
Danu dan Jasmin sedang memilih cincin pasangan untuk pernikahan mereka satu bulan lagi. Mereka memilih dengan berbagai macam bentuk dan model. Jasmin meminta cincinnya ada berlian yang besar, sedangkan Danu ingin berliannya yang kecil-kecil.
"Dady, yang ini bagus." kata Jasmin.
Pelayan yang menangani mereka menatap heran, kok ada seorang dewasa dan juga seperti anak remaja memanggilnya dady. Apakah dia anaknya?
"Iya bagus, tapi aku suka yang polos aja." kata Danu.
"Jadi, kita beda cincinnya?" tanya Jasmin.
"Iya dong, masa aku pakai cincin yang ada berlian seperti itu. Kan ngga lucu." kata Danu tersenyum geli.
"Oh iya ya, dady. Heheh." kata Jasmin tertawa kecil.
"Jadi yang mana pak?" tanya pelayan itu.
"Satu yang polos dan satunya yang ada berliannya, seperti yang dia minta." jawab Danu.
"Oh, jadi maksudnya untuk bapak dan mbaknya ya?" tanya pelayan itu dengan senyum ramah.
"Iyalah. Kita pasangan kekasih mbak, dan mau menikah bulan depan." jawab Jasmin ketus.
"Ooh, ya. Maaf kalau begitu mbak, saya kira untuk istri yang lain." kata pelayan itu.
Danu diam, dia menatap pelayan dengan wajah tidak suka. Mengingatkan dirinya sudah beristri, yaitu Laras, bahkan dia sangat benci dengan gadis itu.
"Sayang, ayo cepat pilih yang kamu suka. Setelah ini ayo kita makan di restoran." kata Danu.
"Lho, dady. Kan baru datang, aku ingin lihat-lihat dulu. Kalau capek, kamu duduk aja deh." kata Jasmin.
Danu diam lagi, dia mendengus kasar. Lalu dia pun menurut, duduk di bangku yang di sediakan oleh pihak toko. Jasmin sedang memilih model cincin yang akan dia gunakan nanti di pernikahannya dengan Danu. Pelayan yang tadi melihat Danu terlihat kesal jadi tidak enak.
Namun begitu, dia penasaran dengan gadis yang akan di nikahinya masih remaja. Sedangkan Danu sepertinya sudah dewasa.
"Mbak, yang pantas untuk sayan yang mana ya?" tanya Jasmin.
Dia bingung dengan semua pilihannya, karena sangat bagus dan ingin dia membelinya semua. Tapi tidak untuk sekarang, pikirnya.
"Emm, untuk nikahan mbaknya ya?" tanya pelayan itu.
"Iya, calon suami saya itu yang duduk." jasmin.
"Oh ya tadi kan sudah di kasih tahu. Emm, mbak mau menikah muda ya?" tanya pelayan toko.
"Ya, dan nanti setelah menikah saya mau kuliah. Karena pacar saya ngga sabar mau menikah, jadi ya udah. Lulus sekolah langsung menikah." jawab Jasmin.
"Ooh, mbaknya baru lulus sekolah? Kok mau sih menikah muda?" tanya pelayan itu lagi.
"Ngga apa-apa. Pacarku kan kaya, dia direktur bank lho mbak. Jadi kalau setelah menikah nanti aku bisa minta apa aja sama suamiku nanti, hihihi. Termasuk nanti minta beli cincin lagi." kata Jasmin dengan senangnya.
"Ooh, jadi pacarnya seorang direktur? Waah, kaya ya pastinya." kata pelayan menanggapi.
"Iya, apa lagi pacarku itu dapat warisan banyak dari almarhum ibunya. Waah, saya tambah senang. Bisa beli apa aja kan?"
"Ya ya ya." kata pelayan.
Dia jadi merasa kasihan pada pacar Jasmin itu, punya istri remaja dan banyak maunya sudah pasti. Sangat naif sekali dengan laki-laki yang sedang duduk di bangku masih dengan wajah kesal.
"Cinta memang buta." gumam pelayan itu.
Setelah selesai memilih cincin dan mendapatkannya, kini Jasmin dan Danu pergi dari toko perhiasan. Mereka akan makan di restoran dan di lanjut menonton film, karena Jasmin meminta nonton film lebih dulu sebelum pergi ke mall. Dan lagi-lagi Danu selalu menuruti kemauan Jasmin.
