Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
61. Ibu Dan Anak


Satu bulan sudah Danu membiarkan istrinya tetap selingkuh dan dia tidak memberikan jatah mingguan lagi pada Jasmin. Jasmin semakin geram sekali pada suaminya itu, bahkan ibunya juga ikut marah padanya karena lalainya sebagai istri sampai Danu mengurangi jatahnya.


Danu berpikir, memang dia di bodohi oleh Jasmin. Tidak mengapa, tapi kekuatan uang dia miliki akan membuat anak dan ibu itu jadi kelabakan. Tanpa uang Danu, keduanya semakin sengsara.


Seperti sekarang ini, Jasmin berada di rumah ibunya. Dia mengadu pada ibunya kalau sekarang Danu tidak memberinya jatah mingguan lagi. Bahkan hanya satu kali saja di awal bulan.


"Suamimu kenapa sih, Jasmin? Kok sekarang ibu cuma di kasih satu juta aja sebulan. Dia bangkrut ya?" tanya ibu Jasmin.


"Mana ada bangkrut bu, dia kan uangnya bangak. Belum lagi warisan dari ibunya juga banyak, kalau pun ngga kerja lagi. Uangnya tetap banyak." kata Jasmin.


"Tapi kenapa kasih ibu cuma satu juta aja sih?"


"Aku juga cuma uang bulanan bu, untung kuliahky masih di bayarin. Jadi aku ngga pusing mikirin uang kuliah lagi. Sekarang dady banyak diamnya, dan sering mengabaikanku. Dia juga sekarang jarang minta jatah dariku." kata Jasmin.


"Atau kamu melakukan kesalahan sama suamimu? Coba ingat-ingat lagi." kata ibunya.


"Kesalahan apa bu? Aku kan sudah belajar masak, juga selalu menunggu dia pulang kerja. Tanya apakah dia mau aku beri jatah juga. Tapi tetap masih cuek aja, aku marah-marah juga ngga pernah di ladeni. Aku baru tahu sifat dady begitu." kata Jasmin bingung dengan sikap Danu yang jadi dingin padanya.


Dulu saja Danu selalu menuruti apa maunya dia, tidak masalah dia tidak memasak juga. Bahkan dulu mau mengambil pembantu, tapi akhirnya tidak jadi. Buat apa juga mengambil pembantu, semua pakaian kotor selalu masuk ke laundry.


"Ck, ibu jadi ngga bisa ngapa-ngapain sama uang satu juta itu. Hanya bisa buat makan aja, itu pun kadang-kadang makan enak." kata ibu Jasmin.


"Kan sekarang ayah kerja bu."


"Ya kerja, tapi ngga cukup untuk ibu belanja."


Mereka diam, merenungkan apa yang harus di lakukan agar Danu memberi mereka uang lebih besar seperti dulu. Jasmin sendiri masih memikirkan apakah perselingkuhannya dengan Dandy sudah tercium oleh suaminya?


Dia sekarang sedang mengurangi interval pertemuan atau acara menginap dengan Dandy. Laki-laki itu bahkan selalu merengek padanya agar bisa bertemu dan melakukan hal biasanya. Dengan sembunyi-sembunyi juga, Jasmin menuruti kemauan Dandy itu. Tapi lebih di kurangi karena dia ingin merayu Danu lagi memberinya uang banyak seperti dulu.


"Jasmin, ibu pengen bicara sama suamimu." kata ibunya.


"Bicara apa bu?" tanya Jasmin.


"Ya, menanyakan kenapa jatah ibu, jatah kamu juga berkurang. Pasti dia punya alasan kenapa seperti itu, kalau sampai itu gara-gara kamu. Berarti kamu yang salah, Jasmin." kata ibunya lagi.


"Kok ibu menyalahkan aku sih? Dia berubah juga karena perempuan panti asuhan itu. Entah kemaba dia pergi, sudah dua kali aku sama Dandy pergi kesana. Tapi rumahnya tutup terus." kata Jasmin.


"Mungkin dia kembali ke habitat aslinya, di panti asuhan." kata ibu Jasmin.


"Lalu, aku harus kesana?" tanya Jasmin.


"Bodoh kamu! Mau apa datang kesana, biarkan saja."


"Ck, aku ingin memarahinya. Jangan mempengaruhi dady lagi." kata Jasmin.


