
Kini Jasmin sudah menempati rumah Danu, dia sudah menjadi istri Danu sepenuhnya. Namun dia belum bisa melakukan apa-apa di dapur. Bahkan hanya sekedar membuat kopi untuk Danu saja selalu salah takaran gula. Jadi Danu pun memberitahukan pada istrinya kalau takaran gula tidak sesuai yang di inginkan Danu.
"Sayang, kok masih pahit sih kopinya?" tanya Danu.
"Kan udah sesuai dengan kata dady, dya sendok kan?" tanya Jasmin.
"Kurang sayang, tiga sendok. Itu pas manisnya." kata Danu.
"Ya udah, di tambahkan aja satu sendok lagi." kata Jasmin.
"Udah ngga enak, besok kalau bikin kopi harus ingat ya. Tiga sendok." kata Danu mengingatkan.
"Iya." jawab Jasmin.
Dia sibuk membalas pesan teman-temannya yang menanyakan apakah akan masuk kuliah setelah menikah atau tidak. Tanpa memperhatikan ucapan Danu.
"Kamu sedang apa sih?" tanya Danu.
"Ini, teman-teman aku tanya apakah aku mau masuk kuliah setelah nikah. Kujawab ya tentu saja, kuliah juga." kata Jasmin.
"Memang kamu mau kuliah ambil jurusan apa?" tanya Danu.
"Emm, enaknya apa ya dad? Aku bingung." kata Jasmin.
"Bisnis mau?" tanya Danu lagi.
"Bisnis ya? Sebentar, temanku ada yang ambil jurusan bisnis."
"Ya udah, ambil itu aja. Nanti bisa kan satu kampus sama temanmu." kata Danu mengusulkan.
"Aku tanya dulu deh."
"Tanya aja."
Jasmin lalu mengirim pesan di grup teman-tan sekolahnya. Dia bertanya siapa lagi yang masuk ke jurusan bisnis. Jasmin pun tersenyum, ternyata ada tiga orang yang ambil jurusan bisnis. Jadi dia pun menyetujui mengambil jurusan bisnis dengan temannya.
"Boleh dad, aku ambil jurusan bisnis aja. Nanti daftarnya di kampus yang sama dengan teman aku ya." kata Jasmin antusias.
"Oke. Kamu siapkan aja berkasnya ya, nanti aku antar ke kampus yang kamu mau untuk daftar kuliah." kata Danu.
"Oke dadyku sayang. Aku cinta deh sama dady, muuaah." kata Jasmin mencium pipi Danu.
Danu tersenyum, dia senang Jasmin mau menerima sarannya masuk kuliah jurusan bisnis. Danu pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas kerjanya lalu keluar lagi.
"Aku kerja dulu sayang, kamu mau di rumah atau ke rumah ibu?" tanya Danu.
"Di rumah aja, tapi nanti ada temanku mau datang ke rumah. Boleh ya, soalnya aku bosan sendirian. Dady kerja sampai sore, jadi aku ajak temanku ke rumah." kata Jasmin.
"Boleh aja, tapi kalau aku pulang mereka sudah harus pergi sayang." kata Danu.
"Lho, kenapa? Kan kalau mereka betah, aku enak ada temannya." kata Jasmin.
"Waktu kamu untuk aku jadi ngga ada, kamu nanti asyik sama teman-teman kamu aja. Aku di abaikan sama kamu."
"Iih, dady kayak anak kecil deh."
"Aku berangkat ya. Cup."
"Iya, hati-hati dady. Daaah."
"Daah."
_
Danu mengantar Jasmin ke kampus untuk mendaftar kuliah. Jasmin janjian bertemu dengan teman-temannya yang juga daftar kuliah juga di satu kampus yang sama, Danu mengantarkan Jasmin sampai di kantornya. Membayar semua administrasi yang di tentukan hingga lunas.
"Sudah urusan administrasinya dady?" tanya Jasmin.
"Sudah, ayo aku antar kamu pulang." kata Danu.
"Aki di sini aja ya, dady mau ke kantor kan?" tanya Jasmin.
"Iya sih, tapi kamu di sini sampai kapan?" tanya Danu mulai tidak suka Jasmin selalu bersama dengan teman-temannya.
"Sampai sore, kita mau cari perlengkapan untuk kuliah juga. Dan nanti mau pergi ke mall, pokoknya kita mau jalan-jalan deh. Dady tenang aja, nanti sebelum dady pulang aku udah ada di rumah." kata Jasmin.
Danu mendengus kasar, kesal juga. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus memberi ruang untuk istrinya itu. Menatap satu persatu teman-teman Jasmin, lalu beralih pada istrinya.
"Ya sudah, aku ke kantor dulu. Jangan lupa sore harus sudah ada di rumah." kata Danu.
"Iya."
Dia pun pergi meninggalkan Jasmin dan teman-temannya. Memang sejak tadi ponsel Danu berbunyi terus, sekretarisnya menghubungi karena ada utusan dari pusat untuk bertemu.
Sedangkan Jasmin masih asyik dengan teman-temannya.
"Jasmin, suami lo kok posesif banget sih?" tanya Ira.
"Ngga tahu, dulu waktu pacaran ngga begitu. Tapi biar aja deh, dia ngga bakalan menolak permintaan gue. Kalian tenang aja, gue masih bebas kok main sama kalian. Yang penting uang gue sekarang banyak, hahah!" kata Jasmin.
"Hahah! Benar juga. Ayolah kita jalan-jalan ke mall, lo traktir kita semua kan Jasmin?" tanya Beni.
"Tentu dong. Kan gue udah punya ATM sendiri, kalian tahu berapa uang dalam ATM gue?" tanya Jasmin dengan senyumnya.
"Berapa? lima juta?" tebak Sheli.
"No!"
"Waah, gila. Pasti banyak lo uangnya ya." kata Beni lagi.
"Yes, coba tebak berapa uangnya?" tanya Jasmin lagi.
"Sepuluh juta?!"
"Dua puluh lima juta, setiap bulan aku dapat uang dari suami gue lima juta. Jadi gue bebas nanti traktir kalian semua, bebas lo pada mau beli apa. Gue yang bayar, hahah." kata Jasmin dengan sombongnya.
"Waaah, banyak banget lo uangnya. Gue aja di kasih jatah sama papa gue cuma satu juta satu bulan, itu jatah uang jajan aja sih. Kalau perlu apa-apa buat kuliah papa yang belikan." kata Ira.
"Hemm, menurut gue uang sebulan lima juta itu kurang Jasmin. Lo jangan bangga, minta lagi di tambahin jadi sepuluh juta." kata Sheli.
"Lima juta itu uang jajan aja, kalau mau beli barang keperluan pribadi uangnya ada lagi." kata Jasmin.
"Waah gila, banyak juga ya uang suami lo itu."
"Makanya, jatah sebulan uang jajan aku lima juta. Itu memang ngga cukup sih, kalau traktir kalian semua setiap hari."
"Heheh, kita kan ngga minta traktir sering-sering sama lo. Kan kadang-kadang aja."
"Ayo kita jalan-jalan, nanti keburu siang lagi."
"Oke. Kita senang-senang lagi.".
Mereka pun pergi dari kampus itu, ponsel Jasmin berbunyi. Tapi dia mengabaikannya, karena sudah pasti itu dari suaminya. Dia tidak mau acara jalan-jalannya terganggu oleh telepon dari suaminya, makanya dia buat silent ponselnya.
_
_
**********************