Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
44. Andre Kecewa


Laras semakin senang dengan kehamilannya itu, dia merasa lebih lincah dan bergerak bebas untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Kehamilan yang kelima bulan, justru Laras sering sekali keluar rumah untuk berbelanja.


Sejak bertemu Andre di warung nasi itu, Andre baru dua kali datang ke rumah Laras. Mungkin dia terlalu sibuk dengan bisnis barunya, tapi bagi Laras tidak masalah. Andre hanya teman saja bagi Laras, dan kali ini Laras sedang berada di rumah.


Dengan mengelus perutnya yang mulai membesar, dia tersenyum senang.


"Sehat-sehat di dalam ya nak. Ibu akan selalu menjagamu sampai kamu keluar dan akan membesarkanmu. Ibu tidak peduli jika ayahmu nanti tidak mengakuimu. Sekarang ibu hanya akan fokus sama kamu." ucap Laras sambil mengelus perutnya itu.


Pintu rumah Laras terbuka, dia tidak menyadari kalau ada laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya, menatap dengan tatapan kecewa dan penasaran.


"Laras." sapa laki-laki itu pelan, menatap perut Laras yang terlihat besar.


"Kak Andre." ucap Laras ikut terkejut, tangannya masih memegangi perutnya.


Menatap Andre lalu beralih ke perutnya. Dia pun tersenyum getir, memang belum pernah bercerita apa pun pada Andre mengenai keadaannya. Laras pun berdiri dan mendekat pada Andre, masih memegangi perutnya yang besar.


"Masuk kak." kata Laras.


"Oh ya, aku di teras saja." kata Andre.


Andre duduk di kursi teras, hatinya kacau melihat keadaan Laras. Rencananya memang dia ingin menanyakan hal pribadi, yaitu cerita Anisa tentang Laras.


Laras masuk ke dalam rumah, mengambil cemilan dan juga air minum. Lalu dia membawa ke depan dan di letakkan di meja.


"Silakan di cicipi kak." kata Laras ikut duduk di sebelahnya.


"Aku kaget dengan keadaanmu Laras, dua bulan lalu kemari aku tidak melihat perutmu membesar." kata Andre lirih.


"Maaf kak, aku tidak pernah cerita tentang statusku sama kak Andre." kata Laras merasa bersalah.


"Aku tahu ceritanya dari Anisa. Kalau kamu sudah menikah dengan laki-laki bernama Danu, anak dari ibu pengasuhmu dulu. Tapi kupikir kamu sudah bercerai, karena Anisa juga bercerita suamimu tidak mencintaimu dan dia punya istri lain kan?" ucap Andre.


Laras diam, dia menunduk. Ada yang aneh dari sikap Andre ini dan ucapan kecewanya itu. Bukankah Andre punya pacar?


"Iya kak, suamiku itu punya istri lain. Tapi dia belum menceraikan aku, bahkan enam bulan lalu dia sering ke rumah. Tapi itu hanya pelampiasan saja, dan akhirnya aku hamil anaknya. Maafkan aku kalau tidak pernah cerita sama kak Andre. Aku pikir buat apa, kak Andre sudah sibuk dan juga bukan urusan kak Andre juga kan." kata Laras.


"Kamu tahu Laras, sejak kamu menolakku. Aku berusaha mencari penggantimu, dan dia Tania. Tapi aku tidak betah dan tidak cocok dengannya. Dia terlalu pemaksa dan selalu menyombongkan diri. Sudah lima bulan lalu aku putus dengannya, niatnya aku ingin dekat lagi denganmu. Tapi ..." kata Andre terputus.


"Maaf kalau begitu kak Andre, aku tidak seperti apa yang kakak harapkan." kata Laras.


Keduanya diam, mereka menyelami masing-masing pikiran yang sama-sama kacau. Entah Laras merasa tidak enak hati pada Andre, sedangkan Andre merasa kecewa dengan keadaan Laras yang sedang hamil itu. Pupus sudah harapannya, dia menghela nafas panjang.


"Sudah berapa bulan kandunganmu?" tanya Andre.


"Sekarang menginjak lima bulan." jawab Laras.


"Apa suamimu sering kemari?" tanya Andre.


Laras diam, lalu menggeleng. Wajahnya berubah sendu dan menarik nafas berat. Dia sudah berusaha melupakan Danu yang kini lupa akan dirinya itu.


"Apa aku boleh sering datang kemari?" tanya Andre.


"Eh? Apa kak?" tanya Laras kaget.


"Kamu melamun ya." kata Andre.


