Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
Bab 23 Penyesalan Nathan


"Bangun!" kata Ray.


Pria itu membangunkan Kirana dengan kasar. Malam-malam begini sebenarnya Ray tidak ingin mencari Kirana. Tapi apa boleh buat, dia butuh uang untuk berfoya-foya.


"Kenapa kau kemari?" tanya Kirana.


"Berikan aku uang!" kata Ray. Berbeda dengan Kirana yang panik, Ray malah santai-santai saja.


Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Ray. Sudah merampas semua uangnya, mendorongnya sampai anak di perutnya keguguran dan sekarang minta uang. Setelah semua yang dilakukan Ray, apa Ray kira Kirana akan memberikannya uang lagi?


"Bukankah kau sendiri yang menguras habis uang yang kudapatkan dari Nathan?" tanya Kirana.


"Uangmu memang habis, tapi kau masih punya ini," jawab Ray. Ray merampas kalung Kirana dengan paksa. Lalu masih mempreteli perhiasan yang masih terpasang di tangan dan telinga Kirana dengan paksa.


"Ray, jangan keterlaluan. Nathan akan segera kemari mengantar barangku. Apa kau tidak takut aku akan mengadu pada Nathan?" ancam Kirana.


Ray bukannya takut. Tapi malah tertawa puas dengan ancaman itu. "Kalau begitu adukan saja. Apa kau pikir hanya kau yang bisa mengadu. Kirana, sebaiknya patuh sajalah. Segera berikan semua harta yang kau punya padaku. Karena kalau tidak, aku akan memberitahu Nathan bahwa anak yang gugur itu bukan anaknya tapi anakku," tantang Ray.


"Ray, apa kau lupa. Kalau kau mengadu bukan hanya aku yang hancur, tapi kau pun juga hancur. Bahkan dirimu lah yang memintaku berakting seolah-olah Oddie sialan itu yang membuatku keguguran!" teriak Kirana.


"Aku tahu aku akan hancur jika mengatakannya. Tapi aku lebih suka hancur bersamamu daripada kau yang lebih dulu menghancurkanku dan menikmati harta Nathan sendirian," kata Ray dengan mencengkeram pipi Kirana.


Kirana hanya bisa mengepalkan tangannya. Ray rupanya tidak sebodoh itu. Tapi Kirana juga tidak sebodoh itu dan membiarkan Ray mengadu. Kali ini, dia hanya bisa menuruti semua permintaan Ray karena mereka berada di kapal yang sama. Lalu setelah Kirana menikah dengan Nathan dan menguasai hartanya nanti, barulah Kirana akan membereskan Ray dengan tangannya sendiri.


"Apa hanya ini saja?" tanya Ray.


"Tidak ada lagi!" jawab Kirana.


Meskipun terlihat tidak puas, tapi Ray tidak memaksa lagi. Toh memang sudah tidak ada apapun. "Aku tahu kau masih memiliki lebih banyak lagi di rumah Nathan. Segera berikan padaku setelah kau keluar dari rumah sakit," kata Ray kemudian berlalu.


Ray segera keluar dari ruangan Kirana. Pergi ke parkiran dengan hati senang tanpa tahu Nathan sudah menunggunya disana. Bagus kalau hanya Nathan. Masalahnya ada sepuluh pengawal yang berdiri di belakangnya dan siap menangkap Ray.


Senyum Ray langsung pudar begitu melihat Nathan. Lalu berlari secepat yang dia bisa untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi di hadapan Dean Nathan yang sudah marah, apa usaha kecil dari Ray itu akan membuahkan hasil? Tentu saja tidak. Karena kurang dari sepuluh meter saja Ray sudah berhasil di lumpuhkan.


"Dean Nathan!" teriak Ray.


Pria itu mencoba melawan meskipun gagal. Sementara Nathan langsung mendekat dan mengambil kembali apa yang Ray curi dari Kirana. Mengembalikannya pada Kirana? Tentu saja tidak. Karena Nathan lebih memilih untuk memberikan satu set perhiasan itu kepada salah satu pengawalnya.


"Ini untuk kalian. Jual dan pastikan kalian membaginya dengan adil. Tapi jangan lupa untuk membereskan pria ini terlebih dulu," kata Nathan.


"Siap, Bos! Terimakasih!" sahut pengawal.


"Tenang saja. Dia pun juga akan ku hancurkan sama sepertimu," kata Nathan.


