
Entah berapa lama waktu yang dihabiskan Nathan untuk menyesali perbuatannya. Tapi yang jelas pria itu sudah tertidur tanpa mengubah posisinya. Masih duduk di tempat semula dengan memegang tangan Oddie meskipun nyaris terlepas. Sementara itu Oddie yang sudah berjam-jam tertidur akhirnya mulai sadar. Tepatnya saat pagi mulai menyapa.
Matanya masih setengah terbuka tapi dia tahu siapa pria yang memegang tangannya saat ini. Jika itu dulu, Oddie pasti akan tersenyum. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda karena cinta dan benci itu sangat tipis perbedaannya.
"Dean, kau benar-benar seperti monster. Menikahiku lalu menyakitiku. Mengataiku wanita murahan lalu memaksa tidur denganku. Dan hari ini kau kembali menyiksaku lalu menolongku lagi. Dean, apa kau pikir satu nyawaku ini kau anggap sebagai mainan?" batin Oddie setelah menyadari dimana dia sekarang.
Oddie tersenyum getir. Lalu memandangi ruangan seperti apa tempatnya dirawat sekarang. Biaya rumah sakit terakhir kali bahkan belum Oddie lunasi. Dan sekarang Nathan membuatnya berbaring di ruangan VVIP. Oddie butuh uang untuk biaya persalinannya nanti. Butuh uang juga untuk membesarkan anaknya nanti. Kalau Nathan terus-terusan membawanya ke rumah sakit lalu marah karena biaya yang besar, apa itu berarti Oddie harus menggantinya lagi?
Tidak. Oddie sudah tidak ingin mengganti lagi. Persetan dengan ganti rugi. Karena jika ada yang ganti rugi Nathan dan Kirana lah orangnya. Karena Oddie yang sakit atau Oddie yang cacat sampai masuk rumah sakit semuanya berawal dari Nathan dan Kirana.
"Sama sepertimu yang selalu bilang membenciku. Aku pun juga sudah sangat membencimu, Dean!"
Oddie melepaskan tangannya dari genggaman Nathan. Sangat pelan agar Nathan tidak bangun. Setelah itu Oddie langsung pergi bahkan tanpa mengganti pakaian yang dia kenakan. Tanpa tahu bahwa ayah dan ibunya dinyatakan tidak bersalah. Tujuan Oddie saat ini adalah rumah Kakek Moeis. Biarkan sekali ini saja Oddie meminta tolong. Bukan demi dirinya tapi demi anak yang ada di perutnya. Anak itu harus selamat, dan Kakek Moeis lah satu-satunya harapan untuk berlindung. Soal hubungan Nathan dan Kakek Moeis yang mungkin memanas Oddie sudah tidak peduli lagi.
"Taksi!"
Oddie melambaikan tangannya. Sebuah taksi menepi, Oddie sudah membuka pintunya tapi siapa sangka Nathan sudah mengikutinya.
"Kau mau kemana, Die?" panggil Nathan.
Entah kapan pria itu bangun, tapi Nathan sudah berdiri di belakang Oddie sekarang. Menahan Oddie, menutup kembali pintu itu dan meminta maaf kepada sopir taksi lalu memberikannya beberapa lembar uang sebagai bentuk kompensasi karena tidak jadi menggunakan jasanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Oddie.
Tapi pertanyaan itu diabaikan Nathan. "Maaf, istriku belum diijinkan keluar dari rumah sakit!" kata Nathan sopan.
Sopir taksi itu mengangguk. Mengatakan bahwa dia mengerti dan menolak uang yang Nathan berikan. Tapi Nathan memaksanya untuk menerima. Sementara Oddie yang dipegang Nathan hanya memalingkan muka. Mendengar Nathan menyebutnya istri ternyata malah membuat dadanya sesak.
Istri katanya. Bagus sekali cara Nathan mempermainkannya. Selama menikah itu adalah sebutan yang haram keluar dari mulut Nathan. Sungguh, Oddie sudah tidak ingin lagi menjadi istri Nathan. Karena yang tersisa di hatinya hanyalah kebencian.
"Kembali sekarang juga!" perintah Nathan.
"Tidak mau!" tolak Oddie.
"Die, Dokter bilang kau harus istirahat total. Kalau kau ingin pergi, aku bisa mengantarmu. Tapi setelah kau pulih nanti," bujuk Nathan.
Oddie tidak bergeming. Oddie tahu bagaimana kondisinya. Dia tahu kalau keadaannya mengharuskannya istirahat. Tapi bukan berarti beristirahat dengan ditemani Nathan. Atas dasar apa. Kenapa Nathan tiba-tiba menjadi aneh. Jujur saja Oddie mencurigai sikap baik Nathan karena Nathan tidak pernah melakukan ini setelah mereka menikah. Dan sikap baiknya ini membuat Oddie muak.