_
Hari pernikahan Danu dan Jasmin akhirnya tiba, mereka berada di masjid di mana tempat acara ijab kabul. Danu di dampingi oleh dua sahabatnya saja karena tidak ada saudara atau keluarga. Ada suadara jauh dari ibunya, tapi dia tidak mengundangnya. Danu tidak mau keluarga jauh di undang, karena dia tidak dekat dengan keluarga itu.
Sang penghulu pun sudah hadir, ayah Jasmin juga sudah siap untuk menikahkan anaknya dengan Jasmin.
"Kamu sudah siap nak Danu?" tanya ayah Jasmin.
"Siap ayah." jawab Danu gugup.
Dia merasa gugup, tidak seperti dulu menikahi Laras. Dia sangat lancar dan tidak ada gugup sama sekali, bahkan dia menganggap pernikahan dengan Laras itu hanya main-main. Meski pengucapan ijab kabul di hadapan ibunya dan saksi para suster di sana pun memang itu sah dan benar menurut agama.
"Jangan gugup, memang kalau mau menghadapi ijab kabul itu sangat gugup. Tapi kamu harus tenang ya." kata ayah Jasmin lagi menenangkan calon menantunya itu.
Danu tersenyum lalu mengangguk, dia menarik nafas panjang dan menoleh ke belakang. Melihat Jasmin melangkah mendekat padanya, dia takjub karena Jasmin terlihat sangat cantik di matanya. Memakai kebaya putih dan di sanggul, hanya di tutupi selendang putih transparan.
Jasmin tersenyum padanya, membuat Danu semakin terkesima. Ayah Jasmin pun berdehem, membuyarkan lamunan Danu. Danu pun kembali ke posisinya dan duduk dengan benar. Dia menarik nafas panjang lalu mengingat kembali hafalan ijab kabulnya.
"Ayo kita mulai acaranya." kata penghulu.
"Baik pak penghulu."
Bapak penghulu membaca surat dalam Alqur'an lebih dulu, membaca doa-doa dan pujian. Lalu memberikan nasehat pernikahan beberapa menit. Lalu di mulai pengambilan ijab kabulnya, kemudian di jawab oleh Danu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jasmin Triana binti Santoso dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" ucap Danu lantang.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Lalu penghulu pun melantunkan doa dan kembali khotbah nikah. Kedua mempelai pun bersalaman, Jasmin menyalami tangan Danu dan menciumnya. Sedangkan Danu mencium kening Jasmin.
Kini mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Jasmin dan Danu menyalami kedua orang tua Jasmin, lalu mereka berswa foto untuk di jadikan kenang-kenangan.
"Kita sudah sah jadi suami istri sayang." kata Danu dengan senangnya.
"Tentu dady, apakah aku langsung pergi ke rumahmu?" tanya Jasmin.
"Tentu saja, kita langsung pulang ke rumah." jawab Danu.
"Emm, perempuan itu sudah pergi?" tanya Jasmin.
"Sudah, dia sudah aku belikan rumah dan jauh tempatnya." jawab Danu.
"Baguslah, tapi nanti kita ambil pembantu ya. Aku ngga mau tanganku kotor harus cuci bajumu dan juga memasak di dapur." kata Jasmin.
"Iya sayang, setelah kita tinggal serumah. Aku akan ambil pembantu, aku akan cari di yayasan yang menyediakan jasa Art." kata Danu lagi.
"Iya, soalnya aku juga ngga pandai memasak." kata Jasmin lagi.
"Iya, aku tidak mewajibkan kamu bisa masak kok. Kan kamu nanti kuliah juga, jadi waktumu tidak akan terganggu hanya karena memasak." kata Danu lagi.
"Ooo, dady. Kamu baik banget sih, aku makin cinta sama dady deh." kata Jasmin memeluk Danu.
"Aku juga sangat cinta sama kamu sayang. Cup." kata Danu.
Mereka lalu pergi dari masjid menuju hotel yang Danu sewa untuk malam pertama dengan Jasmin. Dia tidak sabar untuk malam pertama dengan istri kecilnya itu, merasakan seperti apa yang selalu di ceritakan tentang malam pertama oleh teman-temannya di kantor.
Senyumnya selalu merekah, bahwa dia sangat bahagia sekali bisa menikahi Jasmin. Gadis yang sangat dia cintai dan sabar menunggu gadis itu lulus sekolah untuk di nikahi.
_
_
******************