"Ngga, kakak boleh kok datang kemari. Tapi maaf kalau aku tidak menyambut kakak seperi halnya sekarang. Karena aku juga sibuk, lagi pula kakak juga sibuk kan?" kata Laras tersenyum.


"Emm, ya. Sesekali deh."


"Boleh saja."


"Anisa pasti kaget melihat keadaanmu nanti." kata Andre.


"Anisa sudah tahu kak." jawab Laras.


"Kan buat apa Anisa cerita masalah aku sama kak Andre." kata Laras.


"Benar juga, sekarang aku yang terkejut melihat keadaanmu." kata Andre mendessah panjang.


"Maaf kak." kata Laras lirih.


"Kamu minta maaf kenapa? Kamu tidak salah kok, mungkin aku yang terlalu berharap banyak sama kamu. Tapi tidak mencari tahu lebih jelas tentang kamu, Laras." kata Andre lagi.


Jika bisa menunggu, Andre akan menunggunya. Tapi, dia melihat wajah Laras sepertinya menyukai suaminya. Harapan Andre memudar melihat Laras seperti itu.


_


Sejak kedatangannya ke rumah Laras itu, Andre kembali lagi pergi ke kedai kopinya. Dia menyuruh Anisa datang ke ruangannya, entah dia mau bertanya apa pada gadis itu.


Tok tok tok


"Masuk!"


Pintu terbuka, nampak Anisa masih memakai celemek dan dia masuk ke ruangan Andre.


"Duduk Nisa." kata Andre.


"Terima kasih pak."


Anisa duduk di kursi depan meja, dia melihat Andre masih menatap laptopnya. Belum bicara apa yang akan dia tanyakan.


"Pak Andre mau bicara apa?" tanya Anisa.


"Sebentar, aku selesaikan dulu ya." kata Andre.


Anisa mengangguk, dia menunggu Andre selesai dengan pekerjaannya. Andre pun menutup laptopnya dan menatap Anisa, lalu menghela nafas panjang.


"Kamu tahu banyak tentang Laras?" tanya Andre.


"Maksudnya masalah Laras pak?" tanya Anisa heran.


"Ya, ceritakan padaku tentang Laras sampai sekarang ini." kata Andre, meski dia tahu keadaan Laras sedang hamil itu.


"Laras hamil anaknya pak Danu pak, suaminya." kata Anisa.


"Aku tahu itu, tapi kamu ceritakan tentang hubungan mereka sejak awal sampai saat ini. Laras pasti cerita kan sama kamu?" kata Andre.


Anisa ragu, dia janji pada Laras untuk menyimpan rapat masalahnya dengan suaminya. Andre menunggu Anisa cerita tentang Laras, tapi Anisa masih diam saja.


"Aku ingin tahu Anisa, kamu bisa mempercayaiku menyimpan masalah Laras. Atau mungkin nanti aku bisa bantu dia." kata Andre memaksa Anisa cerita.


Lalu akhirnya Anisa pun menceritakan awal mula Laras bisa menikah dengan Danu. Bagaimana dia pernah di usir dari rumah suaminya dan menginap di kost Anisa. Lalu bekerja di kedai kopi Andre, hingga dia di panggil lagi ke rumah suaminya dan sekarang di usir lagi karena suaminya menikah dengan gadis yang di cintainya.


Sampai istri dari suaminya itu tidak pulang-pulang, dan akhirnya Danu sering datang dan meminta jatahnya pada Laras. Pada akhirnya Laras di campakkan lagi hingga hamil pun suaminya itu belum tahu kalau dia sedang mengandung anaknya.


"Jahat sekali dia, laki-laki macam apa sampai menelantarkan gadis baik seperti Laras." kata Andre mulai kesal mendengar cerita Anisa.


"Tapi, sepertinya Laras mulai mencintai suaminya itu pak. Akan sangat susah untuk Laras berhenti berharap, mungkin dia bersikap biasa saja. Tapi hatinya rapuh dan merasakan kerinduan pada suaminya. Kasihan dia." kata Anisa lagi.


"Ya, kulihat wajahnya dulu sangat sedih sekali. Meski dia bersikap ceria di hadapan orang, tapi kalau sudah jatuh cinta itu susah untuk di hilangkan begitu saja." kata Andre, pikirannya menerawang jauh.


Karena dia juga merasakan hal yang sama, mencintai Laras. Dan Laras tidak menyambut cintanya, hingga detik ini rasa cinta pada Laras masih sama. Tapi dia kecewa dengan keadaan Laras sekarang, mengandung anak suaminya dan lebih sulitnya lagi dia mulai mencintai suaminya.


_


_


******************