "Ayah kok ngomongnya gitu?"
"Ayah nggak suka kamu dalam bahaya Nak. Samuel anak geng motor pasti banyak musuh diluar sana."
"Abang bisa lindungin Ara."
"Kapan dan dimana hm?" tanya Deon meraih tubuh Ara untuk dipeluk. "Sejak kapan Samuel bisa lindungin kamu Nak? Belum genap sebulan kamu udah dapat luka tiga kali. Pertama masuk rumah sakit karena diculik sama musuh Samuel. Kedua ditampar teman sekolah, dan ketiga masuk rumah sakit sebab dia nggak tau kamu alergi nanas. Ayah nggak yakin dia cinta sama kamu Nak," bisik Deon mengecup puncuk kepala Ara.
"Ara mohon jangan batalin pertunangannya ayah. Ara janji nggak bakal terluka lagi."
"Kalau terluka gimana?"
"Ara ...." Gadis imut itu tidak tahu harus mengatakan apa pada ayahnya.
"Kalau kamu sampai sakit lagi karena Samuel. Maka ayah nggak bakal minta persetujuan kamu lagi Nak. Ayah bakal bawa kamu pergi sejauh mungkin dimana dia tidak bisa nemuin kamu."
Ara mengeleng dalam depakapan Ayahnya. "Ara nggak bakal terluka lagi, jadi Ayah nggak boleh misahin aku sama Abang." Dia mendongak untuk menatap ayahnya.
"Ayah tau darimana kalau Ara diculik sama kak Saga? Bukannya Ara udah ...."
"Saga? Jadi nama orang yang culik kamu itu Saga Nak? Ayah boleh tau Saga sama Samuel ada masalah apa?" tanya Deon berusaha mengambil informasi dari putrinya.
"Kak Saga benci sama Abang karena .... Ara mau bobo." Ara langsung mengalihkan permbicaraan. Mengecup pipi Deon dan kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Selamat malam Ayah," gumam Ara.
Dia meruntuki dirinya yang hampir saja keceplosan kalau Sagara membenci Samuel sebab Sasa.
"Tidurlah Sayang! Ayah yang bakal cari tau sendiri, biar ayah tau kalian bisa bersama atau nggak," gumam Deon mengelus lengan Ara yang terbungkus selimut tebal.
Tidak dapat informasi tentang Samuel dan musuhnya, setidaknya Deon tahu siapa nama orang yang telah menculik Aranya hingga harus terluka.
...****************...