Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
68. Sosial Media


Danu bingung harus cari istrinya kemana lagi. Dia benar-benar frustasi, empat hari dia cuti kerja hanya untuk mencari Laras. Tapi belum ada hasilnya.


"Kemana kamu Laras?" ucap Danu dengan perasaan sedih.


Tuuut.


Suara teleponnya berbunyi, dia melihat nama Rizwan. Dengan malas dia pun menjawab telepon sahabatnya itu.


"Halo?"


"Besok kamu berangkat kan?" tanya Rizwan.


"Aku tidak tahu, Laras belum aku temukan." jawab Danu.


"Kenapa kamu tidak menyewa Reiga lagi untuk mencari istrimu itu." usul Rizwan.


"Oh ya, kenapa aku tidak menyewa dia saja ya." kata Danu seperti membodohi dirinya sendiri.


"Sewa Reiga lagi, siapa tahu dia bisa membantumu untuk menemukan istrimu itu." kata Rizwan lagi.


"Oke, aku akan hubungi Reiga untuk mencarikan istriku." kata Danu berbinar.


"Dan besok kamu harus berangkat ke kantor. Dari pusat akan meninjau dan mengaudit di kantor cabang kita, kamu harus ada di kantor." kata Rizwan lagi.


"Oke. Aku akan berangkat besok."


"Ya sudah, jangan lupa bayaran untuk Reiga."


"Tentu saja, aku tidak pernah lupa."


"Hahah!".


Klik!


Danu tersenyum, dia bersemangat lagi untuk mencari Laras. Kemudian dia menghubungi Reiga, meminta bantuannya mencarikan Laras.


Tuuuut.


"Halo pak Danu?"'


"Reiga, bisa bantu aku sekali lagi?" tanya Danu.


"Bantu menyelidiki istri pak Danu lagi?"


"Ya, tapi ini istriku yang pertama. Bukan Jasmin, kamu bisa kan?"


"Pak Danu punya dua istri?"


"Jangan kaget seperti itu!"


"Heheh! Maaf pak, saya hanya tahu itu Jasmin."


"Ya, kamu carikan istriku. Dia sedang hamil tua dan bersama dengan satu gadis yang menemaninya." kata Danu menjelaskan.


"Bisa kirim fotonya pak?"


"Foto?"


"Iya, foto istri pak Danu itu. Biar saya mudah mencarinya."


Danu diam, dia tidak punya foto Laras. Pernikahannya dulu pun bahkan tidak di foto. Kembali Danu menyesal kenapa dia tidak punya foto Laras. Bahkan di galeri ponselnya hanya ada foto Jasmin dan belum dia hapus.


"Pak Danu? Ada kan fotonya?" tanya Reiga di seberang sana.


"Aku tidak punya foto istriku itu." ucap Danu dengan pelan dan menarik nafas panjang.


Reiga di seberang sana pun ikut diam, bingung juga mencari orang tapi tidak punya fotonya.


"Coba pak Danu sebutkan saja ciri-cirinya istri pak Danu itu. Barangkali saya bisa mengingatnya dan bisa menemukan dengan ciri-ciri istri pak Danu itu." kata Reiga membuat Danu tersenyum.


Dia akan membantu sebisa mungkin agar Danu merasa senang. Meski itu agak susah, tapi dengan modal bisa menggambar sketsa wajah yang di jelaskan Danu, Reiga akan menyimpulkannya melalui gambar. Di sana dia menyiapkan semua peralatannya.


"Pak Danu, bisa kan menyebut ciri-ciri istri anda itu?"


"Ya, aku bisa menjelaskannya. Apa kamu akan mengingatnya?" tanya Danu.


"Aku coba menggambar sketsanya pak, siapa tahu saya bisa menebaknya dan akan mencarinya langsung."


"Baiklah, aku akan ceritakan ciri-cirinya."


Danu kemudian menyebutkan ciri-ciri wajah Laras dengan senang hati. Mengingat wajah lembut dan senyumnya hanya tipis ketika dia merasa kesal di depannya. Bahkan wajahnya jarang sekali cemberut, karena Laras tidak pernah marah. Sekali marah, itu pun hanya wajah masam saja.


"Seperti itu ciri-ciri Laras." kata Danu mengakhiri penjelasannya.


"Namanya siapa pak Danu?"


"Amanda Larasati, dia di panggil Laras. Dan gadis yang selalu bersamanya namanya Dian." jawab Danu.


"Oke pak, saya sudah dapatkan gambarnya. Nanti saya cari, tapi dia punya sosial media kan?"


"Aku tidak tahu, tapi kemungkinan dia punya. Karena dia berjualan kue melalui online shop."