"Die, anakku yang ada di perutmu itu bisa mati kalau kau keras kepala seperti ini!" bujuk Nathan lagi. Wajah Nathan terlihat serius. Tapi itu malah membuat Oddie kesal setengah mati.
Oddie tertawa sambil menangis. Oh, jadi Nathan sudah tahu dia hamil. Pantas saja sikapnya berubah. Tapi memangnya kenapa kalau Nathan sudah tahu. Oddie tidak butuh pengakuan dari Nathan. Oddie bahkan tidak ingin Nathan jadi ayah dari bayinya.
"Kau salah. Dia hanya anakku, bukan anakmu," kata Oddie dengan mata berkaca-kaca.
Tapi pembenaran Nathan membuat Oddie marah. "Aku bilang dia anakku. Dia bukan anakmu, Dean Nathan!" teriak Oddie.
Oddie hanya berteriak sekali saja. Tapi perutnya sudah bereaksi. Oddie memegangi perutnya yang sakit. Terlalu sakit sampai dia tidak bisa menopang tubuhnya dengan benar. Beruntung Nathan dengan sigap menangkapnya yang hampir lolos ke tanah.
"Akh!" rintih Oddie.
"Bukankah aku sudah bilang kau harus istirahat?" omel Nathan.
Nathan akhirnya mengangkat tubuh itu dengan mudah. Membawanya kembali ke kamar pasien dan memanggil Dokter yang kebetulan sedang mencarinya karena tidak ada di kamarnya. Setelah memeriksa kondisi Oddie dan memberikannya obat, Dokter itu memberikan peringatan keras kepada Oddie agar Oddie tidak terbawa emosi dan kabur-kaburan lagi.
"Nona Oddie, apa kau tahu di luar sana banyak sekali orang yang ingin mempunyai anak? Kau adalah salah satu yang beruntung karena diberikan kesempatan untuk menjadi calon ibu. Tidakkah kau berpikir untuk menuruti saran dokter dan beristirahat dengan benar demi keselamatan calon buah hati kalian?" tanya Dokter.
Oddie tidak berani menjawab. Tapi matanya sudah menjelaskan semuanya. Dokter melihat Nathan sebentar. Sebelum mengajaknya keluar kamar untuk mendiskualifikasi sesuatu. Tapi sebagai orang yang terpelajar Nathan cukup tahu apa yang harus dia lakukan. Nathan akhirnya mengalah. Memilih pergi agar Oddie merasa nyaman dan beristirahat dengan tenang bahkan sebelum Dokter mengatakan sesuatu.
"Dokter, saya yang salah. Saya akan pergi," pamit Nathan.
Dokter itu menghela nafas panjang. Dia tahu Nathan menjaga Oddie semalaman. Dokter juga bisa melihat penyesalan di wajah itu. Tapi masalahnya Dokter tidak ingin mengambil resiko. Karena Oddie masih takut dengan Nathan, maka untuk sementara ini biarkan Nathan pergi agar Oddie beristirahat dengan tenang.
"Tolong berikan penangangan terbaik untuknya. Ini kartu nama saya. Tolong hubungi saya kalau terjadi sesuatu," pinta Nathan.
"Saya akan membantu membujuknya. Tapi tidak sekarang. Saya pasti akan menghubungi Anda jika terjadi sesuatu. Jadi tidak perlu khawatir, Anda juga harus beristirahat," kata Dokter.
Nathan tersenyum tipis. Lalu mengintip Oddie yang sudah meringkuk di kasurnya. "Bolehkah saya masuk sebelum pergi? Saya belum sempat minta maaf," ijin Nathan.
"Silahkan!" jawab Dokter.
Oddie yang mendengar suara sol sepatu milik Nathan tidak bergerak sama sekali. Dia belum tidur tapi memilih menutup mata dan menyembunyikan wajahnya agar tidak melihat Nathan. Sementara Nathan langsung mengambil jasnya, kemudian menghampiri Oddie yang meringkuk tanpa memakai selimut.
Nathan melihat Oddie sebentar. Lalu menyelimuti dan mencium keningnya beberapa kali. Tentu saja juga mengatakan kata maaf meskipun sangat terlambat. "Maafkan aku, Die!"
Jangankan mendapatkan maaf. Oddie malah mengatakan sesuatu yang baru kali ini membuat Nathan patah hati.
"Pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi seumur hidupku!" usir Oddie dengan menghapus bekas kecupan Nathan.
"Aku tahu, aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, Die!" pamit Nathan.
Pria itu segera pergi. Tentu saja dengan mata memerah. Oddie tidak salah meskipun mengusirnya. Karena Nathan lah yang salah dan pantas mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan jika boleh jujur, Nathan tahu dia pantas mendapatkan perlakuan yang lebih buruk lagi dari ini.
...***...