Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
43. Bertemu Andre


Hati Laras sudah lebih baik. Dia melakukan kegiatan seperti biasanya, hanya saja harus di batasi karena keadaannya yang sedang hamil. Dan kali ini Dian yang lebih banyak memgerjakan pekerjaan Laras.


Laras lebih banyak istirahat, karena dia sering sekali merasa mual dan muntah jika mencium bau kurang sedap.


"Kak Laras tidak apa-apa?" tanya Dian.


"Ya, hanya kalau mencium bau tidak sedap kakak mual dan muntah. Maaf ya, Dian. Kakak tidak seperti biasanya, kamu yang banyak melakukan semuanya." kata Laras.


"Ya ngga apa-apa kak, kita hidup di tempat yang sama. Jadi harus saling membantu, kak Laras sedang hamil. Jadi harus banyak istirahat, nanti janin kakak protes kalau ibunya tidak istirahat. Dan juga jangan banyak pikiran kak." kata Dian.


Laras tersenyum, dia merasa beruntung mengajak Dian untuk membantunya dalam bisnisnya. Membantunya dengan tulus dan selalu memperhatikan semuanya, mengerti tentang hatinya saat ini. Gadis berusia delapan belas tahun itu lebih dewasa dari usianya.


"Kamu baik sekali Dian, tidak semua gadis seusiamu mau melakukan hal yang merepotkan seperti ini. Membantu kakak sepenuhnya." kata Laras.


"Seperti kata kak Laras, kita ini anak yatim piatu. Jika kita sendiri yang berbuat baik dan menjadi lebih baik. Maka siapa yang akan melihat kita, itu yang selalu aku ingat kak." kata Dian.


"Iya Dian, memang kita harus berbaik hati sama orang lain. Dari sikap kita itu, pasti orang menghargai kita. Dan Allah sangat menyayangi kita yang selalu berbuat baik." kata Laras.


Dian tersenyum, dia sangat senang sekali bicara seperti itu dengan Laras. Baginya, Laras adalah kakak terbaik di panti asuhan. Yang selalu berpikiran optimis dan tidak pantang menyerah.


Laras mengelus perutnya yang mulai terlihat, dia tersenyum sendiri. Hatinya bahagia ketika merasakan ada gerakan di dalam perutnya itu.


"Oh ya Dian, kakak sudah lebih baik. Kakak mau membeli bahan yang kurang untuk kue. Siang ini kakak aja yang belanja ya." kata Laras.


"Memang kakak sudah enakan?" tanya Dian.


"Sudah kok, tadi itu hanya mual karena bau kue yang di kukus aja. Kamu jangan khawatir, nanti kalau kakak capek berhenti di pinggir jalan. Atau beli makanan, kakak akan bawakan kamu siomay." kata Laras.


"Baiklah, kak Laras hati-hati ya." kata Dian.


"Ya. Kakak pergi dulu ya." kata Laras.


"Ya kak."


Laras bangkit dari duduknya dan mengambil helmnya. Dia menaiki motor dan segera melajukannya, dia hanya berpikir tidak mau larut dalam sedihnya jika di rumah saja.


_


Selesai mengepak barang-barang yang dia beli di toko, dia letakkan di atas motor bagian belakang. Memang dia membuat jok motor di belakang di buat kantong untuk muatan banyak jika berbelanja sendirian.


Perut Laras terasa lapar, dia lalu pergi ke warung makan di sebelah toko yang dia belanja tadi. Dia akan makan di warung itu, rasanya sangat enak membayangkan makan di warung itu dengan memilih beberapa menu lauk pauk.


Dia pun memilih sayur paria tumis dan juga sambal goreng ati ampela. Setelah memesan itu, menunggu pesanannya datang. Seorang laki-laki masuk ke dalam warung itu, Laras terkejut melihat laki-laki itu dan menyapanya.


"Kak Andre!" sapa Laras.


Andre pun menoleh ke arah sumber suara, dia tersenyum dan duduk di sebelah Laras yang juga tersenyum padanya.


"Laras, kamu sedang makan di sini?" tanya Andre senang bisa ketemu dengan mantan pegawainya itu.


"Iya kak, aku lapar. Kak Andre suka makanan warung juga." kata Laras.


"Hemm, ya. Aku suka, meski di kafe banyak makanan enak. Tapi sesekali aku ingin makan di warung." kata Andre memperhatikan wajah Laras yang terlihat berisi pipinya.


"Iya juga sih, suka bosan ya kak makanan di kafe." ucap Laras.


