
Tidak terasa satu bulan begitu cepat berlalu, banyak hal yang terlewatkan sia-sia karena tidak adanya perjuangan satu sama lain untuk mendapatkan cinta yang seharusnya mereka miliki sejak lama.
Hari ini adalah tepat hari pernikahan Samuel dengan gadis yang bahkan tidak pernah pria itu temui sebelumnya. Alasanya sangat sederhana, tidak ingin sesuatu yang terjadi di masa lalu kembali terulang lagi. Di mana Samuel sesuka hati menyiksa gadis yang tidak dicintainya agar perjanjian sebuah hubungan batal tanpa ke pastian.
Pria itu kini berdiri di balkon kamar hotel dengan setelan jas putih yang sangat menawan. Dia memperhatikan lalu lalang orang-orang yang sedang mempersiapkan acara untuk akad nikahnya yang akan berlangsung beberapa menit lagi.
Rasanya Samuel ingin melompat dari tebing untuk mengakhiri semua penderitaan yang dia rasakan saat ini. Pria itu melirik benda pipi di tanganya.
Aku masih punya waktu 30 menit. Ngomong Ra kalau kamu berubah pikiran, detik ini juga aku bakal bawa kamu pergi.
Itulah pesan yang dikirimkan oleh Samuel beberapa menit yang lalu tapi hanya diread oleh Ara tanpa ada balasan sama sekali. Bahkan keduanya tidak pernah bertemu lagi setelah pertemuan dibasemen rumah sakit.
Keberadaan Ara seakan hilang tanpa jejak seperti dulu.
"Mau kabur?"
Samuel lantas membalik tubuhnya ketika mengenali suara pria itu. Dia senyum kecut pada Azka yang tengah di di sofa sambil bersedekap dada. Hari ini bagai devaju untuk Samuel, dimana dulu dia juga tidak mengingingkan pertunangannya, dan Azka datang untuk menawarkan bantuan kabur dari pesta.
"Nggak ada gunanya." Pria itu berjalan mendekati sahabatnya, ikut duduk saling berhadapan. Harapan Samuel telah pupus, dia akan berusaha untuk menerima takdirnya yang memang tidak bisa bersatu dengan orang yang dia cintai sejak dulu.
Terlebih, Ara sudah tidak mencintainya, padahal saat itu Samuel mempunyai harapan besar karena Asa.
"Ada, lo nggak bakal terikat pernikahan dan bebas milih pendamping hidup lo." Azka berjalan menuju balkon, menunjuk mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan jauh dari jangkuan para pengawal Daren.
"Lewat tangga darurat dan masuk ke sebuah kamar di lantai 2 unit ..., lalu melompat dari jendela, di sana nggak ada satupun orang berjaga, lo bisa langsung pergi." Azka berbalik dan memberikan kunci mobil pada Samuel. Menepuk pundak sahabatnya sebanyak tiga kali.
"Pilihan ada di tangan lo, harga diri keluarga juga ada di tangan lo. Cuma ini yang bisa gue lakuin sama yang lain, semoga berhasil."
Usai mengatakan hal tersebut, Azka segera meninggalkan kamar hotel yang ditempati Samuel. Pria itu disambut oleh ke empat temannya yang hanya menunggu dari luar.
Selain Ara, hanya Azka yang bisa bicara dengan baik sama Samuel jika keadaan genting seperti ini.
"Tunggu aja, kalau Samuel telpon otomatis kita gerak," jawab Azka.
Ke lima inti Avegas tersebut berjalan beriringan dengan setelan yang sama, yaitu jas hitam dipadukan dengan kemeja putih tanpa dasi, meski terlihat sederhana sulit di pungkiri aura mereka cukup menarik perhatian orang, terlebih saat tiba di lantai dasar.
Senyuman Azka mengembang melihat wanita cantik bersama gadis cilik sedang berbincang dengan maminya.
"Papa!" Gadis kecil langsung berlari dan memeluk kaki jenjang Azka, membuat pria itu berjongkok untuk mengendong putrinya yang telah berusia 6 tahun. Namanya Sheila.
"Kenapa, hm?" Mengecup pipi cupi tersebut.
Sheila mengelengkan kepalanya, melingkarkan tangan mungilnya di leher Azka.
"Chei cari papa tadi, ternyata sama om ganteng." Gadis itu membisikkan sesuatu di telingan papanya.
"Tadi ada orang jelek yang godain mama."
Mata Azka sontak membulat sempurna, tatapannya tertuju pada Salsa yang tengah berbincang dengan maminya. Tanpa meminta izin pada sang sahabat, Azka menghampiri Salsa.
"Akhirnya ketemu juga, tapi aku nyariin kemana-mana, ternyata ada di ...." Mata Salsa membulat sempurna ketika pipinya tiba-tiba dikecup padahal sangat banyak orang, terlebih ada mertuanya.
"Azka!" Tegur Salsa.
"Kata Shei, ada yang godain kamu tadi? Aku kan udah bilang jangan dandan terlalu cantik Sal! Kamu mau aku jadi pembunuh, hm?"
"Ck, apaansih bapak dua anak ini." Kesal Salsa yang wajahnya telah memerah karena diperhatikan oleh mami Azka.
"Sudahlah, dasar bucin!"