
"Kenapa Ara yang selalu salah di mata Abang? Apapun yang Ara lakukan tetap aja nggak pernah benar di mana Abang. Ara cuma nepatin janji, Ara juga nggak hamil dan Ara nggak selingkuh sama siapapun!" lirih Ara dengan deraian air mata.
Gadis itu jatuh terduduk di atas lantai kotor. Menepis tangan Edgar maupun Rayhan saat akan menolong dirinya.
"Ara nggak pernah tahu apa kesalahan Ara sampai Abang benci sama Ara. Hari ini Ara datang cuma mau hibur Abang tapi malah di hina hamil. Apa Ara semurah itu di mata Abang?"
Ara mendongakkan kepalanya hanya untuk menatap mata Samuel yang masih memerah.
"Kenapa Ara nggak bisa benci sama Abang, kenapa!" teriak gadis imut itu sekencang mungkin. "Selama Abang nyiksa Ara, Ara selalu mikir buat jauh-jauh dari Abang tapi nggak bisa. Setiap Ara liat Abang hati Ara selalu luluh. Ara nggak bisa benci sama Abang." Ara terus saja menangis di hadapan 7 laki-laki tampan tanpa ada rasa malu.
Mungkin fisik dan hatinya bisa dia terima jika disakiti, tapi tidak dengan hinaan yang diberikan Samuel untuknya. Tapi kenapa dia sangat sulit untuk pergi dan membenci tunangannya? Bahkan sering kali ingin kembali dan bermanja pada Samuel.
Edgar berjongkok, mengapus air mata Ara yang terus saja mengalir. "Ara kita ...."
"Brengsek lo El!" geram Rayhan langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah Samuel. Laki-laki playboy itu menatir kerah kemeja Samuel dengan tatapan berapi-rapi.
"Mungkin Ara memang murah karena bisa dekat sama siapapun! Tapi asal lo tahu, cewek yang selalu lo bangga-banggakan itu Murahan!" tekan Rayhan pada kata murahan.
"Murah masih bisa dibeli, tapi nggak dengan murahan!" Rayhan mendorong tubuh Samuel cukup keras.
Cuih
Dia meludah tepat di samping kaki sahabatnya. "Gadis hamil di luar nikah saja dibela mati-matian. Lo yang hamilin?"
"Ray!" tegur Azka dan Keenan.
Kedua laki-laki itu menahan tubuh Samuel ketika akan memukul Rayhan, sementara yang baru saja menyulut emosi menarik Ara pergi dari warung bu Warni, bahkan menepis tangan Edgar agar tidak menyentuh Ara.
Rayhan membawa Ara ke rooftop sekolah. Tempat yang selalu menjadi tempat dia menemani Salsa jika sedang bertengkar dengan Azka, dan ini pertama kalinya dia membawa Ara.
"Ara nggak murahan, Ara nggak hamil," lirih gadis itu sesegukan.
"Gue tau lo nggak murahan dan nggak mungkin hamil. Adek cantik gue ini anak baik-baik. Udah ya Ra, tinggalin sepupu gue, dia nggak pantes buat lo!" pinta Rayhan.
Mungkin cara Rayhan salah karena berusaha memisahkan Samuel dan Ara, tapi hanya itu yang bisa Rayhan lakukan agar Samuel tidak semakin menggila dan menyiksa Ara.
Emosi Samuel masih tidak stabil setelah kehilangan Sasa, bahkan tidak ingin mendengarkan fakta yang sebenarnya.
"Lo cantik dan sempurna, bisa sama siapa aja," lanjut Rayhan.
Ara mengelengkan kepalanya. "Ara cuma cinta sama Abang, kak."
"Cinta boleh Ra, bodoh jangan!"
Ara terdiam, begitupun dengan Rayhan. Terjadi keheningan di antara mereka hingga kedatangan seseorang membuat suasana menjadi lebih hidup. Dia adalah Salsa, Alana dan Keenan.
"Jangan percaya sama playboy Ra, sini sama gue aja." Keenan mendorong tubuh Rayhan dan duduk di samping Ara.
"Heleh, daripada lo bujang karatan!" ejek Rayhan. "Dilihat dari sudut manapun Ya, gue tuh tampan paripurna, terbukti bisa punya 36 pacar." Bangganya.
"Hilih buat dosa kok bangga," cibir Alana.
"Jangan gabung sama mereka berdua Ra, lo ketularan sinting nanti!" peringatan Rayhan tidak ingin Ara dekat-dekat dengan Alana ataupun Salsa.
Ara yang melihat perdebatan tersebut malah tersenyum sumbringan. "Ara mau temenan sama kalian boleh? Ara nggak punya teman selain Abang dan Milo."
"Boleh banget dong, lo juga sering-sering deh sama kita. Di sekolah ini banyak ondel-ondel soalnya."