Lost Love

Lost Love
Part 64 ~ Trik Mami Fany


Samuel bersandar pada sofa seraya bersedekap dada memperhatikan dua perempuan yang mungkin Samuel cintai.


Otak laki-laki wajah dingin itu masih blank karena tingkah konyol Ara pagi-pagi. Bisa-bisanya dia mengenal gadis sebodoh dan sepolos Ara.


"Udah jangan nangis, Ara bukan sakit keras kok. Ini tuh normal buat perempuan Sayang. Setiap bulannya bakal kedatangan tamu," jelas Fany mengusap kepala Ara yang kini memeluk tubuhnya. "Perut sama pinggangnya nggak sakit lagi?"


Ara mengelengkan kepalanya. Rasa nyeri sempat gadis imut itu rasakan tapi hanya sebentar sebelum darah keluar. Ini pertama untuknya mengalami haid itulah mengapa sedikit kaget. Apalagi saat akan mandi untuk berangkat sekolah tadi.


"Jadi Ara nggak sakit keras?" tanya gadis imut itu mendongak untuk menatap calon mertuanya.


"Sama sekali nggak. Ini namanya Haid, Ara tau darah Haid?"


Ara menganggukkan kepalanya mengerti. "Bunda pernah ngomong kalau orang ha ...." Gadis itu sontak menepuk keningnya sendiri membuat Samuel dan Fany heran melihatnya.


"Ara lupa Mami. Bunda pernah ngomong sama Ara sebelum pergi. Katanya kalau udah kenal cinta-cintaan Ara bakal haid. Bakal ada darah keluar dari anu Ara. Ara baru ingat, tadi takut jadi lupa. Ara takut sakit keras."


Fany sontak tertawa mendengar cerita konyol putri dari sahabatnya. "Sekarang Ara ngerti?"


Ara lagi-lagi menganggukkan kepalanya. "Ara ngerti Mami. Tapi katanya kalau Haid Bunda nyuruh Ara beli pembalut. Belinya dimana?"


Samuel meringis mendengar pembicaraan dua perempuan dihadapannya. Meski dia laki-laki dingin dan cuek, bukan berarti dia tidak tahu tentang siklus bulanan perempuan. Bahkan sepertinya Samuel lebih mengerti dari Ara.


Kembali pada dua perempuan cantik tersebut. Kini giliran Fany yang menepuk keningnya karena melupakan sesuatu sebab sibuk menenangkan Ara tadi.


Wanita paruh baya itu menatap putranya dengan senyuman. Samuel yang mengerti kemana pikiran maminya segera berdiri.


"Samuel mau ke sekolah," ucap Samuel.


"El, kamu mau masuk neraka hah?" ancam Fany.


"Pokoknya El nggak mau Mam!" bantah Samuel, meski belum disuruh perasaan laki-laki itu sudah tidak enak sejak Fany menatapnya.


"Bentar aja Nak, di depan ada indoapril, beliin satu aja buat Ara. Kamu tega Ara terus duduk di ranjang gini?" pinta Fany lembut.


"Abang mau beliin Ara?" tanya Ara mengerjap-erjapkan matanya.


"Nggak!"


"El!" tegur Fany dengan mata melotot.


"Nggak papa mami siapa tau Abang mau ke sekolah takut telat. Nanti Ara telpon Milo aja pasti belum berangkat. Ara bisa minta tolong Milo singgah ...."


"Lo mau mati?" tanya Samuel dengan gigi bergemulutuk.


Melihat hal itu membuat senyuman Fany mengembang. Wanita paruh baya itu merasakan aura-aura kecemburuan dalam diri putranya. Ingin memanfaatkan keadaan, Fany segera angkat bicara.


"Milo yang tampan itu ya? Ya udah Nak, telpon Milo biar ...."


"Biar El aja!" ucap Samuel tidak ikhlas dan keluar dari kamar.


Sementara Fany tertawa sangat renyah membuat Ara bingung melihatnya.


"Mami kenapa?" tanya Ara.


"Mami senang Nak. Mau dengar saran dari mami?" Ara menganggukkan kepalanya.


"Kalau kamu minta Abang ngelakuin sesuatu tapi Abangnya nggak mau. Ara ngomong aja mau minta Milo yang lakuin, pasti Abang langsung mau," jelas Fany.


"Kenapa Abang mau kalau Ara bilang Milo, mami?"


"Pokonya ikutin saran mami aja dan jangan banyak tanya!"


"Oke Mami."