
"Abang, kita mau kemana?" tanya Ara terus mengikuti langkah lebar Samuel menerobos keramaian dengan suara bising oleh pengujung lain.
"Nonton," jawab Samuel semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Awalnya Samuel berencana untuk tidur saja dirumah setelah menelpon Ara, tapi laki-laki dingin itu malah menemukan tempat yang bagus dikunjungi malam-malam seperti ini. Terlebih Samuel sangat menyukai tentang musik.
Di taman yang tidak jauh dari rumah Ara, tengah ada acara pasar malam di sertai dengan anak band yang tampil dengan suka rela.
Samuel menerobos hingga paling depan agar memudarkan Ara menikmati band yang sedang tampil.
"Akhirnya Ara bisa nonton konser sama Abang," ucap Ara menatap penuh nahagia para anak band yang sedang tampil.
Dulu pernah sekali Ara mengajak Samuel saat dia, Alana dan Salsa pergi, tapi laki-laki itu menolaknya dengan alasan sibuk padahal pergi dengan Sasa. Sakit? Tentu saja Ara sakit hati saat mengetahuinya tapi apa boleh buat, saat Sasa masih ada dia bagai angin bagi Samuel.
"Suka?"
"Banget Abang," sahut Ara.
Samuel tersenyum tipis dan mengacak-acak rambut Ara. Seperti janjinya saat dimobil, mulai detik ini Samuel hanya akan membahagiakan tunangannya agar tidak menyesal dikemudian hari.
Terlebih kondisi otak Ara semakin membaik setiap harinya, tidak menutup kemungkinan sesuatu terjadi pada hubungan mereka.
Jika Ara sejak tadi memperhatikan konser, maka tidak dengan Samuel yang hanya sibuk menatap wajah cantik gadis imut itu.
Dia mengernyitkan keningnya ketika Ara mulai menghentak-hentakkan kaki seperti orang pegal.
"Cape?" Ara mengangguk sebagai jawaban.
Detik itu juga Samuel berjongkok dan salah satu pahanya dia ulurkan ke depan kemudian menarik tangan Ara.
"Duduk sini!" panggil Samuel menepuk pahanya.
"Tapi Abang?"
"Ck, buruan!"
Ara mengangguk dan langsung duduk di salah satu paha Samuel dan kembali fokus pada konser yang telah berlangsung.
***
Hampir satu jam dalam posisi jongkok sambil memangku gadis yang lumayan berat, membuat paha Samuel sampai kesemutan.
Laki-laki dingin itu menselonjorkan kakinya setelah jauh dari kerumunan penonton untuk menghilangkan kesemutan.
"Abang kenapa?" Ara ikut duduk di samping Samuel yang tengah memejamkan mata seraya mendongak ke langit yang mulai dimunculi bintang satu persatu.
"Nggak papa, lo haus?"
"Ara haus, tapi Ara bawa air minum." Memperlihatkan botol kecil yang ada di dalam tasnya. Lagi dan lagi Samuel hanya tersenyum tipis.
"Abang bulannya kok tinggal setengah? Pasti kesepian banget," tujuk Ara pada bulan yang berada di langit.
"Bulannya lagi sembunyi karena malu sama lo."
"Malu sama Ara? Kenapa?"
"Karena senyum lo mampu ngalahin sinarnya," jawab Samuel tanpa ingin menatap Ara sebab merasa malu dan salting sendiri padahal yang menggombal adalah dirinya.
"Ara mau bulannya penuh biar nggak kesepian lagi Abang."
"Penuh kok, tapi nggak bisa kita liat aja."
"Abang?" Ara melirik Samuel sekilas. "Mulai hari ini bulan itu adalah Abang dan Ara. Kalau salah satunya hilang yang satu sedih, jadi nggak boleh hilang. Pokoknya Ara nggak mau liat bulannya lagi."
Ara menundukkan kepalanya dengan bibi manyun, itu membuat Samuel gemas sendiri.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi mulus Ara.
"Abang cium Ara?"
"Kenapa nggak suka?" tanya balik Samuel.
"Ara kaget tadi Abang. Kalau Abang mau cium Ara harus ngomong dulu biar ... Hmppp ...."
Kalimat Ara tertahan ketika Samuel langsung membungkam mulutnya dengan bibir. Melum*at sedikit perlahan hingga bibir itu terbuka sepenuhnya.
Baru saja akan melanjutkan, dia telah sadar dengan apa yang dia lakukan. Langsung saja Samuel menjauhkan tubuhnya.
"Ara ...."
"Ayo kita makan di sana!" Samuel langsung berdiri dan menarik tangan Ara agar segera meninggalkan tempat yang ada setannya tersebut. Terbukti Samuel khilaf tadi.
Samuel menarik kursi setelah sampai dipenjual sate pinggir jalan. Memang hanya tempat seperti ini yang sering Samuel kunjungi jika jalan bersama teman-temannya. Akan ke restoran jika bersama orang tua saja.
"Abang suma makan di tempat kayak gini?"
"Hm, lo?"
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara kenal tempat-tempat kayak gini karena Abang dan kak Ray. Biasanya Ara diajak ayah makan di restoran tanpa ada ribut-ribut."
"Lo nggak suka makan di tempat ...."
"Ara suka malah. Rasanya nyenengin. Nanti kita jalan-jalan lagi ya Bang? Ara senang kalau Abang baik sama Ara."