
Dengan kecepatannya saat ini, hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja bagi Nathan untuk sampai di rumah tua. Tapi kali ini berbeda karena Nathan merasa waktu berjalan sangat lambat. Tak terhitung berapa banyak Nathan mengumpat. Saat dia akan berbuat baik untuk menolong Oddie, kenapa ada saja yang mengganggunya.
Kucing yang menyeberang, ranting pohon yang tumbang menghalangi jalan. Lalu sekarang dering ponsel ibunya yang tertinggal di mobilnya. Nathan tidak ingin peduli, tapi takdir memintanya melihat.
Itu hanya panggilan dari Papa Erlangga yang mungkin sedang mencari ponsel Mama Maureen. Tapi Nathan melihat notifikasi siang tadi yang belum sempat terbaca. Nathan membacanya sekilas, tapi sesuatu telah menarik perhatiannya sehingga Nathan meminggirkan mobilnya.
Apa yang membuatnya menarik? Apalagi kalau bukan notifikasi pemindahan uang dari akun milik Oddie ke akun Mama Maureen. Tidak hanya satu tapi setiap bulan selama dua tahun penuh.
Seketika ingatan Nathan melayang ke hari itu. Saat Nathan menghajar Oddie dengan kejamnya. Masih mencekiknya dan menuduh sembarangan dan menanyakan kemana uang nafkah yang dia berikan sampai tidak bisa membeli selembar baju pun.
"Aakhh!" teriak Nathan dengan memukul kemudi.
"Sial! Sial! Sial!" rutuk Nathan.
Jika Oddie bukan anak koruptor, jika Oddie tidak pernah berbohong. Lalu apa yang bisa Nathan lakukan untuk menebus dosa besar yang telah dia lakukan pada Oddie selama ini?
Nathan kembali menyetir mobilnya dengan resah. Menembus jalanan yang rusak tanpa mengurangi kecepatan dan berharap segera sampai di rumah yang di dalamnya ada Oddie yang dia kurung sejak berjam-jam yang lalu.
Akhirnya datang juga. Nathan sampai juga di rumah tua itu. Semua orang menyambutnya dan dua orang pria bergegas membantu membuka gudang tempat Nathan mengurung Oddie. Wanita itu masih berada di posisi yang sama seperti saat Nathan meninggalkannya tadi. Bedanya adalah sekarang Oddie sama sekali tidak bergerak sembari memeluk ubin yang dingin.
Nathan menggerakkan kepalanya ke kiri sebentar. Sebelum mendekat untuk membangunkan Oddie. "Die, bangun!" kata Nathan.
Tentu saja tidak ada jawaban karena Oddie sudah pingsan. Dan untuk pertama kalinya setelah menikah, akhirnya Nathan memeriksa Oddie. Menyentuh wajah dan menggoyangkan tubuh Oddie untuk membangunkannya. Tapi sejauh ini masih tidak ada jawaban. Nathan akhirnya mengangkat Oddie ke pangkuannya. Nafas Oddie sangat pelan bahkan nyaris tak terasa. Tubuhnya juga sangat dingin.
"Antar aku ke rumah sakit sekarang!" kata Nathan dengan memberikan kunci mobilnya kepada salah satu bawahannya.
"Baik, Bos!" jawab bawahan itu.
Pria itu segera bergegas. Sementara Nathan segera bangkit dengan membopong Oddie yang ringkih. Selama perjalanan Nathan terus mendekap Oddie. Membuka baju atasannya sendiri serta baju atasan Oddie. Di bawah selimut tebal yang menutupi, Nathan memeluk Oddie untuk mentransfer hawa panas miliknya agar Oddie merasa hangat.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Nathan ketika dokter dan suster keluar.
"Kami sudah melakukan perawatan. Tidak perlu cemas. Biarkan Nona Oddie istirahat dengan baik malam ini," jawab Dokter.
"Terimakasih, Dokter!" kata Nathan lega sembari mengintip Oddie yang masih belum sadarkan diri.
"Kedepannya tolong lebih diperhatikan. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi atau keselamatan ibu dan janinnya akan terancam. Sampai istri Anda melahirkan, dia tidak diijinkan terlalu banyak beraktivitas. Dia harus istirahat total karena kandungannya lemah," kata Dokter.
