Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
80. Kebahagiaan Danu Dan Laras


Hari demi hari, dan minggu demi minggu. Hinggga bertahun-tahun lamanya, kini kebahagiaan Laras dan Danu selalu tampak setiap hari. Meski Danu adalah laki-laki pendiam, dia sangat menyayangi anaknya.


Terbukti sekarang dia sering sekali bermain dengan Rion, yang kini sudah berusia dua tahun lebih. Dan Laras sedang mengandung anaknya lagi.


Danu senang sekali, dia akan mempunyai anak lagi dari Laras. Dan kehamilan Laras ini sudah menginjak usia sembilan bulan. Laras dan Danu serta anaknya Rion saat ini sedang berlibur ke pantai.


Tak lupa juga Dian ikut serta liburan bersama mereka.


"Dian, apa kamu tidak mau memikirkan menikah?" tanya Laras.


"Nanti saja kak, aku masih senang sendiri dulu. Mau bantu kak Laras saja dulu." kata Dian.


"Tapi usiamu sudah cukup untuk menikah. Mas Danu punya teman katanya, dia baik kok." kata Laras.


"Teman pak Danu kan tua semua kak, pasti sudah berumur." kata Dian.


"Kamu ingat laki-laki yang dulu membeli kue sewaktu kita mengontrak di belakang Makam Panjang?" tanya Laras.


Ingatan Dian menuju kontrakan waktu itu, dia ingat ada laki-laki yang membeli secara langsung kue buatan Laras. Dan akhirnya pertemuan Laras dan Danu terjadi di pemakaman mertuanya.


"Ya, kenapa?"


"Dia itu suruhan mas Danu untuk mencariku waktu itu, mas Danu pernah cerita. Dan laki-laki itu baik sekali, sampai saat ini dia masih sendiri." kata Laras.


"Aku tidak tahu kak." jawab Dian.


"Nanti kata mas Danu, kalau kamu mau di kenalkan lagi. Namanya Reiga." kata Laras lagi.


Dian diam saja, sesuatu yang aneh bagi dia. Tapi berkenalan apa salahnya?


"Mau kan Dian?" tanya Laras.


"Boleh sih untuk kenalan." kata Dian.


"Aku panggil mas Danu dulu ya." ucap Laras.


Dia berusaha berdiri, dengan perut yang membesar itu sangat susah untuk berdiri sendiri. Jadi Dian membantu Laras berdiri, kemudian Laras pun menghampiri suaminya yang sedang bermain pasir dengan anaknya Rion.


Laras melihat keduanya sangat senang, dengan jalan pelan sekali. Laras menghampiri suaminya.


"Mas, katanya teman mas Danu ada di sini?" tanya Laras.


"Reiga maksud kamu?" tanya Danu.


"Iya. Dian mau katanya berkenalan." kata Laras.


"Emm, aku telepon dia ya. Katanya sedang kerja sih di sini." kata Danu.


"Memang dia kerja apa?"


"Ngga tahu, tapi seperti sedang survei barang-barang deh. Dan kebetulan dia ada di sini juga. Aku telepon deh." kata Danu.


Dia lalu meneleon Reiga untuk datang ke tempatnya berlibur. Hanya bicara sebentar, kemudian mereka menunggu Reiga datang.


"Pa, ayo dong bikin lagi gedung penjaranya." kata Rion.


"Iya sayang, tadi mama tanya sebentar." kata Danu.


Keduanya pun kembali bermain pasir dan membuat bangunan-bangunan dari pasir-pasir yang mereka tumpuk. Laras tersenyum, dia berbalik hendak meninggalkan suami dan anaknya yang sedang bermain.


Tapi tiba-tiba perut Laras terasa sakit. Dan sakitnya semakin lama sekakin hebat saja, Laras meringis kesakitan. Dia memanggil suaminya.


"Mas, sepertinya aku mau melahirkan deh. Aduuuh!" kata Laras.


"Ya Allah, ayo kita langsung ke rumah sakit." kata Danu.


Mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah sakit, semua barang-barang di beresi dengan cepat. Danu panik bukan main, meski dia pernah melihat istrinya mau melahirkan. Tapi tetap saja dia panik sekali.


_


Dua hari setelah melahirkan, Danu menemani istrinya di rumah sakit. Karena belum di perbolehkan pulang, jadi dia menunggui istrinya. Dan lengkap sudah kebahagiaan Danu dan Laras, anak kedua mereka berjenis kelamin perempuan.


Betapa bahagianya Danu mendapatkan anak perempuan, dia selalu menggendongnya. Laras hanya tersenyum saja melihat suaminya begitu seringnya menggendong anaknya itu.


"Oh ya, kok sudah dua hari kamu belum kasih nama sih mas? Katanya mau kasih nama sendiri sama anak kita itu." tanya Laras.


