Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
65. Surat Cerai


Jasmin dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah mereka. Ibu Jasmin diam saja, tatapannya kosong karena dia masih syok dengan anaknya yang tidak bisa di kendalikan dengan sikapnya itu. Bahkan dia melawan suaminya sendiiri yang sudah tahu dia salah.


Ayah Jasmin juga tidak mengerti kenapa sikap Jasmin begitu angkuh. Dia bahkan malu sekali pada menantunya Danu. Sudah banyak di bantu dari segi materi, bahkan istrinya selalu di kirimi uang setiap bulan. Tapi kelakuan anaknya justru mencerminkan ketidak syukuran dan rasa terima kasih.


"Jasmin itu benar-benar anak yang tidak tahu diri." ucap ibu Jasmin.


"Dia liar karena berteman dengan orang yang salah. Ibu kenapa tidak memperhatikan anakmu itu?" tanya ayahnya seakan menyalahkan istrinya.


"Ayah menyalahkan ibu?" tanya istrinya tidak terima dengan tuduhan suaminya.


"Ya, Jasmin seperti itu karena ibu selalu memanjakan dia. Ayah tidak menyangka dia sampai seliar itu. Apakah memang teman-temannya itu?" tanya ayah Jasmin.


"Ibu rasa bukan yah, mungkin teman barunya. Karena teman-teman sewaktu sekolah dulu tidak seperti itu." kata istrinya.


"Lalu, dia pergi kemana?" tanya ayah Jasmin.


"Katanya mau menginap ke rumah temannya." jawab istrinya.


"Apa?!"


"Ya, tadi dia turun dari taksi katanya mau ke rumah temannya."


"Kenapa ibu tidak mencegahnya?!"


"Tapi, kupikir dia butuh menyendiri yah." ucap istrinya.


"Tapi bukan di rumah temannya, mungkin saja dia pergi ke rumah teman lelakinya. Duh, ibu kenapa membiarkan dia pergi sih?!" kata suaminya.


"Terus, kita cari dia kemana?" tanya istrinya.


"Coba ibu tanya ke temannya yang bernama Ira itu. Setahu ayah Ira dan Seli itu teman Jasmin sewaktu SMA." kata suaminya.


"Kan ibu tidak punya nomor mereka. Apa harus datang ke rumahnya?" tanya istrinya.


"Bila perlu, sekarang kita kurung saja anak kita itu. Ini sangat memalukan sekali, ayah tidak menyangka Jasmin begitu bebas bergaul, bahkan dia sampai melakukan hal yang tidak senonoh." kata suaminya kesal dan merasa kecewa dengan anaknya itu.


Ibu Jamsin diam saja, dia juga merasa kecewa dan bersalah. Kenapa Jasmin begitu liar pergaulannya. Dia akan menasehati anak gadis satu-satunya, sekarang dia tidak memikirkan lagi tentang uang jatah bulanan dari menantunya.


_


Tiga hari Jasmin di cari oleh kedua orang tuanya tidak ketemu. Teman-teman Jasmin tidak bisa memberitahu keberadaan Jasmin, karena mereka memang tidak tahu di mana Jasmin berada. Mereka sudah jarang bicara dengan Jasmin sejak Jasmin dekat dengan Dandy.


Ibu Jasmin sangat khawatir dengan anaknya itu. Baru kali ini ibu Jasmin khawatir dengan anaknya yang menginap lama.


"Permisi, paket!" teriak kurir di luar.


Ibu Jasmin bangkit dari duduknya dan menuju depan rumah. Dia membuka pintu, melihat kurir paket memberikan sebuah amplop cokelat besar. Dia ragu menerima paket itu, namun akhirnya di terima.


Dia tahu itu apa, pastinya keputusan Danu yang sudah bulat. Ya, pasti itu surat cerai yang harus di tanda tangani oleh Jasmin.


Setelah menerima paket amplop cokelat itu, ibu Jasmin masuk. Dia menuju kamar Jasmin dan meletakkan amplop cokelat itu di meja belajar. Baru keluar dari kamar Jasmin, ada lagi orang yang datang. Ibu Jasmin heran, siapa yang datang itu.


"Siapa ya yang datang lagi?" tanynya.


Membuka pintu rumahnya dan ternyata kurir lagi, tapi berbeda dengan yang tadi.


"Ada apa mas?" tanya ibu Jasmin.


"Ini ada surat bu." jawab kurir itu menyerahkan amplop putih bertandakan nama universitas.


"Iya bu."


