Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
59. Sikap Danu


Jasmin mengejar Danu yang masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa suaminya itu sikapnya dingin kali ini, apakah dia sudah tahu atau sedang memikirkan istrinya yang lain.


"Dady! Kamu kenapa sih? Biasanya juga ngga begini deh." kata Jasmin kesal tapi dia berusaha sedikit manja.


"Aku lelah." jawab Danu singkat.


"Dady, kamu ke rumah perempuan itu lagi?" tanya Jasmin curiga.


"Iya, kenapa?" tanya Danu dingin.


"Aku kan sudah bilang, jangan menemui dia lagi. Atau kamu belum menceraikan dia?!"


"Heh! Sudahlah, jangan membahas dia. Aku malas berdebat denganmu kali ini." kata Danu.


Dia meletakkan tasnya di meja, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Jasmin merasa aneh dengan suaminya itu, rasa kesalnya kian memuncak.


"Huh! Karena perempuan itu, dia jadi berubah. Awas aja kamu perempuan panti tidak tahu diri!" ucap Jasmin geram.


Dia lalu keluar dari kamarnya, menghubungi kekasih gelapnya untuk mengatur rencana mendatangi rumah Laras dan mengancamnya.


Tak lama, Danu pun keluar. Dia melihat Jasmin sedang menelepon secara sembunyi-sembunyi. Kali ini Danu tidak lagi penasaran atau bertanya, dia menuju dapur. Kali ini dia ingin makan, karena belum makan sejak siang tadi.


Danu mengambil mie instan goreng, dia ingin membuat mie goreng dengan telur dan juga sayuran. Di buka kulkasnya, ada baso dan juga sosis. Dia masukkan juga semuanya, lalu memasaknya.


Jasmin mendekat, dia ingin membantu suaminya membuat mie goreng.


"Dady bikin apa?" tanya Jasmin melihat Danu menggoreng bawang.


"Mie goreng." jawab Danu singkat.


"Aku bantu ya?" tanya Jasmin.


"Tidak usah, kamu tidur aja sana." jawab Danu agak ketus.


Jasmin diam, dia menatap suaminya itu memang ada yang aneh. Dia pun kini duduk saja di kursi minibar, memperhatikan mie goreng yang di buat oleh Danu. Dia jadi ingin ikut makan juga.


"Dady mie gorengnya bagi dua ya." kata Jasmin.


"Aku lapar, jadi tidak bisa di bagi dua. Kalau mau, bikin sendiri." ucap Danu lagi memindahkan mie gorengnya ke dalam piring.


"Dady, sejak tadi dady jawabnya ketus banget deh sama aku. Minta mie gorengnya aja ngga boleh, dady kenapa sih?" tanya Jasmin heran.


Tidak biasanya Danu begitu ketus dan dingin padanya. Tapi malam ini, semuanya berubah. Dan pikiran Jasmin pasti gara-gara Laras.


Danu tidak menjawab, dia pergi menuju meja makan dan makan mie gorengnya dengan lahap. Meski dengan perasaan campur aduk dan kemarahan yang dia tahan. Tapi akhirnya mie goreng yang dia makan habis juga, tanpa menawarkan Jasmin yang sejak tadi tergiur dengan mie goreng buatan suaminya.


"Dady buatkan dong mie goreng seperti tadi." kata Jasmin mencoba merayu lagi suaminya.


"Seorang istri itu harus melayani suaminya, bukan suami yang melayani istri. Kamu tidak pernah memasak makanan untukku, tapi kenapa kamu minta di buatkan makanan olehku?" tanya Danu ketus.


"Dady kenapa sih? Biasangmya juga ngga pernah protes. Kenapa sekarang jadi protes dan malah marah-marah begitu." kata Jasmin mulai emosi dengan sikap Danu yang tidak biasa itu.


"Aku hanya menuntut kewajiban yang seharusnya kamu jalani. Melayani suami, membuatkan makanan dan menyiapkan segala keperluan kerjaku. Tapi kamu? Apa yang kamu lakukan untukku? Tidak ada. Bahkan kamu selalu saja meminta uang hampir setiap minggu, tidak sebanding pelayanan yang kamu berikan padaku dari uang yang aku kasih sama kamu." kata Danu membeberkan semuanya.


"Ooh, jadi dady perhitungan sama aku?" tanya Jasmin menantang Danu.