"Emm, ya. Aku sampai bingung memikirkan nama untuknya." kata Danu selalu menciumi pipi anak perempuannya itu.


"Lalu, siapa namanya?" tanya Laras.


"Reina Altafunnisa. Aku suka nama itu." kata Danu.


"Ya, aku membayangkan Reina akan lari-lari dengan rambut di kuncir dua dan berteriak papa! Heheh." kata Danu.


"Kamu itu ada-ada saja mas. Tapi bagus kok namanya, aku suka." kata Laras.


"Jadi, nama anak kita huruf R semua ya." kata Danu.


"Ya, sudah cukup ya mas dua anak saja." kata Laras.


Danu meletakkan bayinya di boks bayi, dia kemudian melangkah mendekati istrinya lalu mencium keningnya.


"Aku ingin satu lagi, terserah saja mau laki-laki atau perempuan. Aku suka." kata Danu.


"Duh, baru juga kemarin melahirkan. Kok sudah bicara mau bikin anak lagi sih mas." kata Laras.


"Ya nanti, kalau Reina sudah dua tahun juga sama dengan Rion. Ngga apa-apa ya." kata Danu kembali mencium istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ya, lihat nanti aja mas." jawab Laras.


Dia kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah. Danu membantu Laras untuk tidur siang ini. Tapi keduanya terkejut dengan kedatangan Dian membawa Rion menjenguk mamanya.


"Papa, mama!" teriak Rion.


"Hei, sayang bawa apa?" tanya Laras.


"Ini ma, kata tante Dian suruh bawa bunga buat mama." jawab Rion memberikan bunga pada Laras.


"Terima kasih sayang."


"Papa ngga di kasih?"


"Papa pengen juga?"


"Ngga, buat mama aja." kata Danu mengambil anak laki-laki itu untuk di gendong dan duduk di sebelah Laras.


Dian tersenyum senang, akhirnya dia melihat kebahagiaan Laras dan keluarganya. Danu, yang dulu mengusirnya juga kini jadi semakin baik. Dan pada dasarnya Danu adalah laki-laki baik, hanya saja laki-laki itu pendiam dan angkuh waktu itu.


Tapi sekarang, keduanya sangat bahagia. Meski Dian tahu Danu bukanlah laki-laki romantis, tapi dia tahu sebagian perjalanan hidup Laras dan Danu. Dari hidup yang di sia-siakan oleh suaminya, hingga sekarang laki-laki yang dulu membuat Dian takut kini jadi lebih perhatian pada Laras.


Dian adalah saksi di mana kehidupan pahit Laras dan sekarang kebahagiaan menghampiri mereka. Dia juga ikut senang melihat Laras, anak panti asuhan pertama di panti asuhan itu lebih bahagia dengan hidupnya sekarang.


Mungkin Dian akan memikirkan masa depannya sendiri setelah melihat Laras dan Danu bahagia.


"Selamat siang." kata seseorang yang berdiri di depan pintu.


"Reiga, masuk." kata Danu.


Reiga pun masuk dengan membawa parsel buah di tangannya. Dia menjenguk Laras. Dian mengajak Rion untuk keluar, tapi di cegah oleh Danu dan Laras.


"Eh, mau kemana Dian?" tanya Laras.


"Mau bawa Rion jalan-jalan kak." jawab Dian melirik sekilas pada Reiga.


"Emm, nanti dulu. Kamu tahu kan Reiga ini?" tanya Laras.


"Saya sudah kenalan sama Dian tadi di luar bu." kata Reiga.


"Waah, jadi kalian sudah kenalan lebih dulu?"


"Heheh, tidak sengaja pak Danu. Ternyata gadis itu yang mau di kenalkan pada Danu sama saya." kata Reiga.


"Iya, Dian namanya. Dia baik lho, sering bantu Laras selama ini." kata Danu.


Reiga tersenyum, sedangkan Dian hanya menunduk saja. Dia merasa malu dengan ucapan Reiga tadi.


_


Kehidupan Laras dan Danu semakin membahagiakan, mereka jarang bertengkar. Jika berselisih pendapat, keduanya berdiskusi lagi mengenai kedua anaknya.


Dian dan Reiga kini sudah merencanakan pernikahan, setelah enam bulan lalu di kenalkan di rumah sakit sewaktu menjenguk Laras. Reiga tidak mau membuang waktu lagi, karena dia juga suka Dian. Jadi keduanya sepakat akan menikah satu bulan lagi.


Semua akan bahagia pada waktunya, baik Danu yang kini sudah mempunyai anak dari Laras. Begitu juga Laras, dia sangat bahagia dengan suaminya yang semakin hari semakin banyak perubahannya jadi lebih baik.


>>>>>>>>>>>>>>> t a m a t <<<<<<<<<<<<<<<<<<<


_


_


********************