
Danu merenung di dalam kantornya, sejak berangkat dari rumah tadi. Tanpa berpamitan pada istrinya bahkan tidak menggendong anaknya lagi. Entah, sejak Jasmin selalu meneleponnya dia jadi banyak diam. Meski dia jarang menjawab teleponnya, tapi dia menjauhi Laras.
Istrinya itu bahkan tahu kalau dirinya sedang banyak masalah. Dia memikirkan Jasmin, ya. Danu memikirkan Jasmin yang sekarang.
Tok tok tok.
"Masuk."
Pintu terbuka, nampak Rizwan masuk dan membawa berkas di tangannya. Dia melihat Danu sedang banyak masalah, kemudian dia duduk di depannya.
"Kamu sepertinya banyak masalah?" tanya Rizwan.
"Seperti itu. Kamu tahu, Jasmin menghubungiku terus akhir-akhir ini." kata Danu.
"Mau apa lagi gadis itu meneleponmu?" tanya Rizwan.
"Dia meminta bantuanku." kata Danu.
"Bantuan apa? Jangan-jangan itu hanya modus dia saja agar kamu bisa kembali lagi padanya. Dia sekarang di buang oleh pacarnya itu, dan dia mencarimu lagi?" kata Rizwan.
"Entah, aku belum tahu itu."
"Lalu, apa yang membuatmu jadi uriing-uringan seperti itu? Atau kamu masih berharap kembali lagi pada gadis itu? Kamu masih mencintai Jasmin? Bagaimana dengan Laras?" pertanyaan Rizwan membuat Danu kesal karena terlalu banyak itu.
"Ck, kamu tidak tahu masalah yang membuatku rumit untuk berpikir. Akhir-akhir ini aku berubah sama Laras, ya. Karena Jasmin, dia sering meneleponku. Dua kali dia meneleponku dan Laras mengetahuinya. Aku bahkan menjauh darinya karena itu, aku bingung." kata Danu.
"Kamu bingung kenapa? Sekarang kamu sudah bahagia dengan Laras, dia sudah jadi istri dan ibu yang baik bagimu. Kamu juga sudah memberikan rumah untuknya, dan bahkan dia menolak kan katamu bekerja di perusahaan ibumu. Kurang apa lagi Laras itu, Danu. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu." kata Rizwan kesal kenapa Danu masih memikirkan Jasmin.
"Kamu tahu, kenapa Jasmin menghubungiku? Dia meminta bantuan uang, karena dia sakit." kata Danu.
"Hah! Alasan."
"Dia sakit HIV." kata Danu.
"Dari mana kamu tahu?"
"Dia mengirimiku pesan, karena aku tidak menjawab teleponnya. Dia bercerita panjang lebar di pesan itu, dan meminta bantuanku untuk biaya pengobatannya." kata Danu.
"Itu balasan bagi orang yang hidupnya terlalu bebas. Pacarnya bahkan menularkan penyakit mengerikan itu. Baguslah." kata Rizwan.
"Kamu sepertinya membenci sekali pada Jasmin." kata Danu.
"Tentu saja, dia yang membuatmu buta dan tuli karena cinta." kata Rizwan lagi.
Danu menghela nafas panjang, teringat tadi pagi dia mendengar istrinya mengeluh.
"Laras bahkan berharap aku mencintainya." kata Danu pelan.
"Seorang istri memang berharap suaminya akan mencintai dia. Meski dia bertanggung jawab dan memberikan kebahagiaan, tetapi ada yang kurang baginya. Yaitu cinta suaminya, apa kamu pernah mengungkapkan perasaan cinta pada istrimu itu? Bahkan dia ragu kan kalau kamu juga cinta padanya?" kata Rizwan.
Danu diam, dia membenarkan ucapan Rizwan itu. Dia tidak pernah mengucapkan cinta pada Laras, hanya mengatakan menyukainya saja. Di tambah sikapnya akhir-akhir ini berubah menjadi pendiam dan menjauh.
"Aku harus bagaimana?" tanya Danu.
"Ya kamu ceritakan pada istrimu masalahmu itu, biarkan dia terlibat dengan masalahmu dan mencarikan solusinya. Jangan kamu menyembunyikannya, kecuali kamu masih berharap kembali lagi pada gadis liar itu. Aku yakin, istrimu itu tidak akan membiarkan masalahmu terus berlarut. Hargai dia dengan melibatkan masalahmu, atau jangan-jangan kamu tidak pernah menceritakan masalah perceraianmu dengan Jasmin?" tanya Rizwan.
