
Samuel menghela nafas panjang, berkali-kali laki-laki wajah dingin itu mengecup punggung tangan Ara yang kini terbaring di atas brangkar rumah sakit dekat sekolah.
Pancaran mata Samuel menyiratkan kesedihan sebab merasa tidak becus menjadi tunangan. Ara selalu tahu apa yang tidak dia sukai, tapi dia sangat acuh dan tidak tahu tentang Ara sedikitpun.
"Kayaknya gue emang nggak pantes," gumam Samuel hendak berdiri dari duduknya, tapi tangannya ditarik oleh seseorang.
"Jangan pergi," lirih Ara.
Samuel senyum tipis dan kembali duduk di tempatnya. "Maafin gue," lirih Samuel.
"Kenapa Abang minta maaf? Ara pingsan karena sesak nafas bukan ...."
"Alergi!" tekan Samuel. Dia meraih tangan Ara untuk dia genggam. "Kenapa nggak ngomong kalau lo alergi nanas hm? Kenapa nggak nolak Ra?"
"Ara nggak mau buat Abang sedih. Ara ngira kalau minum dikit nggak bakal ngaruh, tau-taunya Ara sesak nafas," sesal Ara.
"Jangan lagi ya? Lo buat gue ngerasa nggak guna jadi tunangan lo Ra."
"Maafin Ara."
"Dimaafin." Samuel mengelus rambut Ara penuh kelembutan. Atensi keduanya beralih pada pintu ketika tiga manusia paruh baya masuk keruangan rawat Ara.
"Kenapa bisa masuk rumah sakit Nak? Padahal pas pergi baik-baik aja." tanya Kirana langsung duduk di sisi brangkar setelah Samuel telah menyingkir.
"Ara salah minum jus Bunda. Ara kira itu jus mangga ternyata ...."
"Saya yang ngasih jus nanas ke Ara tante. Saya nggak tau kalau dia alergi buah itu," jujur Samuel tidak ingin menciptakan kebohongan lagi.
Sudah cukup baginya berbohong tentang penculikan Ara, sekarang tidak lagi.
"Aduh El, kenapa harus gini sih Nak? Ara tunangan kamu, udah seharusnya ...."
"Abang nggak salah Mam, yang salah Ara karena nggak beritahu Abang. Jangan marahin Abang ya!" pinta Ara meraih tangan Fany yang akan mengomeli Samuel.
"Ara udah sehat dan nggak papa. Tinggal nunggu dokter dan pulang." Ara bangun dengan wajah gembiranya.
Menatap ayahnya yang tengah memperhatikan Samuel. "Ayah ayo gendong Ara!" Dia merentangkan tangannya lebar-lebar.
Saat itu juga Deon menghampiri Ara dan mengedongnya. "Putri ayah nggak boleh masuk rumah sakit lagi."
"Ara janji," sahut Ara.
"Abang, Ara mau ...."
"Baik om."
***
"Kenapa Ayah ngusir Abang?" tanya Ara. Gadis imut itu menarik tangan ayahnya yang hendak keluar dari kamar. "Ara nggak suka kalau ...."
"Ayah juga nggak suka kalau putri ayah keluar masuk rumah sakit. Kamu sering ngomong Samuel suka dan perhatian sama kamu. Tapi dia udah buat kamu masuk rumah sakit berulang kali!" tegas Deon.
"Abang nggak tau kalau Ara ...."
"Orang yang benar-benar suka sama kamu udah pasti tahu semua tentang kamu Nak, bukan kayak ...."
"Abang suka sama Ara!"
"Bohong!"
Ara terkesiap, untuk pertama kalinya dia mendapati ayahnya berteriak dan menatapnya dengan mata memerah. "Ayah kenapa?"
"Ayah nggak papa Nak, dia lagi lelah dan khawatir sama kamu." Kirana membelai rambut indah Ara. Mata gadis imut itu berkaca-kaca.
"Ayah kenapa teriak sama Ara?"
"Bukan apa-apa Nak." Kirana memuluk tubuh putrinya agar tidak menangis. Setelah menenangkan dia menghampiri Deon di kamar utama.
Duduk di sisi ranjang dan meraih tangan suaminya.
"Ada apa hm?" tanya Kirana lembut.
"Aku marah sama Samuel, Rana."
"Kok bisa? Apa anak itu buat masalah sama kamu?"
Deon menghela nafas panjang. "Dia bohong tentang penculikan Ara. Putri kita bukan korban salah sasaran tapi Ara diculik sama musuh Samuel Sayang!" jawab Deon dengan tangan terkepal hebat.
"Tapi nggak harus marah gini. Semuanya sudah berlalu dan ...."
"Akan terjadi lagi kalau saja Samuel terus bersama Ara!"
...****************...
Maaf ya otor baru bisa up sekarang🙏. Semoga ada yang rindu sama Elara