Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
74. Kejutan Di Rumah Baru


Danu duduk di teras rumah, dia menatap jalanan yang sepi dan gelap. Di depan rumah Laras baru ada penghuninya, dan mereka mungkin pasangan yang baru menikah. Terlihat dari depan teras rumah Laras tampak kedua suami istri itu sedang merapikan barang-barang dan ada perdebatan kecil.


Danu terus memperhatikan kedua pasangan baru menikah itu. Dia menghela nafas panjang, dulu dia tidak pernah berdebat masalah apa pun ketika Laras pertama masuk rumah. Hanya beberapa ultimatum dan surat perjanjian yang dia sodorkan pada Laras waktu itu.


Rasanya sangat menyesal sekali ketika dia memberika surat perjanjian pada Laras. Entah surat itu di mana, tapi sejak dulu Laras mematuhi isi perjanjian pada surat tersebut.


Laras keluar, dia melihat suaminya sepertinya sedang melihat tetangga baru di depan sambil melamun. Laras duduk di kursi samping suaminya yang di batasi oleh meja.


"Kamu memikirkan apa mas?" tanya Laras.


"Hemm, hanya mengingat sesuatu yang membuatku menyesal." jawab Danu.


Laras menatap suaminya, ada raut kecewa dan penyesalan di sana. Laras semakin percaya jika sekarang suaminya itu sudah menyesalinya bahkan dia sudah mulai menyukainya. Itu suatu kemajuan yang membuat Laras senang.


"Emm, rumah itu bagaimana mas?" tanya Laras.


"Katanya kamu tidak suka." kata Danu.


"Bukan tidak suka mas, hanya saja aku baru dua minggu melahirkan. Tunggu empat puluh hari untuk pindah kesana." jawab Laras.


"Jadi kamu mau rumah itu?" tanya Danu.


"Ya, kalau menurut mas Danu itu bagus. Ya aku mau aja." kata Laras tersenyum.


"Rumahnya sudah aku lunasi, tadinya mau aku jual lagi jika kamu tidak suka rumah itu. Nanti cari lagi sesuai keinginanmu." kata Danu.


"Nggak usah mas, biar itu saja." kata Laras.


Laras diam, dia pun tersenyum. Merasa bahagia sekarang Danu mengutamakan keinginannya. Dia ingin bertanya tentang Jasmin, tapi tidak enak hati. Biar bagaimana pun, gadis itu yang dulu sangat di cintai oleh suaminya.


Dia tahu, tidak mudah merubah perasaan dengan cepat. Tapi Laras percaya jika Danu sudah berubah, laki-laki itu memang pendiam. Tapi sikapnya tegas jika memang baik untuknya. Itu pemikiran Laras, padahal dia tidak tahu dulu Danu pernah begitu bodoh mencintai Jasmin.


Kemudian sekarang Danu menyadari kesalahannya, tetapi bukan berarti.perasaan cinta bisa hilang begitu saja. Bagi Laras, Danu lebih perhatian dan bertanggung jawab seperti sekarang dan mudah-mudahan selamanya itu cukup baginya.


Cinta akan datang sendiri, Danu menyukainya saja itu sudah cukup.


Malam semakin larut, Danu dan Laras masih betah duduk di teras rumah. Hingga suara tangis anaknya di dalam membuat Laras terkejut dan berlari masuk ke dalam rumah. Danu ikut menyusul ke dalam, mengunci pintu rumah dan keduanya masuk ke dalam kamar untuk tidur setelah memberi asi Rion.


_


Setelah empat puluh hari, Laras pun meninjau rumah yang baru di beli oleh Danu untuknya. Dia sangat senang semua perabot dalam rumah itu sudah lengkap, tinggal masuk saja bagi Laras.


Dia berkeliling setiap ruangan di rumah itu, dan memang dapurnya yang dia suka. Sangat luas, berbagai perabot sudah ada di sana. Laras sangat antusias mencoba beberapa peralatan dapur di sana.


"Ini dapurnya isinya lengkap mas. Memang kamu isi semua ya?" tanya Laras.


"Ya, biar kamu mau membuat kue atau memasak apa saja. Ada alatnya. Kamu senang memasakkan?" kata Danu.


"Iya mas, aku suka memasak. Apa lagi membuat kue." jawab Laras tersenyum.


"Dan aku suka masakan kamu. Kamu bebas mau masak apa saja, pasti aku makan." kata Danu.


"Heheh, mas Danu bisa saja." kata Laras malu.


"Tapi benar, aku selalu kangen makan masakan kamu." kata Danu lagi.


"Tapi waktu baru nikah, kamu tidak mau makan masakanku mas." kata Laras.


"Waktu itu hanya belum tahu kalau masakanmu enak." jawab Danu.


