
Setelah selesai menasehati Danu, Rizwan pun pergi dari ruangan kantor Danu. Danu sendiri memikirkan apa yang sudah dia alami kali ini. Marah dengan membuat semua barang-barangnya berantakan. Dia juga memikirkan ucapan nasehat Rizwan tentang kedua istrinya.
Memang dia buta dan mudah sekali di rayu, dia juga memikirkan Laras. Kemana dia berada? Danu pun merapikan kembali barang-barang yang dia lempar tadi ketika tahu foto-foto Jasmin.
Di ambilnya lagi foto itu dan di rapikan agar nanti bisa di tunjukkan pada gadis itu. Flashdish juga dia ambil dan simpan, dia sedang memikirkan bagaimna caranya menunjukkan video tersebut pada Jasmin.
Lebih parah lagi dia melihat Jasmin di diskotek dan di hotel itu. Rekaman di hotel itu menunjukkan memang tidak sesuatu yang aneh, tapi pergi ke hotel dengan laki-laki lain. Bukankah itu sudah keterlaluan namanya?
Danu menemukan catatan dari pengirim paket amplop itu, dia membacanya dan mengambil ponselnya. Menghubungi Reiga, orang suruhannya itu.
Tuuuut.
"Halo pak Danu, anda sudah menerima paket yang saya kirim?" tanya Reiga.
"Ya, terima kasih ya. Maaf saya sampai lupa menyuruhmu mengikuti istriku. Kamu memang bagus mendapatkan semua informasinya."
"Ya, kupikir pak Danu lupa. Dan akhirnya saya menghubungi pak Rizwan, lalu aku lanjutkan penyelidikan itu."
"Ya, sekali lagi terima kasih ya. Saya akan transfer uang bayaranmu. Kirim nomor rekeningmu."
"Sebagian saya sudah di kasih sama pak Rizwan, pak Danu. Mungkin sisanya saja."
"Berapa Rizwan memberimu?"
"Lima juta, karena saya sedang butuh uang untuk ibuku di kampung."
"Oh, oke. Saya transfer sisanya ya, kirim nomor rekeningmu sekarang."
"Baik pak."
Klik!
Danu menunggu pesan dari Reiga, dan tak lama pesan masuk ke ponsel Danu. Dia melihat pesan dari Reiga dan segera Danu mengirim sejumlah uang pada laki-laki itu, dia tambahkan juga sebagai bonusnya karena sudah mengikutinya sampai mendapatkan bukti yang akurat tentang perselingkuhan istrinya Jasmin.
Setelah semuanya beres, dia pun akan pulang. Bukan pulang, tapi dia akan ke rumah Laras. Mencari gadis itu, sudah satu minggu tidak datang kesana. Barangkali dia sudah pulang ke rumahnya.
Akhirnya Danu bergegas, menyapa sekretarisnya dan minta maaf padanya karena tadi membentaknya ketika melihat dirinya marah di ruangannya.
"Saya minta maaf soal tadi ya." kata Danu.
"Ya pak, tidak apa-apa."
"Dan soal tadi, saya mohon jangan sampai orang lain tahu." kata Danu lagi.
"Baik pak."
"Kamu boleh pulang, saya juga mau pulang. Ini waktunya sudah pulang, tugas yang aku berikan sama kamu sudah di kerjakan?"
"Sudah pak, tinggal di cek saja sama pak Danu."
"Besok saya cek, atau kirim saja salinannya ke emailku."
"Baik pak."
"Ya sudah, saya pergi."
"Iya."
_
Danu berada di depan rumah Laras, masih tampak sepi seperti satu minggu yang lalu dia datang. Hatinya benar-benar kehilangan gadis itu, kemana Laras pergi?
"Kamu di mana, Laras?" gumam Danu menatap rumah BTN itu dengan tatapan nanar.
Rasanya dia benar-benar seperti di tinggalkan orang yang di cintai kedua kali. Ya, dulu ibunya meninggal dia merasa kehilangan. Tapi karena rasa kesalnya juga sehingga dia tidak menunjukkan kalau merasa kehilangan.
Dia merasa bersalah pada ibunya, sejak masih hidup terkadang Danu sering membangkang. Dia sendiri tidak tahu kalau ibunya sakit, dia terlalu asyik dengan dunia kerjanya. Bahkan terlalu senang menyukai Jasmin dan mendapatkan jabatan baru.
