Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
Bab 26 Kembalikan Papaku


"Urus perceraian kalian besok!" perintah Kakek Moeis setelah menyampaikan permintaan Mama Rindi kepada Nathan.


"Tidak bisa, Kakek!" jawab Nathan.


"Nathan?" kata Kakek Moeis dengan nada meninggi. Mengira Nathan masih begitu keras kepala seperti sebelumnya.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Papa Erlangga.


"Karena Oddie sedang hamil anakku, Pa! Bagaimana bisa aku menceraikannya?" jawab Nathan. Tentu saja hamil itu hanyalah alasan Nathan. Karena meskipun Oddie hamil atau tidak, Nathan tetap tidak akan menceraikan Oddie.


Akhirnya sesuatu yang sempat Nathan lupakan itu terungkap juga. Membuat ketiga orang itu kaget, termasuk Mama Rindi yang saat ini berdiri di balik pintu dan mendengar semuanya.


"Apa katamu? Oddie hamil?" tanya Kakek Moeis dan Papa Erlangga bersamaan.


"Kau serius, Nathan?" tanya Mama Maureen.


Mama Maureen yang paling kaget disini. Bagaimanapun juga dia melihat sendiri Nathan dan Kirana tidur di ranjang yang sama. Tapi Kirana malah hamil anak pria lain. Sementara Oddie yang tidak pernah dilihat Nathan itu, bagaimana caranya bisa hamil?


"Ah, mungkinkah malam itu?" batin Mama Maureen ketika ingat Nathan mangkir membeli hadiah dan tidak pulang semalaman.


"Oddie sudah hamil 7 minggu saat ini," jawab Nathan.


Jawaban Nathan sukses membuat semuanya diam. Termasuk Mama Rindi yang langsung membatalkan niatnya untuk keluar.


"Anakku hamil?" tanya Mama Rindi dengan mata berkaca-kaca.


Mama Rindi langsung kembali ke pembaringannya. Melupakan niat awalnya untuk berbicara langsung dengan Nathan. Dadanya berdetak sangat cepat dan pikirannya sibuk memikirkan bagaimana nasib Oddie dan cucunya nanti. Sebelumnya Mama Rindi sangat marah pada Nathan. Ingin sekali agar Nathan menceraikan Oddie secepatnya. Tapi setelah tahu Oddie hamil, entah kenapa amarahnya sedikit mereda.


Bagaimanapun juga Mama Rindi tidak boleh egois, dia tidak ingin cucunya nanti lahir dan besar tanpa ayah. Suaminya sudah mati, Oddie sudah hidup tanpa ayah. Apa Mama Rindi juga harus membiarkan cucunya tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang ayah?


Apa yang harus Mama Rindi lakukan sekarang. Satu sisi dia sangat kecewa dengan perilaku Nathan. Tapi disisi yang lain dia ingin cucunya lahir di tengah-tengah ayah dan ibu yang lengkap.


.


.


.


"Setelah papa meninggal, papa baru dinyatakan tidak bersalah?" batin Oddie.


Oddie tidak berkedip saat melihat berita televisi yang mengangkat topik kasus korupsi ayahnya. Oddie yang awalnya baik-baik saja menjadi tidak bisa mengendalikan emosinya. Matanya sangat panas. Hatinya sangat sakit dan detak jantungnya berdetak tak karuan.


"Papa," kata Oddie.


Antara marah, kecewa, sakit hati, semuanya telah bercampur jadi satu. Tangis Oddie akhirnya pecah, meraung dengan menyebut papanya berulangkali. Sontak itu membuat suster yang kebetulan masuk untuk memberikan obat menjadi kebingungan. Kurang dari lima belas menit yang lalu Oddie masih baik-baik saja. Dan sekarang dia sudah menjadi seperti ini.


"Nona Oddie, ada apa? Kenapa menangis?" tanya suster.


Tapi tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Oddie selain kata papa yang dia sebut berulangkali. Suster segera meletakkan obatnya dan mendekati Oddie. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu dengan janin yang ada di perutnya.


"Nona, tenanglah!" kata suster sekali lagi.


Tapi Oddie terlanjur tenggelam dalam luapan emosi yang siap meledak. Sekarang Oddie tidak hanya menangis tapi dia juga mulai berteriak.


"Aku benci kalian semua!" teriak Oddie. Oddie mulai mengamuk, Oddie yang awalnya menangis kini berani membuang obat yang suster siapkan untuknya sehingga membuat obat itu berjatuhan dan pecah di lantai.