"Tentu saja, aku pikir aku rugi memberimu nafkah begitu banyak. Tapi kamu tidak pernah menjalankan kewajibanmu sebagai istri." kata Danu lagi.


Dia ingin mengeluarkan unek-uneknya terlebih dahulu sebelum dia memberikan bukti perselingkuhan Jasmin dengan teman laki-lakinya.


"Dady berubah seperti ini karena perempuan itu kan? Karena perempuan panti asuhan yang kampungan?!" teriak Jasmin.


"Cukup Jasmin! Ada banyak hal yang membuat aku seperti ini. Tapi yang jelas, tidak ada kaitannya masalah kamu dengan Laras!" kata Danu.


"Ck, aku yakin ini karena dady di pengaruhi perempuan panti asuhan itu. Akan aku beri dia pelajaran agar jangan mempengaruhi suamiku yang sekarang lebih perhitungan dan pelit!" kata Jasmin menatap tajam pada Danu.


Ya, dia akan membuat rencana agar Jasmin sendiri yang kelabakan. Senyum sinis Danu mengembang. Tidak mengindahkan ucapan Jasmin tentang Laras.


"Cukup dengan tuduhanmu itu. Suatu saat, kamu yang akan menyesal membuatku berubah sama kamu!" ucap Danu penuh teka-teki.


"Dady!" teriak Jasmin pada Danu yang berlalu begitu saja.


Dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup kencang. Membuat Jasmin semakin kesal di buatnya.


"Aaargh! Dady sialan!" umpat Jasmin.


Dia memegangi kepalanya, bingung dengan sikap Danu yang berubah. Dia memikirkan karena mungkin saja karena Laras.


"Baiklah, besok aku akan ke rumah perempuan sialan itu! Aku akan buat perhitungan dengannya, seenaknya saja membuat suamiku berubah seperti itu. Awas saja kamu!" ucap Jasmin lagi.


Dia lalu kembali menghubungi Dandy, wajahnya penuh kekesalan.


Tuuut.


"Halo honey, kamu merindukan aku?" tanya Dandy di seberang sana.


"Dandy, besok antar aku ke sebuah tempat ya." kata Jasmin.


"Mau kemana?"


"Pokoknya antarkan aku aja. Nanti aku tunjukin jalannya dan rumah yang mau aku kunjungi." kata Jasmin lagi.


"Oke, apa pun untukmu honey. Tapi aku minta jatahku ya setelah urusannya selesai." kata Dandy.


"Iya, tenang aja. Aku juga lagi pusing ini, suamiku lagi marah sama aku." kata Jasmin.


"Kenapa marah sama kamu? Apa dia tahu tentang hubungan kita?" tanya Dandy.


"Emm, aku ngga tahu. Tapi kayaknya ngga deh, itu pasti pengaruh dari perempuan panti asuhan sialan." kata Jasmin.


"Ooh, oke. Nanti aku jemput kamu di tempat biasa ya."


"Oke. Kamu selalu baik sama aku, Dandy."


"Kan aku pacar gelapmu, yang selalu membuatmu puas karena bersamaku kan?"


"Hahah! Benar juga, uuh. Kok jadi kangen kamu sih." ucap Jasmin.


Dia tidak menyadari kalau Danu mendengarkan ucapan mesra Jasmin dengan Dandy di telepon. Darahnya kembali mendidih, dia pun mendekat pada Jasmin dan berdiri di belakangnya.


"Telepon dari siapa?" tanya Danu mengagetkan Jasmin.


Jasmin langsung menutup sambungan teleponnya dan berbalik menghadap Danu. Jasmin diam, dia memikirkan apakah suaminya itu mengetahui obrolan mesranya dengan Dandy.


"Dady sedang apa berdiri di belakangku?" tanya Jasmin.


"Kamu di tanya malah balik tanya, apa yang kamu bicarakan dengan temanmu itu malam-malam begini?" tanya Danu.


"Jangan curiga berlebihan dady. Kan aku banyak tugas di kampus. Jadi aku menelepon temanku untuk mengerjakan tugas sama-sama." kata Jasmin memberi alasan agar Danu percaya padanya.


Danu pun berlalu, dia malas berdebat lagi dengan Jasmin. Jasmin sendiri segera mengakhiri pembicaraan di telepon dengan Dandy.


_


_


******************