Dia akan mengambil alih dan akan keluar dari pekerjaannya sekarang. Tapi, dia bingung kemana harus mencari Laras.
Danu keluar dari mobilnya, dia melangkah menuju teras rumah Laras itu. Duduk di sana, tampak debu-debu menempel di kursi itu. Tandanya dalam satu minggu ini memang Laras tidak kembali ke rumah itu.
Danu tiba-tiba sedih, berharap Laras datang dan tersenyum padanya. Suara telepon berbunyi, Danu melihatnya. Jasmin. Dia abaikan telepon dari istri brengseknya itu dan di masukkan lagi ke dalam jasnya.
Masih ingin duduk di teras rumah Laras, berharap Laras datang dan menawarkannya makan seperti biasanya. Namun, sudah dua jam dia duduk di sana. Tetap saja suasananya sepi, tidak ada tanda-tanda seseorang yang dia tunggu datang dan bertanya apakah dirinya mau makan atau tidak.
"Kamu kemana Laras?" ucap Danu lirih.
Akhirnya dia pun berdiri, menatap pintu rumah itu lama. Lalu menghela nafas panjang, beberapa kali hatinya menyesali semuanya. Kemudian dia pun kembali ke mobilnya. Besok dia akan datang lagi, ada harapan jika hari libur mungkin saja Laras pulang ke rumahnya.
Dia melajukan mobilnya dengan pelan, hatinya benar-benar di landa dua hal berbeda. Ingin marah pada Jasmin dan merindukan Laras di saat bersamaan.
Rindu?
Danu merindukan Laras? Entahlah, serasa dia ingin mengungkapkan rasa bersalahnya dan meminta maaf padanya. Hatinya masih mengelak, namun itu yang di rasakan Danu. Rindu.
Tuuuut.
Kembali ponselnya berbunyi, Danu mendesah kasar. Lalu di angkatnya telepon dari Jasmin.
"Dady! Kenapa belum pulang juga sih?!" teriakan kasar dari Jasmin tidak membuat Danu takut atau pun merasa kecil hati.
"Ya, aku sedang di jalan." jawab Danu.
"Kamu kemana aja? Aku telepon dari tadi ngga di jawab." kata Jasmin di seberang sana dengan kesal.
"Aku pulang."
Klik!
Danu tidak mau memperpanjang urusannya dengan Jasmin di telepon. Saat ini dia sedang berpikir bagaimana tidak emosi lebih dulu pada istrinya itu, mencari waktu yang tepat agar dia bisa bicara dengan Jasmin masalah perselingkuhannya itu.
Sampai di rumah, Jasmin sudah menunggunya di depan pintu. Danu mengerut, dia melihar Jasmin tampak marah sekali. Tapi Danu tidak peduli, ingatannya pada video di diskotek itu sangat jelas di pelupuk matanya.
Wajah Danu berubah dingin, tanpa peduli dengan Jasmin yang marah padanya. Dia melangkah melalui Jasmin yanv berdiri di depan pintu, masuk begitu saja tanpa ada wajah manis untuk istrinya.
"Dady! Kamu melewatiku begitu saja?" tanya Jasmin.
"Aku lagi malas." kata Danu.
"Dady! Stop!" teriak Jasmin lagi.
Danu pun berhenti, dia memejamkan matanya tanpa membalikkan tubuhnya. Jasmin mendekat dan menatap wajah Danu air mukanya memerah. Wajah itu belum pernah dia lihat, tapi dia merasakan kalau Danu sedang kesal.
"Dady, ada apa? Kamu sepertinya sedang kesal?" tanya Jasmin meraba bagian dadanya, seperti merayu.
"Ya, aku sedang kesal." kata Danu menatap wajah Jasmin tajam.
"Kok pulang-pulang kesal sih? Dady kesal sama pekerjaan di kantor?" tanya Jasmin mulai melembut suaranya.
"Ck, jangan ganggu aku!" ucap Danu melepas pelukan Jasmin itu dan melangkah pergi meninggalkan Jasmin yang sedang bingung itu.
Hati Danu di kuatkan lagi untuk tidak luluh pada gadis yang mulai menginjak dewasa. Kedewasaan umur tidak menjamin orangnya, tapi kali ini Danu akan tegas pada Jasmin yang sudah mempermainkan dan membohonginya.
"Tunggu saja, aku akan buat kamu malu di hadapan orang tuamu!" ucap Danu serasa kesal sekali pada istri manjanya itu.
_
_
********************