Praktis itu membuat suster panik dan berteriak minta tolong. Lalu segera menekan tombol khusus untuk memanggil Dokter. Beruntung mereka segera datang. Beberapa perawat pria bahkan memegangi Oddie agar Oddie tidak bergerak sembarangan. Sementara Oddie, dia yang dipegangi sana sini hanya bisa menangis sembari menyebut papanya berulang kali.


"Kembalikan papaku! Kenapa kalian jahat? Kembalikan papaku! Aku rindu papa!" kata Oddie disela isak tangisnya.


"Apa yang terjadi. Kenapa bisa begini?" tanya Dokter setibanya di kamar dan melihat kamar yang berantakan.


"Saat saya masuk Nona Oddie sudah seperti ini, Dokter!" jawab suster.


Setelah penjelasan singkat itu dokter segera melakukan tindakan. Memeriksa Oddie dan memastikan kandungannya aman sebelum memberikannya suntikan semacam obat penenang agar Oddie kembali tenang.


"Dokter, aku ingin bertemu dengan mama," kata Oddie sebelum dia tumbang karena pengaruh obat.


"Suster, tolong ganti pakaiannya dengan pakaian khusus," perintah dokter.


"Baik, Dok!" jawab suster.


Dokter segera keluar. Lalu menghubungi Nathan dan memberitahu apa yang terjadi. "Bapak Nathan. Istri Anda baru saja mengamuk. Dia terus-terusan memanggil papanya dan minta bertemu mamanya. Bisakah mengabari mereka untuk segera datang. Sepertinya istri Anda sangat rindu orangtuanya," kata Dokter.


"Dokter, ayah mertuaku sudah meninggal. Sekarang saya akan kesana membawa ibu mertuaku," jawab Nathan dari seberang sana.


"Baiklah, Pak Nathan!"


Satu jam kemudian Mama Rindi dan keluarga Nathan sampai di rumah sakit. Meskipun semuanya ingin melihat Oddie, tapi mereka menahan diri dan mendahulukan Mama Rindi agar masuk terlebih dulu. Sudah sangat lama dia tidak bertemu Oddie, pasti ada banyak hal yang ingin dia katakan pada putrinya kan?


Mama Rindi menutup mulutnya dengan tangan rapat-rapat. Berharap ratapan tangisnya tidak di dengar oleh Oddie yang lagi-lagi harus tertidur.


"Kau pasti sangat menderita selama ini, Sayang! Maafkan mama dan papa. Ini semua salah kami yang tidak bisa menjagamu dengan baik," sesal Mama Rindi.


Mama Rindi menyentuh wajah Oddie, memegangi tangannya dan melihat beberapa bekas luka yang menghiasi kulit mulusnya. Itu membuat Mama Rindi tidak bisa lagi menahan tangisnya sehingga Oddie terbangun.


"Mama?" panggil Oddie dengan suara nyaris tak terdengar.


"Iya, sayang! Ini mama. Apa mama terlalu berisik sampai mengganggu tidurmu?" tanya Mama Rindi.


"Ma, Oddie kangen mama!" jawab Oddie.


Dengan bantuan mamanya, akhirnya Oddie memaksakan diri untuk bangkit. Lalu segera memeluk mamanya dan menangis sejadi-jadinya di pelukan wanita itu.


"Ma, papaku bagaimana, Ma?" tanya Oddie berurai air mata.


"Sayang, inshaallah papa sudah tenang disana. Jadi jangan menangisi papa seperti ini ya, Nak?" jawab Mama Rindi.


Meskipun dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja, tapi Mama Rindi harus terlihat kuat karena Oddie sedang membutuhkannya saat ini. Dia tidak boleh terlihat sedih karena itu akan membuat Oddie semakin sedih. Mama Rindi tidak mau itu terjadi. Terlebih saat tahu kandungan Oddie kurang sehat.


"Ma, Oddie rindu papa," kata Oddie lagi.


"Sayang, kita bisa pergi ke makam papa nanti. Tapi syaratnya kau harus sehat dulu. Papa pasti akan sedih melihatmu sakit," kata Mama Rindi mencoba menghibur Oddie.


Wanita itu tidak bosan-bosannya mencium dan membelai rambut Oddie. Mendekapnya sangat erat seolah tidak akan ada lagi hari esok.


...***...