"Jangan gegabah Jasmin! Suamimu itu sedang bersikap dingin padamu. Lebih baik kamu rayu saja dia terus, agar dia kembali memberimu jatah seperti biasa dan ibu juga jatah seperti biasa. Kalau dia uangnya banyak, berarti bagus kan buat kita. Asal kamu manis-manis di sama dia, manja seperti biasanya. Ibu perhatikan juga kamu kurang memperhatikan suamimu, bahkan sering sekali kamu menginap di tempat temanmu." kata ibunya Jasmin.


"Kan ada tugas bu, jadi harus di kerjakan sama-sama." ucap Jasmin bohong.


Ibunya menatap tajam pada anaknya itu, dia mendengus kesal sekali.


"Minggu besok ibu mau datang ke rumah suamimu." kata ibunya lagi.


"Mau apa?" tanya Jasmin.


"Ya proteslah. Protes masalah uang bulanan ibu yang berkurang."


Jasmin diam, apa memang sebaiknya ibunya datang ya ke rumahnya? Dia juga mau menuntut uangnya kembali seperti biasa. Apa salah dia sehingga perubahan Danu bahkan jatahnya berkurang.


"Boleh bu, tapi ibu masak ya buat dady. Bawakan makanan." kata Jasmin.


"Iya, nanti ibu buatkan makanan untuknya. Tapi ibu minta uang sama kamu buat belanja."


"Lho, kok minta uang sih sama aku? Minta sana sama ayah."


"Modal dong bu."


"Haish! Yang seharusnya modal itu kamu. Ya sudah, ibu tidak akan bawa apa-apa ke rumahmu. Biar saja tidak ada makanan."


Jasmin menatap ibunya kesal, kenapa ibunya jadi ikutan matre seperti itu? Bahkan dia meminta uang padanya. Jasmi lalu menrogoh tasnya, dia mengambil dompet dan mengambil uang lembaran seratus ribu. Lalu di serahkan pada ibunya.


"Nih, masak yang banyak. Bila perlu untuk semunggu, bawa ke rumahku." kata Jasmin masih kesal dengan ibunya itu.


"Nah, gitu dong. Ini lumayan cukup untuk masak banyak. Ya sudah, ibu mau belanja dulu." kata ibunya.


Jasmin diam saja, ibunya pun pergi dari hadapan Jasmin. Dia masih menatap aneh pada ibunya yang sekarang lebih mementingkan uang. Ponselnya berbunyi, dia lihat Dandy. Senyumnya mengembang, kemudian dia menjawabnya.


"Halo, beb. Kangen ya?" tanya Jasmin.


"Iya nih, ketemu yuk?"


"Oke, di mana?" tanya Jasmin.


"Kamu datang ke kostku deh."


"Emm, nggak maulah. Nanti temanmu ganggu lagi."


"Heheh, ya udah di diskotik seperti biasa mau?"


"Oke aku lagi suntuk nih."


"Tapi uangku habis honey, kamu dulu ya yang bayar. Biar nanti aku kasih plus-plus deh. Heheh."


"Hemm, itu mauku. Hahah! Baiklah, setengah jam aku ke diskotik ya."


"Oke honey, ketemu di sana ya. Daah."


Klik!


Jasmin menutup sambungan teleponnya, dia masukkan ke dalam tas dan segera bersiap untuk pergi ke diskotik sesuai perjanjian dengan Dandy. Sebelumnya dia mau mencuci muka lebih dulu, lalu berdandan seperti biasa.


Ayah Jasmin datang, dia melihat anaknya sedang berdandan. Melihat di semua ruangan, mencari istrinya.


"Jasmin, ibumu mana?" tanya ayah Jasmin.


"Pergi belanja." jawab Jasmin.


"Belanja? Buat apa? Kan biasanya beli aja makanannya."


"Aku suruh ibu masak buat suamiku, yah. Besok ibu mau datang ke rumah. Ketemu sama suamiku." kata Jasmin lagi.


"Mau apa?"


"Adalah pokoknya." jawab Jasmin.


"Pasti masalah uang bulanan yang di kurangi." gumam ayah Jasmin.


Dia menghela nafas panjang, lalu masuk ke dapur untuk minum. Jasmin pun segera keluar, dia merapikan bajunya yang memakai rok pendek serta baju bagian pundaknya lebar dan hampir terlihat bagian dadanya.


Dia sangat senang memakai baju seperti itu, setelah merapikan bajunya. Jasmin pun keluar dari kamarnya dan mengambil tasnya. Keluar rumah lalu menunggu taksi datang.


_


_


******************