Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
37. Perubahan Sikap Danu


Laras menghela nafas panjang, setelah suaminya pulang dia lalu merapikan semuanya. Dia ingin tidur siang ini, rasa sakit di bagian bawanya masih terasa. Danu sepertinya sudah lihai bercinta dengan Jasmin, jadi dia bermain begitu cepat dan lembut tidak terburu-buru.


Cuma Laras masih penasaran, apakah suaminya itu sudah mulai mempedulikannya? Bagaimana dengan istri kecil yang sangat dia cintai?


"Apa mas Danu belum bisa menerimaku? Tapi dia meminta haknya dan mau makan masakanku. Itu kemajuan sih, tapi sikapnya masih dingin dan datar sama aku." gumam Laras.


Dia masih memikirkan Danu yang tadi tidak mau di abaikan tadi ketika dia membalas chat dari pelanggannya. Tapi ketika di tanya mau apa, dia justru bingung. Bahkan ingat Jasmin lalu pergi.


"Aku tidak punya hak untuk meminta cerai, tapi aku juga ingin di hargai sebagai istri. Apa mas Danu memikirkan itu?" ucap Laras lagi.


Kini dia berpikir tentang suaminya itu, memang akhir-akhir ini Danu berubah. Meski dia masih suka menghinanya, tapi dia sudah mau makan dan datang ke rumahnya. Dan tadi siang malah minta jatah hak.


Laras menguap, matanya sudah berat. Dan akhirnya dia mengantuk lalu tidur. Di siang ini dia sangat lelah, menyiapkan dan membuat kue. Danu datang meminta haknya lalu membuat makanan untuknya. Itu sangat menguras tenaganya, dan akhirnya dia tertidur juga.


Sementara itu, Danu memikirkan istri pertamanya. Dia tidak menyangka Laras mau melayaninya, meski dia sering menghinanya dan bahkan masih acuh. Tapi akhir-akhir ini dia selalu ingin pergi ke rumah Laras.


"Apa aku sudah peduli padanya? Bahkan aku menikmati bercinta dengannya. Dia tidak menolakku." gumam Danu.


Senyumnya menyungging, mobil pun masuk ke dalam halaman rumah. Tampak gorden jendela seperti terbuka sedikit, itu artinya Jasmin sudah pulang. Danu pun senang istri kecilnya itu sudah pulang.


Dengan segera Danu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Dia bergegas masuk ke kamar dan mencari Jasmin. Tapi tidak ada, dia mendengar suara air bergemericik di kamar mandi. Danu duduk di ranjangnya, tas Jasmin ada di atas ranjang.


Jasmin keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepala. Dia melihat Danu duduk di ranjang, sempat melihat suaminya itu membuka buku yang tergeletak di kasur. Jasmin pun mendekat dan mengambil buku tersebut.


"Kamu pulang sayang? Kemana saja? Kok ngga ngabari aku kalau menginap dua hari?" tanya Danu.


"Kan aku udah kirim pesan sama kamu, kalau aku menginap di rumah ibu." kata Jasmin ketus.


"Tapi kan kamu ngga bilang dua hari menginapnya." kata Danu lagi.


"Udah sih jangan di perpanjang, aku juga udah pulang dady. Aku juga habis kerja kelompok kok di kost teman." kata Jasmin.


"Benar itu?" tanya Danu.


"Ck, dady ngga percaya banget sih." kata Jasmin.


"Oke, aku percaya sama kamu. Apa kamu sudah makan?" tanya Danu.


"Belum, kita pesan aja ya. Kamu mau pesan apa dad?" tanya Jasmin mengambil ponselnya.


"Aku udah makan. Kamu aja yang pesan makanan." jawab Danu.


"Udah makan? Makan di mana?" tanya Jasmin.


"Di rumah Laras." jawab Danu tidak sadar.


"Laras? Siapa dia?" tanya Jasmin curiga.


"Dia istriku juga." jawab Danu.


"Ooh, kamu sekarang mendekati dia ya? Bagus ya, aku kuliah dan belajar justru kamu ke rumah istri pertamamu? Kamu bilang mau menceraikan dia. Kenapa kamu masih juga belum menceraikan dia dady?!" tanya Jasmin dengan suara keras.


Jasmin tidak suka Danu malah pergi ke rumah Laras, dan justru semakin dekat. Dia tahu Danu sangat membenci istri pertamanya, bahkan Danu juga berjanji akan menceraikannya setelah dia sudah menikah dengan Jasmin. Tapi kenapa Danu malah belum menceraikan Laras.


"Tidak begitu sayang, aku butuh pelayanannya. Dia hanya sebagai pelampiasan aja. Coba kamu ingat-ingat, sudah satu minggu tidak memberiku jatah. Kamu bahkan mengabaikan teleponku, kamu juga tiga hari lalu janji memberiku jatah. Tapi kamu pergi dan menginap di rumah ibu selama tiga hari. Kepalaku pusing, aku butuh kamu. Tapi kamu tidak ada, jadi aku memaksa Laras untuk melayaniku." kata Danu.