Kurir pun pergi, ibu Jasmin melihat nama Jasmin di sana. Kop surat tercantum nama kampus di mana Jasmin kuliah. Ibu Jasmin pun mengerutkan dahinya, dia tidak tahu kenapa surat dari kampus datang ke rumahnya.


"Apa itu bu?" tanya suaminya.


"Ini yah, surat dari kampus untuk Jasmin." jawab istrinya.


"Coba di buka, barangkali penting." kata suaminya.


Ibu Jasmin membuka surat itu, dia membaca isinya. Ayah Jasmin pun ikut membaca surat itu, dan mereka berdua pun terkejut.


"Anak itu ya, benar-benar dia minta di hajar olehku!" teriak ayah Jasmin dengan marah.


Ibu Jasmin pun lemas, dia semakin pusing dengan tingkah pola anak gadisnya yang benar-benar keterlaluan. Dia sering bolos dan kadang tidak masuk kelas. Jadi pihak kampus mengeluarkan Jasmin dari kampus tersebut.


"Jasmiiiin! Kamu benar-benar bikin malu orang tua!" teriak ibunya.


Mereka berdua sangat geram sekali dengan anaknya. Saat mereka sedang pusing memikirkan Jasmin, gadis itu justru datang denfan wajah biasa saja. Bahkan dia terlihat senang.


"Bu."


Ayah dan ibunya pun menoleh, keduanya saling pandang. Amarah ayahnya memuncak melihat anak yang mereka pikirkan pun datang. Ayah Jasmin bangkit dari duduknya dan menghampiri anaknya.


Dia menampar pipi Jasmin dengan keras, membuat Jasmin terkejut dan matanya menatap tajam pada ayahnya. Dia bingung dengan ayahnya yang tiba-tiba menamparnya.


"Ayah kenapa menamparku?!" tanya Jasmin.


"Anak tidak tahu diri! Sudah bergaul dengan bebas, sekarang kamu justru di keluarkan dari kampusmu!" ucap ayahnya.


Ibu Jasmin merasa kasihan, tapi dia tidak bisa membela anaknya terus. Memang Jasmin harus di beri pelajaran seperti itu.


"Apa yang ayah katakan?! Aku selalu rajin berangkat kuliah. Mana ada di keluarkan?" tanya Jasmin.


Ayahnya mengambil surat dari kampus itu dan melemparkan ke wajah anaknya. Jasmin kaget, dia melihat surat itu jatuh. Lalu mengambilnya, dia membacanya. Dia pun terdiam.


"Kamu itu seharusnya bersyukur mendapatkan laki-laki baik yang mencintaimu dengan tulus seperti Danu. Tapi kamu malah selingkuh dengan laki-laki lain, dan sekarang kamu di keluarkan dari kampus karena kamu serinf bolos dan sering tidak ikut kuis dari dosen. Anak tidak tahu diri dan tidak tahu di untung!" ucap ayah Jasmin dengan marah.


Ibu Jasmin bangkit dan menuju kamar Jasmin. Dia mengambil amplop cokelat besar itu dan membawanya ke depan. Lalu menyerahkan pada Jasmin.


"Ini juga dari pengadilan sepertinya, kamu baca saja. Saat ini ayah dan ibu tidak bisa membelamu lagi, semua kelakuanmu itu sudah di luar batas Jasmin. Memang ibu sangat sayang sama kamu, tapi sekarang kamu harus menuruti ayah dan ibu. Atau kamu mau hidup liar dengan pacar selingkuhanmu itu." kata ibunya Jasmin datar.


"Bu. Ibu tega sama aku?" tanya Jasmin.


"Kamu sendiri tega membuat coreng malu kedua orang tuamu. Bahkan pada suamimu sendiri." kata ibunya.


Jasmin diam, dia menatap nanar pada ibunya. Sekarang tidak ada lagi yang membelanya. Dia membuka amplop cokelat itu, mengambil isinya. Dan benar saja, surat perceraian yang di kirim oleh pengacara Danu.


Jasmin terpaku, dia memang kemarin menantang Danu. Tapi sekarang dia menyesal, air matanya pun luruh. Ibunya menatap anaknya yang menangis, entah dia menangis karena apa. Tapi ibunya kini tidak peduli lagi dengan anaknya itu.


Ibu dan ayah Jasmin masul ke ruang tengah, meninggalkan Jasmin yang menangis. Dia terisak, lalu terduduk lemas. Masih terisak dengan tangis yang entah penyesalannya karena suraymt cerai itu atau karena kecewa dengan sikap kedua orang tuanya yang sekarang marah padanya.


_


_


*********************