Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
32. Makan Di Rumah Laras


Danu terus mengikuti kemana motor Laras pergi, malam begini dia merasa aneh kenapa istrinya itu masih ada di jalanan. Dia lupa dengan rasa gelisahnya pada Jasmin yang belum juga pulang ke rumahnya.


Motor Laras pun berhenti di sebuah toko bahan-bahan kue. Dia memarkirkan di depan toko tersebut lalu masuk ke dalam toko, lama dia di dalam toko tersebut. Danu menunggu di dalam mobil, sesekali dia melirik jamnya. Sudah jam delapan lewat tiga puluh, tapi Laras belum juga keluar dari toko bahan kue tersebut.


Tak lama Laras keluar dengan membawa kantong kresek berisi belanjaan. Agak repot Laras membawanya, namun dia bisa mengatasinya. Dari dalam mobil Danu masih memperhatikan Laras merapikan belanjaannya, baru setelah itu dia segera pergi dari toko tersebut dan langsung pulang.


Danu masih mengikuti Laras sampai memasuki perumahan. Danu terkejut, dia tidak sadar kalau masih mengikuti Laras sampai di rumahnya. Ingin dia kembali lagi, namun sudah sejauh ini dia mengikutinya.


Kini niatnya berubah, dia akan berkunjung ke rumah istri pertamanya itu. Yang dia usir dulu karena ketahuan telah membawa orang ke dalam rumahnya. Mobil Danu berjalan melambat, dia memperhatikan motor Laras masuk ke rumah paling ujung.


Rumah masih bentuk dan cat yang sama dari rumah itu di beli. Hanya ada kursi di depan rumah saja dua, dan akhirnya Danu menghentikan mobilnya di depan samping rumah Laras. Dia belum turun, dia melihat Laras menurunkan belanjaannya dan membawanya ke dalam rumah.


"Dia masih sendiri di rumah itu?" ucap Danu.


Dia pun turun dan melangkah pelan. Berhenti di depan pintu pagar bambu rumah Laras, ragu untuk masuk ke dalam. Namun, tiba-tiba perutnya berbunyi. Lupa kalau malam ini dia belum makan apa-apa, sibuk memikirkan Jasmin belum juga pulang.


Laras keluar lagi, dia hendak mengambil barang yang masih di atas motor. Danu berbalik, tapi sayang Laras mengetahui kalau suaminya itu ada di depan rumahnya lalu menyapanya.


"Mas Danu?" sapa Laras ragu.


Danu berhenti, lalu berbalik pelan dan kini menghadap Laras. Laras mendekat dan menyalami suaminya, meski dia tahu pasti suatu saat nanti Danu akan menceraikannya. Tapi selama masih istrinya, dia akan menghormatinya meski dia telah di usir dulu.


"Mas Danu kesasar kemari atau sedang ada tugas?" tanya Laras basa basi.


Ini malam hari, tidak mungkin Danu bertugas. Jadi ucapannya itu hanya basa basi saja, Danu tahu itu.


"Tadi lewat, jadi sekalian mau lihat rumahmu yang aku belikan untukmu. Apa kamu betah?" tanya Danu.


"Alhamdulillah mas, terima kasih ya." kata Laras tersenyum.


Danu mencibir tipis, lalu melihat rumah Laras itu masih sama saja. Perutnya kembali berbunyi, hingga Laras pun mendengarnya. Danu malu, tapi dia diam saja.


"Mas Danu lapar ya, aku buatkan makanan ya di dalam. Apa mas Danu mau masuk ke dalam?" tanya Laras.


Tanpa menjawab, Danu pun melangkah menuju rumah Laras. Di dalam rumah hanya ada karpet saja, ada beberapa barang yang tadi di beli di toko bahan kue.


"Duduk mas, nanti aku buatkan makanan untuk mas Danu." kata Laras.


"Ya." jawab Danu singkat.


Dia pun duduk di karpet tersebut, matanya berkeliling. Tampak dua kamar di depan ruang tamu, ada nama Laras di kamar depan dan kamar sebelahnya nama Dian. Dia memicingkan matanya, tebakannya Laras ada temannya. Apa dia membawa orang untuk menemaninya?


Laras keluar membawa nampan berisi nasi di piring dan juga lauk pauknya. Dia letakkan di depan Danu dan mempersilakan suaminya itu makan.