"Apa?" tanya Nathan dengan mata membesar.
Dokter perempuan itu semakin terkejut dengan ekspresi Nathan. Tidak hanya membawa Oddie dalam keadaan seperti itu. Tapi Nathan bahkan tidak tahu Oddie sedang hamil. Tentu saja itu membuat Dokter menghela nafas panjang sebelum mengatakan semuanya. Berharap Nathan lebih bersimpati dengan Oddie karena setelah memeriksa Oddie, Dokter itu sepertinya memahami apa yang telah terjadi.
"Istri Anda sedang hamil. Usia kandungan 7 minggu. Saya berharap Anda bisa menjaganya dengan baik. Jangan biarkan dia terlalu lelah. Karena jika terjadi lagi hal seperti ini, sangat besar kemungkinan janin yang ada di rahimnya tidak akan bertahan," jawab Dokter.
"S-saya pasti akan menjaganya," kata Nathan terbata-bata.
"Kalau begitu kami permisi!" pamit Dokter.
Selepas kepergian dokter, Nathan berdiri seperti orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana utara dan selatan. Kemudian terduduk karena kakinya tidak mampu menahan bobot tubuhnya.
Meskipun Nathan tidak pernah melihat secara langsung, tapi dia tahu apa saja yang dilakukan Oddie meskipun tidak terlalu detail. Oddie yang ke pasar malam. Oddie yang pergi ke makam ayahnya, dan Oddie yang selalu bersenang-senang dengan rekan kerjanya dan masih banyak lagi.
Nathan juga tahu Oddie ke rumah sakit. Tapi tidak tahu apa yang membuat Oddie pergi ke rumah sakit karena menganggap hal itu tidaklah penting. Ya, Nathan tahu garis besar keseharian Oddie karena selama ini selalu ada orang yang Nathan perintahkan untuk mengikuti Oddie dan memastikan Oddie tidak kabur.
"Itu anakku," batin Nathan.
Nathan menelan ludahnya dengan kasar. Tentu saja dia tahu janin yang dikandung Oddie adalah anaknya. Karena hanya dialah satu-satunya yang tidur dengan Oddie. Nathan semakin kelimpungan. Mengacak-acak rambutnya seperti orang gila karena kenyataan mengejutkan yang bertubi-tubi dia dengar hari ini.
"Kenapa bisa begini?" gumam Nathan. Bagaimana bisa dua wanita itu hamil diwaktu yang bersamaan.
"Tunggu, sepertinya ada yang salah," gumam Nathan lagi.
Oh, tidak. Sekarang Nathan baru menyadari ada yang salah. Sesuatu yang tidak pernah Nathan pikirkan selama ini. Nathan segera bangkit, sempat melihat Oddie sekali lagi sebelum meninggalkannya sebentar untuk menemui Kirana yang ada di rumah sakit yang sama.
Nathan masih belum sampai di ruangan Kirana. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Ray yang saat ini masuk ke kamar Kirana.
"Dia siapa?" batin Nathan.
Nathan mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya erat-erat dan semakin bergegas. Bukan karena cemburu, tapi karena firasatnya mengatakan masih ada hal besar yang akan dia ketahui sebentar lagi. Kirana sering tidak kembali ke rumah akhir-akhir ini. Teleponnya juga sering diabaikan dan Kirana sering meminta uang. Mungkinkah sifat anehnya itu ada hubungannya dengan pria itu?
Nathan tersenyum sinis. Kirana tidak memiliki saudara kandung pria. Jadi, mungkinkah pria yang baru masuk itu adalah orang yang membuat Kirana selalu meminta uang padanya selama ini? Terlepas dari itu, masih ada yang lebih mencurigakan lagi. Yaitu usia kehamilan Kirana.
"Kirana, sudah sangat lama aku tidak menyentuhmu. Jika anak yang kau kandung dan keguguran itu benar anakku, seharusnya dia berusia beberapa bulan lebih besar. Kirana, lihat saja. Kalau terbukti kau sengaja menipuku. Aku tidak akan segan untuk menghancurkan keluargamu seperti debu."
...***...