"Baik, saya akan cari dulu melalui sosial medianya. Dan mencari fotonya, barangkali ada."


"Waah, iya. Kenapa aku tidak kepikiran sosial media Laras ya."


"Baik pak, nanti saya kabari jika sudah menemukan alamat ibu Laras itu."


"Reiga, aku mohon kamu temukan dia. Dan cari sampai dapat alamat rumahnya yang sekarang." kata Danu dengan berharap penuh pada Reiga.


"Iya pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Terima kasih, Reiga. Aku akan transfer uangnya sama kamu sekarang, untuk akomodasi kamu saja. Uang bayarannya setelah kamu dapatkan alamat rumahnya ya."


"Oke pak, terima kasih."


Klik!


Danu senang, dia lalu membuka M-bankingnya dan mengirim sejumlah uang kembali pada Reiga sebesar lika juta. Agar Reiga lebih bersemangat mencari Laras, karena dia hanya bermodalkan sketsa gambar di tangan tentang istrinya itu.


Satu pesan masuk di ponselnya dan bertulisakan terima kasih dari Reiga. Danu tersenyum, dia tahu laki-laki itu sangat baik mau membantunya. Dia akan berangkat kerja besok, sambil menunggu kabar dari Reiga.


_


Reiga pun menatap sketsa wajah yang dia gambar itu. Agak bingung karena harus mencari tidak ada alamat rumah dan tempat yang sering dia kunjungi. Tapi kemudian dia pun membuka sosial medianya. Mencari nama Amanda Larasati, banyak sekali nama seperti itu di sana. Reiga bingung yang mana yang harus dia cari.


Tapi akhirnya satu persatu. Naman Amanda Larasati saja ada tujuh akun di sana, dia membuka satu persatu dan hampir mirip semuanya akun itu berjualan.


"Ck, semuanya berjualan. Apa ya jualannya ibu Laras ini?" gumam Reiga mencari-cari nama Amanda Larasati itu.


Dia terus mencarinya, membuka satu persatu. Hampir tidak ada foto di sana, yang ada status jualan. Dia terus mencari di riwayat posting terakhir statusnya.


Ada salah satu postingan dengan menampilkan kue dan di bawahnya tertulis di sana.


'Kue yang selalu di makan ketika aku mengingatmu.'


Itu semua Reiga baca, status kemarin kebanyakan posting kue-kue dan beberapa komentar ada yang membeli. Reiga membuka profil akun tersebut, tetap saja gambarnya kue-kue tidak ada foto di sana. Dan sepertinya memang di ganti oleh pemilik akun itu beberapa bulan. Jadi agak susah Reiga mencarinya.


Iseng Reiga menjawab komentar di salah satu postingannya untuk membeli kue itu. Dia mengirim pesan secara pribadi melalui pesan tersembunyi. Dan tak lama di jawab.


'*Halo kak, kakak pesan kue yang mana? Kami kirim gambarnya ya?'


'Oke*'


Akun itu pun mengirim gambar pilihan kue yang dia jual secara online. Reiga melihat kue itu sangat enak, dia memilih beberapa kue.


'*Kak, yang nomor tiga sama nomor lima ya. Itu kelihatannya enak deh.'


'Heheh, iya kak. Itu favoritku dan juga suamiku*.'


'*Ya sudah, itu saja. Tapi, bolehkan saya datang sendiri ke rumah kakak ambil kuenya.'


'Jauh kak, kakak nanti capek kalau datang ke rumah saya ambil kuenya'


'Nggak apa-apa, saya naik motor kok. Pasti cepat sampai. Kirim aja alamatnya.'


'Baik kak, saya kirim alamatnya ya*.'


Reiga tersenyum, semoga ini bertanda kalau penjual kue di online itu adalah istrinya Danu. Tak lama alamat rumah itu pun terkirim, Reiga membalas pesan itu dan segera meluncur ke tempat alamat yang sudah di kasih.


Jika bukan orang yang tadi berbalas pesan pun tidak akan rugi juga. Dia akan mencari lagi nama Amanda Larasati, ada empat orang lagi yang akan dia cari di media sosialnya.


"Semoga kali ini beruntung. Pak Danu sudah mengirim uang terlalu banyak tadi, lima juta jika hari ini ketemu. Uang itu aku kirim untuk ibu di kampung." ucap Reiga.


Dia bersiap untuk pergi ke alamat pedagang kue itu. Agak ragu juga, karena dia mengatakan punya suami. Tapi tidak mengapa, yang penting dia bisa bertemu pembuat kue secara langsung untuk mencocokkan sketsa wajah yang dia gambar dengan wajah aslinya.


_


_


*********************