"Kamu kok pangling, lebih berisi pipinya." kata Andre.


"Heheh, karena aku suka makan kak." jawab Laras.


"Hemm, jadi kamu ada program penggemukan badan?" tanya Andre dengan kelakarnya.


"Ngga juga, aku memang lagi banyak makan akhir-akhir ini." jawab Laras.


Dia tidak bicara jujur masalah kehamilannya. Karena Andre belum tahu masalah status dan juga hal pribadinya. Andre juga senang bisa bertemu dengan Laras, gadis yang dulu pernah dia taksir dan menolaknya dengan halus itu.


"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Andre.


"Di perumahan kecil kak, jauh dari jalan raya dan perkotaan. Tapi bisa bolak-balik ke kota sih, heheh." katq Laras.


"Kan kak Andre sibuk." kata Laras.


"Aku sekarang lebih santai di kafe, ngga setiap hari datang kesana. Lebih banyak mengurus kebun buah yang baru di rintis." kata Andre.


"Oh ya? Kak Andre sekarang mau jadi petani buah?"


"Emm, bisa juga di bilang begitu." kata Andre.


Makanan yang di pesan Laras pun datang, Andre juga memesan makanan dan makan di sana dengan Laras. Dia senang bisa bertemu lagi dengan Laras, tapi sepertinya ada yang berbeda dari Laras. Ada raut kesedihan di sana.


Anisa, sahabat Laras pernah bercerita mengenai masalah Laras. Dia sudah tahu dengan status Laras itu dari Anisa, tapi dia belum berani bertanya masalah Laras itu. Dia makan sembari melirik Laras yang makan dengan lahap.


"Kamu makannya lahap banget, lapar ya?" tanya Andre.


"Heheh, karena dari rumah belum makan. Jadi makannya lahap." kata Laras menyudahi makannya dengan minum sampai habis.


"Lucu kamu, makan banyak dan minum juga banyak." kata Andre.


"Aku harus buru-buru pulang kak, di rumah kasihan ada pegawai sendirian kerja. Jadi harus pulang cepat, ini aja mau langsung pulang tapi keburu lapar. Ya udah, makan dulu." kata Laras.


"Eh, pegawai? Kamu punya bisnis apa?" tanya Andre menyudahi makannya juga.


"Binisi online kak, cuma buat kue dan di jual secara online. Lalu di kirim melaui paket, Alhamdulillah sudah punya pelanggan." kata Laras.


"Waah, hebat juga ya. Emm, nanti kapan-kapan aku join kerja sama denganmu. Aku minta alamat rumah kamu, Laras." kata Andre.


"Tapi kak, aku ..."


"Mau ngasih ngga?"


"Tapi rumahku kecil, kan rumah BTN jadi kecil." kata Laras.


"Memangnya aku mau sidak rumahmu?"


"Heheh. Ngga sih, aku kirim chat aja ya." kata Laras mengambil ponselnya dan mengirim alamat pada nomor Andre.


"Jadi nomor kamu masih yang dulu? Kok aku pernah hubungi kamu ngga aktif sih?" tanya Andre.


"Ponselku pernah rusak, jadi di perbaiki selama seminggu. Jadi ngga bisa di hubungi, Anisa aja jarang telepon aku. Nomor ponsel Anisa hilang."


"Kenapa ngga datang ke kafe aja?"


"Aku sibuk mengurus bisnis online, jadi ngga sempat main ke kafe ketemu Anisa."


"Hemm, ya udah. Ini rumahmu ya, kapan-kapan aku main ke rumahmu." kata Andre.


"Iya kak, tapi maaf kalau nanti rumahku berantakan karena banyak barang belanjaan."


"Ngga apa-apa."


"Kalau begitu, aku pulang dulu kak Andre. Dian pasti sudah menunggu siomaynya." kata Laras.


"Oke, sampai ketemu lagi ya. Hati-hati Laras."


"Terima kasih kak Andre."


Laras membayar makanan yang dia makan dan keluar dari warung makan tersebut. Andre menunggu pesanan untuk di bawa pulang ke tempat di mana dia juga mempunyai anak asuh di rumah belakangnya. Sesuatu terinspirasi dari Laras, menampung anak-anak jalanan yang tidak punya orang tua.


Sangat menyenangkan baginya melakukan itu, karena dia melihat Laras yang selalu bersemangat dan percaya diri meski dia datang dari panti asuhan sejak kecil.


_


_


******************