Laras tersenyum, dia lalu berkeliling lagi menuju kamar utama. Kamarnya dan Danu. Sebuah kamar besar dengan bercat cokelat susu di padu dengan warna krem. Sangat elegan, apa lagi isi kamar utama itu ada ranjang besar di tengah yang menghadap ke jendela. Meja kecil, boks bayi dan sebuah ruangan khusus ganti baju.


Tak lupa juga kamar mandi, di dekat jendela ada meja besar serta rak buku. Khusus untuk tempat kerja Danu.


"Aku suruh orang untuk merombak kamar ini, sebelum kamu pindah. Jadi besar kamarnya, dan sengaja besar agar Rion juga bisa kok main di kamar." kata Danu.


"Tapi, kalau main kan di luar mas. Memang tidak ada ruangan khusus untuk main anak-anak." tanya Laras.


"Ada, tapi jika Rion tidak ada yang jaga. Kan bisa di kamar mainnya." kata Danu lagi.


Laras hanya manggut-manggut saja. Dia senang dengan rumah barunya. Ada kamar lain selain kamar utama, ada tiga kamar lagi sebenarnya. Satunya mungkin untuk Dian dan yang dua nanti jika kelak anaknya sudah besar.


Di rumah itu juga ada halaman belakang untuk bersantai. Kolam renang dan juga balong ikan. Danu senang ketika melihat istrinya itu sangat antusias dengan rumah baru itu. Semuanya di jelajahinya, seakan dia sudah siap untuk pindah ke rumah baru itu.


"Jadi, kapan mau pindah rumah?" tanya Danu.


"Emm, tiga hari lagi sudah empat puluh hari. Jadi mungkin satu minggu lagi pindahnya." jawab Laras.


"Lama ya." kata Danu.


"Nggak kok. Kan satu minggu itu sebentar." kata Laras.


"Emm, tapi aku dapat jatah kapan?" tanya Danu meliril istrinya.


Laras diam, dia pun tersenyum saja. Dia lalu masuk lagi ke dalam ruang tamu, di mana Dian sedang menggendong Rion yang sedang tidur pulas. Danu mengikuti Laras dari belakang, dia memberi isyarat agar jangan mengganggu Dian yang sedang tidur dengan anaknya.


"Kita ke kamar saja yuk." kata Danu menarik tangan Laras.


"Mau apa mas?" tanya Laras heran.


"Ikut saja." ucap Danu.


Laras pun menurut, dia penasaran apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu. Tangan satunya di masukkan ke dalam saku celananya, seperti menggenggam sesuatu.


Sampai di dalam kamar, Danu menutup pintunya dan mengajak Laras duduk di atas ranjang. Laras bingung, apa yang mau di lakukan oleh suaminya.


"Mau apa mas?" tanya Laras.


Danu tidak menjawab, dia memegang tangan Laras dan mengelusnya pelan. Menatap istrinya dengan lembut, lalu tersenyum pada Laras.


"Tangan kamu masih polos, ya." kata Danu.


"Iya. Memang kenapa?" tanya Laras bingung.


Danu pun mengeluarkan sebuah kotak di saku celananya, membuka isinya dan tampak cincin berlian di dalam kotak itu. Dia mengambilnya dan menyematkan cincin berlian di jari manis Laras.


"Ini sebagai tanda kalau kita sekarang suami istri sah. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita di kantor KUA, dan besok surat nikahnya sudah jadi. Kamu sekarang istri sahku, Laras." kata Danu masih menatap Laras.


Laras diam, dia terharu dengan semua kejutan dari suaminya itu. Hampir dia menangis, tapi cepat-cepat tersenyum untuk menahan rasa harunya itu.


"Terima kasih mas. Aku sangat terharu, aku tidak percaya kamu sekarang benar-benar berubah." kata Laras.


"Kan aku sudah bilang, aku akan membahagiakanmu dan anak kita. Aku tidak mau apa pun lagi selain dirimu dan juga Rion, Laras." kata Danu menyapu tangannya di pipi Laras yang basah air mata.


"Aku tidak menyangka saja mas, kupikir kamu berubah hanya sebatas membelikan rumah dan tidak memberikan ini sebagai kejutan. Terima kasih mas Danu, dan maaf jika aku sempat meragukan kamu." kata Laras sambil terisak.


"Tidak apa, aku tahu tidak mudah mempercayaiku. Karena aku sering sekali membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi sekarang, kebahagiaanku adalah kamu dan Rion." kata Danu.


Laras kembali menangis, dia mencium tangan suaminya itu. Dan Danu pun memeluk Laras dengan erat, betapa dia juga merasa bahagia karena membuat Laras terharu dan kini menjadi lebih sempurna baginya. Kebahagiaan dengan istri yang dulu di abaikan, kini dia akan selalu bahagia dengan istri pertamanya itu.


_


_


*******************