"Aku belum pernah menceritakannya pada Laras, hanya aku pernah bicara kalau sudah bercerai dengan Jasmin."
"Itulah, jangan sampai dia berpikir kalau kamu masih saja memikirkan Jasmin. Dan dia akan menjauh lagi darimu, kamu yang akan rugi. Dan mantan bosnya yang akan menggantikanmu membahagiakan istri dan anakmu." kata Rizwan memberi peringatan.
Danu tertegun, dia menatap sahabatnya itu. Terkadang ucapan Rizwan itu memang benar. Dia ingat semua apa yang di katakan oleh Laras, dari obrolan malam itu. Laras mengatakan akan pergi jika dirinya sudah tidak membutuhkannya lagi. Dan tadi pagi, dia mendengar kalau satu yang di harapkan istrinya. Yaitu cinta.
"Kamu, memang hebat. Mengerti bagaimana sifat perempuan, apa yang kamu katakan semuanya benar. Laras mengharapkan aku mencintainya, dan dia pernah berkata akan pergi jika aku tidak membutuhkannya lagi." kata Danu.
"Makanya, jangan sampai istrimu pergi lagi. Dan posisimu di gantikan oleh laki-laki lain, kamu sendiri yang akan susah." kata Rizwan lagi.
"Aku akan menemui Jasmin dengan Laras." kata Danu.
"Untuk menjelaskan semuanya, dan memastikan apakah benar dia sakit HIV itu. Biar Laras tahu semuanya." kata Danu.
"Ya, begitu lebih baik. Dan jelaskan semuanya sama istrimu setelah menemui Jasmin." ucap Rizwan lagi.
_
Hari Minggu, Laras sedang santai juga di rumah. Begitu pun Danu. Tapi Laras lebih banyak diam dan tidak banyak bicara pada suaminya, sejak Danu menatapnya tajam dan melarang dirinya memegang ponselnya.
Danu menghampiri Laras yang sedang bermain dengan Rion dan Dian. Hari ini sengaja tidak membuat kue pesanan pelanggan karena ingin istirahat sehari saja.
"Laras, apa kamu mau menemaniku pergi?" tanya Danu.
"Pergi kemana?" tanya Laras.
"Menemui seseorang." jawab Danu.
"Siapa?"
"Kamu bersiap saja dulu. Nanti aku cerita di mobil." kata Danu.
"Tapi Rion sedang main mas."
"Biarkan saja sama Dian. Kita pergi berdua saja." kata Danu lagi.
Laras diam, dia penasaran sebenarnya tapi kenapa hari ini suaminya jadi lebih lembut.
"Laras, cepat."
"Iya."
Laras pun menitipkan Rion pada Dian, gadis itu pun mengiyakan. Dia tahu Laras dan Danu sedang ada masalah akhir-akhir ini, dan sepertinya akan menyelesaikannya bicara berdua saja.
"Kita mau kemana mas?" tanya Laras ketika mereka sudah di mobil.
"Menemui Jasmin." jawab Danu.
Laras diam, wajahnya berubah jadi kecewa. Danu melirik pada istrinya, perubahan wajahnya sangat jelas terlihat.
"Aku ingin kamu tahu dia sekarang seperti apa." kata Danu lagi.
"Dari dulu aku tidak pernah tahu mas, mantan istrimu itu. Jadi tidak tahu apa yang berubah padanya." kata Laras datar saja, hatinya cemburu.
"Kamu cemburu?" tanya Danu.
"Mana ada istri tidak cemburu jika suaminya menemui mantannya mas." jawab Laras.
Danu diam, dia tahu memang istrinya sedang cemburu. Mobil melaju dengan cepat, Danu dan Jasmin janjian bertemu di sebuah rumah makan sederhana saja. Dan dia setuju, dia tidak memberitahu pada Jasmin kalau akan datang dengan istrinya.
Sampailah mereka di sebuah rumah makan sederhana. Danu dan Laras turun dari mobil dan langsung masuk. Tampak di sana, Jasmi sudah menunggu dengan kedua orang tuanya.
Danu dan Laras mendekat pada mereka. Jasmin terkejut dengan Danu membawa Laras ikut serta pada pertemuan mereka. Laras juga terkejut, kenapa ada tiga orang yang di temui suaminya.
"Dady, apa kabar?" sapa Jasmin.
"Baik." jawab Danu.
Danu dan Laras duduk. Kedua orang tua Jasmin hanya diam saja, merasa tidak enak pada Danu dan istrinya itu.
"Langsung saja. Ceritakan apa yang kamu inginkan."
_
_
*********************