"Makan mas, adanya hanya sop ayam dan juga pepes jamur saja yang aku masak." kata Laras.


Danu mengambil piringnya dan menuangkan sayur sop ke dalam nasinya. Lalu mengambil pepes yang sudah di buka oleh Laras. Dia lalu memakannya, memang perutnya sangat lapar sekali. Dia makan dengan lahap sekali, entah kenapa makan kali ini sangat sedap di mulutnya.


Laras memperhatikan suaminya makan dengan lahap, dia pun tersenyum. Masakannya di makan oleh suaminya, meski dia sendiri belum makan. Tapi lebih baik suaminya makan lebih dulu.


Setelah habis, Laras mengambil piring kosong tadi yang sudah habis isinya lalu di bawa ke belakang. Mengambil teko air lagi, karena sepertinya Danu kehausan.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Danu.


"Tidak mas, ada anak dari panti yang bantu aku di sini." jawab Laras.


"Kamu takut sendirian?" tanya Danu lagi, datar saja.


"Kamu buka usaha? Usaha apa?" tanya Danu.


"Membuat kue." jawab Laras lagi.


Danu diam, dua bulan dia tidak mengirimi uang pada Laras. Padahal masih tanggung jawabnya, masih kewajibannya sebagai istrinya. Tapi dua bulan tidak mengirim uang pada Laras.


"Kamu senang melakukan itu?" tanya Danu lagi.


"Ya, untuk kegiatanku saja mas."


"Baguslah, kalau kamu lepas dariku. Setidaknya kamu masih punya penghasilan sendiri jika aku sudah tidak memberimu uang." kata Danu, lupa kalau sejak Laras pindah dia tidak memberi uang pada Laras.


Ingin Laras bicara, kalau dia sudah tidak di kirimi lagi uangnya. Tapi Laras diam saja, membiarkan Danu menyadarinya sendiri. Atau mungkin dia membiarkan Danu tetap jadi suaminya meski tidak di nafkahi selama empat bulan ini.


Tapi sepertinya Danu menyadari kalau dia sudah tidak memberi uang pada Laras. Dia mengambil ponselnya lalu membuka M-bankingnya.


"Nomor rekeningmu masih sama?" tanya Danu.


"Masih mas."


Danu mengetik nominal pada rekening Laras, lalu mengiriminya uang ke rekening istrinya itu.


"Aku sudah kirim uang buat kamu, isi sekalian rumahnya. Aku yakin kamu belum punya ranjang kan?" kata Danu.


"Belum."


"Heh, mana ada uang kamu membeli ranjang dan kasurnya." kata Danu mencibir.


Laras hanya diam saja. Baginya sudah biasa Danu selalu mencibirnya, bahkan membentaknya. Tapi dia tidak membalas dan menanggapi ucapan Danu.


"Kamu sengaja mampir kemari mas?" tanya Laras.


"Aku hanya lewat, kebetulan tadi di jalan kamu sendirian. Aku merasa kasihan malam-malam kamu masih berkeliaran di jalan, jadi aku ikuti kamu sampai rumah. Seharusnya kamu berterima kasih aku menjagamu selamat sampai rumah." kata Danu dengan angkuh.


"Terima kasih, kamu mengikuti aku mas. Tapi aku sudah biasa pulang sendiri malam begini." kata Laras, ada senyuman di bibirnya.


Meski Danu mengatakan dengan sombong, setidaknya dia mampir ke rumahnya dan makan masakannya dengan lahap.


"Aku pulang. Lain kali jangan malam-malam di jalan."


"Iya mas."


Danu keluar dari rumah Laras, dia seperti lupa dengan masalahnya dengan Jasmin. Laras mengantar suaminya sampai depan pintu pagar lalu menyalaminya.


"Hati-hati mas Danu. Dan terima kasih kamu perhatian sama aku." kata Laras.


"Heh! Siapa yang perhatian sama kamu? Aku bahkan masih tidak menyukaimu." kata Danu, nada bicaranya tidak seperti biasanya.


Dia masuk ke dalam mobilnya, pikirannya jadi kacau. Kenapa dia jadi perhatian pada Laras, bukankah dia sangat membencinya?


_


_


**********************