Pengawal itu segera membawa Ray untuk di eksekusi. Sementara Nathan langsung menghubungi Leah malam itu juga. "Tolong jual semua tas, perhiasan dan barang berharga milik Kirana. Rumah itu aku sudah tidak menginginkannya lagi. Katakan pada Lastri, Maman dan dua satpam itu untuk bersiap. Aku akan pindah rumah secepatnya," kaya Nathan.


"Sekarang juga?" tanya Leah dari seberang sana.


"Tidak perlu sekarang. Tapi aku ingin semua barang Kirana sudah kau ambil besok," jawab Nathan.


"Baiklah, Tuan Muda!" sahut Leah.


Nathan segera mematikan ponselnya agar tidak terus berdering karena panggilan dari Kirana. Pria itu sempat mengintip dari jauh, bukan karena khawatir. Tapi hanya ingin memastikan pengawal yang dia kirim untuk mengawasi Kirana melakukan tugasnya dengan baik.


Selesai dengan semua itu, Nathan segera kembali ke kamar Oddie. Membuka pintu dengan sangat pelan sebelum duduk di sampingnya. Oddie masih belum bangun juga karena Dokter sengaja memberikan obat agar Oddie bisa istirahat dengan nyenyak.


Nathan memegangi satu tangan Oddie. Menciumnya beberapa kali dengan wajah penuh sesal. Jujur saja Nathan tidak berani melihat Oddie meskipun dia tertidur. Terlebih saat dia mengingat bagaimana dia memperlakukan Oddie selama ini.


Oddie yang malang. Oddie yang selalu menangis. Oddie yang selalu memilih menahan rasa sakit daripada memohon ampun padanya saat dia memukulnya. Seorang istri yang bahkan tidak pernah dia ijinkan naik di ranjangnya selain saat dia sakit malam itu.


"Maafkan aku, Die! Aku sangat banyak salah," gumam Nathan.


Nathan melihat tubuh Oddie yang penuh bekas luka. Mengingat mata Oddie yang sudah tidak berfungsi semestinya dan kakinya yang pincang. Nathan mulai menangis dalam sepi. Dia masih ingat bagaimana sempurnanya Oddie waktu itu. Oddie yang sangat dia cintai saat masih menjadi seorang mahasiswi.


Jadi, apa sebelumnya Nathan mencintai Oddie?


Jawabannya adalah iya. Nathan memang mengejar cinta Oddie waktu itu. Lebih tepatnya setelah pertemuan yang tidak di sengaja saat menghadiri acara ulangtahun perusahaan. Saat itu Nathan tidak sengaja bertemu dengan Oddie yang dibawa ayahnya dan Nathan langsung terpesona.


Setelah kejadian itu, Nathan sering datang ke kampus hanya untuk memberikan bunga mawar putih untuk Oddie. Tapi Oddie terlalu sulit untuk dikejar. Dia bahkan hanya tersenyum tanpa menjawab apapun saat Nathan mengutarakan perasaannya. Sampai suatu hari Nathan harus pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Sekali lagi Nathan datang. Bukan hanya membawa setangkai mawar untuk Oddie. Tapi juga mengatakan salam perpisahan.


"Aku mencintaimu, Die! Tapi aku harus pergi. Tapi jangan takut, aku pasti akan kembali untuk menikahimu. Jadi pastikan jari manismu masih kosong sampai waktu itu tiba."


Itulah janji Nathan pada Oddie sebelum dia pergi. Tidak hanya memberikan Oddie sebuah janji pernikahan. Nathan juga memeluk dan mencuri ciuman pertama milik Oddie tanpa permisi.


Nathan benar-benar pergi setelah itu. Meninggalkan Oddie yang mulai jatuh cinta kepada seorang Dean Nathan yang selalu memberikannya sebuah bunga meskipun dengan cara yang berbeda.


Cinta itu terus bersemi, sampai kasus korupsi itu pecah dan Oddie harus merelakan saat ayah dan ibunya ditahan. Merelakan saat petugas menghancurkan bunga-bunga pemberian Nathan yang tidak dia buang meskipun sudah mengering. Tentu saja Oddie juga harus rela saat ayahnya mati dan Dean Nathan benar-benar menepati janjinya untuk menikahinya. Bedanya adalah pernikahan itu bukan lagi pernikahan seperti yang Dean Nathan janjikan.


"Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkan aku, Die! Tapi bisakah memberikan aku kesempatan satu kali saja?" gumam Nathan dengan air mata yang menggenang.


...***...