
Setelah makan siang bersama di kantin, Ara segera pamit pada Samuel untuk menuju perpustakaan menemui Edgar yang tengah menunggunya.
Gadis imut itu menarik tangannya dari genggaman Samuel.
"Ara mau belajar Abang," ucapnya.
"Ya udah gue ...."
"Ara belajarnya sama Milo. Dia janji mau jelasin tugas yang Ara lupa kerjain semalam. Boleh ya? Ara janji nggak pegang-pegang." Ara menangkup kedua tangan tidak lupa mengerjap-erjapkan matanya yang terlihat sangat manis di mana Samuel.
Helaan nafas terdengar sebelum Samuel kembali bicara.
"Pergilah!"
"Makasih Abang." Dengan pancaran bahagia di matanya, Ara langsung berlari menuju perpustakaan tanpa peduli lagi pada Samuel yang masih menatapnya dari kejauhan.
Laki-laki wajah dingin itu menoleh ketika merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang.
"Ara banyak berubah El, lo nggak takut?" tanya Keenan ikut memadangi Ara yang sudah berada di seberang lapangan.
"Takut?" Samuel menaikkan alisnya.
"Hm, takut kalau aja dia udah ngerti dunia ini sekejam apa. Lo udah ngomong belum tentang perasaan lo?" tanya Keenan lagi dan dijawab gelengan kepala oleh Samuel.
"Perempuan butuh kepastian El. Gue dan Dito kehilangan Salsa dan Alana karena jadi pengecut yang nggak mau ngakuin perasaan yang sebenarnya. Jangan sampai lo kehilangan Ara karena hal yang sama," lanjut Keenan dengan senyum hangatnya.
Keenan, wakil ketua Avegas yang sangat waras dari yang lainnya. Tidak gila karena cinta, juga tidak bodoh karena emosi. Selalu mengalah karena rasa sabar di hatinya begitu besar. Sakin besarnya dia merelakan cinta pertamanya pada ketuanya sendiri.
"Gue belum bisa," jawab Samuel. "Gue ngerasa nggak pantas dapatin dia dengan mudah Keen. Kenapa Ara nggak bisa benci gue?"
Keenan tertawa. "Lo serius mau dibenci sama Ara? Yakin kuat El? Ara jauhin lo karena ancaman Saga aja uring-uringan," ledeknya hingga mendapat lirikan tajam dari Samuel.
"Terserah lo lah, intinya hati-hati sama Sagara. Sekarang adem-adem aja, kayaknya dia lagi ngatur strategi. Nggak mungkin kan dia nggak tau kalau Ara balik lagi sama lo?"
Samuel menghela nafas mendengar nama Sagara. Mempunyai kekuasaan, membuat Sagara bisa melakukan apapun padanya juga Ara, terlebih dia tidak bisa memakai kekuasaan papinya. Jika itu terjadi, maka orang tuanya juga orang tua Ara akan tahu.
Deon mengirim Ara padanya karena ingin gadis itu hidup damai tanpa ada ancaman, bagaimana jika Deon tahu yang sebenarnya? Bukankah dia akan kehilangan Ara?
***
Laki-laki itu sangat mengantuk karena bekerja malam. Dia bekerja sebagai bartender di usia 16 tahun. Hal itu sangat dilarang, bahkan syarat menjadi bartender adalah 21 tahun. Namun, Edgar nekat masuk melalui kakak sepupunya demi sejumblah uang.
Mungkin jika sekolah tahu hal ini, entah apa yang terjadi.
"Milo!" panggil Ara sekali lagi.
Yang di panggil perlahan-lahan membuka matanya. Dia tersenyum pada gadis yang berdiri di sampingnya.
"Lama banget, gue sampai ketiduran," ucap Edgar.
"Tadi izin sama Abang," cengir Ara. "Milo kenapa selalu tidur di perpustakaan? Milo nggak tidur di rumah?"
"Nggak," batin Edgar. "Tidurlah, tapi bentar doang," cengirnya membuat Ara mengerti.
Seperti janjinya tadi, Edgar segera membantu Ara mengerjakan tugas matematinya yang belum dikerjakan. Hanya sebagai lahitan, sebab tugas yang sebenarnya sudah disetor.
"El nggak marah kan sama lo karena dekat gue?" Edgar memastikan lagi.
"Nggak Milo, tadi Ara juga izin sama Abang. Katanya boleh. Oh iya, besok Milo jangan makan banyak-banyak ya, Ara mau bawa bekal. Tenang aja Abang nggak bakal marah, soalnya Ara bakal bawa dua."
"Nggak usah."
"Pokoknya Ara mau, kalau milo nggak mau makan, Ara ngambek." Ara mengembungkan pipinya membuat Edgar sangat gemas.
Kalau saja tidak ada larangan, ingin rasanya dia mencubit pipi Ara.
"Gemes banget sih lo Ra," celetuk Edgar.
"Ara emang gemesin," sahut gadis imut itu menutup mulutnya karena cekikikan. Dia menoleh ketika seseorang ikut duduk di sampingnya.
"Abang?" kaget Ara.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.