"Heh! Laki-laki memang seperti itu, apa hanya karena itu saja?"


"Ya,kamu jangan khawatir. Cintaku tetap untuk kamu kok, semuanya untuk kamu." kata Danu.


Dia mendekat pada Jasmin, niatnya ingin meminta jatah. Tapi Jasmin justru menghindar dan pergi ke walk in kloset mengganti bajunya. Danu menghela nafas panjang, artinya Jasmin kini tidak bisa di dekati untuk meminta jatahnya.


_


Terkadang dia merasa nyaman berada di rumah Laras, karena gadis itu selalu melayaninya dengan baik. Meski Danu diam dan tidak banyak bicara di rumah Laras, tapi Laras mencoba untuk selalu bicara dengannya.


Seperti saat ini, dia baru pulang kantor. Karena lagi-lagi Jasmin izin tidak pulang ke rumahnya. Danu duduk di depan teras rumah Laras, menatap jalanan kompleks perumahan yang masih sepi karena baru rumah Laras saja yang ada penghuninya.


Laras duduk di kursi sebelah Danu, hanya di batasi meja kecil. Dia diam saja, menemani suaminya yang sepertinya sedang gelisah.


"Apa mas Danu mau menginap?" tanya Laras ragu.


"Tidak, hanya ingin duduk saja. Nanti juga pulang." kata Danu.


"Ooh, aku buatkan kopi ya?" kata Laras.


"Boleh." jawab Danu singkat.


Matanya menerawang ke depan, entah apa yang di pikirkannya. Tapi tentu saja memikirkan Jasmin, istri tercintanya. Laras menatap Danu seperti punya masalah berat, tapi dia tidak berani bertanya dengan masalah apa yang di pikirkannya. Danu menoleh pada Laras dan memicingkan matanya.


"Katanya mau membuat kopi untukku?" tanya Danu.


"Oh ya mas, tunggu sebentar." kata Laras.


Dia pun beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam. Dian sudah tidur di kamarnya, tidak tahu kalau Danu datang ke rumah Laras. Tak lama Laras pun keluar lagi membawa secangkir kopi untuk Danu.


"Ini kopinya mas." kata Laras meletakkan cangkir kopi di meja.


"Ya, terima kasih." kata Danu tanpa menoleh.


Laras tersenyum, dia senang mendengar ucapan terima kasih suaminya. Banyak sekali perubahan yang dia rasakan dari Danu, dari sering datang ke rumahnya. Meminta jatahnya meski tujuannya hanya untuk melampiaskan saja. Dan kali ini, dia mengucapkan terima kasih.


Sesuatu yang jarang di ucapkan Danu padanya. Sikapnya juga tidak seperti dulu, memandangnya rendah dan rasa ketidak sukaannya padanya. Bahkan seperti melihat hal menjijikkan bagi Danu jika melihat Laras.


"Apa kamu tidak mau mengelola perpustakaan?" tanya Danu.


"Tidak mas." jawab Laras.


"Itu kan milikmu, ibu yang memberi. Kelola saja." kata Danu.


"Tidak mas, aku lebih senang berbisnis online saja." kata Laras.


"Jadi membiarkan perpustakaan di kelola orang lain?" tanya Danu.


"Tapi pak Robi sudah lama mengelola perpustakaan itu. Aku biarkan pak Robi saja yang mengelola mas, dia selalu melaporkan kok padaku setiap bulannya." kata Laras lagi.


"Hemm, terserah kamu." kata Danu.


Dia mengambil kopinya lalu menyeruputnya dengan pelan karena masih panas. Sangat nikmat, malam begini minum kopi sedang gundah gulana pikirannya memikirkan Jasmin. Rasanya hilang sejenak, Laras menuduk lalu menatap ke depan.


Danu menatap istrinya itu lama, lalu menatap ke depan lagi. Menghela nafas panjang, memikirkan apa yang di bicarakan tentang Laras suatu saat nanti. Jasmin tidak suka dia datang ke rumah Laras, tapi gadis itu saja tidak pernah mengurus dan meladeninya di rumah. Bahkan sekarang sering menginap di rumah temannya. Entah teman siapa, Danu tidak tahu.


"Aku pulang." kata Danu beranjak dari duduknya.


"Iya mas, hati-hati." kata Laras menyalami tangan Danu.


Lalu Danu pun melangkah keluar dari rumah Laras, dia masuk ke dalam mobilnya. Rasa gelisahnya kembali hadir ketika dia meninggalkan rumah Laras. Entahlah, apa yang dia pikirkan tentang Laras. Apakah dia akan menerima Laras seutuhnya di hatinya?


_


_


******************