Cinta Suamiku Bukan Untukku

Cinta Suamiku Bukan Untukku
42. Periksa


Laras kembali ke rumahnya dengan perasaan kecewa. Dia berharap suaminya bisa menerimanya dan bisa membagi waktunya, tapi kenyataannya sudah satu bulan Danu tidak datang lagi ke rumahnya.


Sangat besar harapan Laras, tapi kenyataannya Danu sekarang melupakannya. Tidak datang lagi ke rumahnya, air mata Laras tanpa terasa mengalir. Di balik helmnya dia menangis, Dian yang membonceng di belakang mendengar isak tangis Laras.


"Kak, bisa berhenti dulu?" tanya Dian.


Laras pun meminggirkan motornya dan berhenti, dia membuka helmnya dan menghapus air matanya. Dia melihat itu, lalu tiba-tiba dia memeluk Laras. Entah dia tahu atau tidak apa yang di rasakan Laras, tapi dia yakin hati Laras sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf ya Dian, kakak tiba-tiba menangis." kata Laras.


"Ngga apa-apa. Mungkin ada yang kakak pikirkan, biar Dian aja yang menyetir kak. Kakak sedang tidak baik, bonceng aja ya." kata Dian.


"Iya, kakak sedih." kata Laras.


"Sedih kenapa? Apa pak Danu jarang ke rumah, kakak jadi sedih?" tanya Dian.


"Ya, pikiran kakak jadi begini. Mungkin kakak terlalu berharap mas Danu selalu datang ke rumah dan bisa menerima kakak lagi dengan baik. Tapi sudah sebulan tidak datang lagi, jadi kakak sedih." kata Laras.


"Ngga apa-apa, jangan pikirkan kak. Kakak seperti dulu lagi, tidak mempedulikan pak Danu lagi. Kakak harus bahagia, jangan karena suami kakak yang tidak peduli lagi. Kakak jadi sering melamun dan makan jadi berkurang." kata Dian mengingatkan.


"Kalau kakak makan kurang itu karena mulut kakak pahit. Pengen makan banyak, tapi pahit mulutnya. Kadang juga mual, jadi makan kakak sedikit." kata Laras.


"Ya udah, sekarang kakak pengen makan apa?" tanya Dian.


"Ngga usah, kita pulang aja. Benar kata kamu, kakak ngga boleh sedih terus. Mungkin kakak kecewa karena terlalu berharap mas Danu akan datang terus ke rumah. Tapi kakak mau seperti dulu lagi, ayo jalan." kata Laras.


Dia menarik nafas panjang, benar kata Dian. Dia tidak boleh bersedih lagi, meski Danu berubah dulu. Itu hanya karena pelampiasan saja, karena sering di tinggal oleh istrinya. Jadi, Laras kini harus kuat. Tapi, salahkah dia mencintai suaminya itu?


_


Hati Laras sudah lebih baik, dia menguatkan dan melupakan Danu yang sudah dua bulan tidak pernah datang lagi ke rumahnya. Dia kini sering merasa mual dan pusing, namun dia memaksakan untuk pergi mengantar paket ke kantor ekspedisi.


Di jalan dia sudah merasa pusing, menuju pulang dia akan memeriksakan ke dokter. Karena perut dan kepalanya selalu bermasalah. Belum lagi jika merasakan bau yang tidak sedap, dia pasti akan muntah.


Akhirnya dia melewati sebuah klinik, lalu dia mampir kesana. Mau memeriksakan kesehatannya dengan keluhan yang selalu sama setiap harinya. Sampai di pendaftaran dia menunggu sebentar. Menunggu beberapa orang di periksa, sembari menunggu Laras mengirim pesan pada Dian kalau dia sedang berada di klinik.


"Ibu Amanda Larasati!" panggil bagian pendaftaran.


Laras pun berdiri dan masuk ke dalam ruangan dokter. Dia duduk, menunggu dokter selesai mencuci tangannya.


"Apa keluhan ibu saat ini?" tanya dokter ketika dokter duduk di belakang meja di depan Laras.


"Saya selalu pusing dokter, dan juga mual perutnya." jawab Laras.


Dokter memeriksa denyut nadi Laras, tensi darah lalu detak jantungnya. Menanyakan beberapa pertanyaan yang umum.


"Coba ibu tes lab ya, tes darah dan ini saya kasih tespek." kata dokter.


"Ini untuk apa dokter?" tanya Laras heran.


"Ibu cek darah dulu, lalu nanti ibu tes air seni ibu dan di tampung di wadah kecil. Alat itu celupkan ke air seni ibu ya, nanti akan muncul garis dua atau satu." kata dokter.


Dia menunggu cukup lama, dan hasil semua tesnya itu di serahkan pada dokter. Dokter pun melihat dan tersenyum, dia pun menjelaskan pada Laras.


"Ibu sehat-sehat saja ya, kami memang dokter umum. Tapi kami juga tahu apa yang ibu rasakan dan ibu alami saat ini." kata dokter itu.


"Jadi, apa penyakit saya dokter?" tanya Laras.


"Emm, ibu sepertinya hamil. Nanti ibu pergi ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya ya. Tapi dari hasil cek darah dan tespek ini saja sudah cukup kalau ibu itu sedang mengandung." kata dokter itu tersenyum.


"Apa? Saya hamil?" tanya Laras terkejut.


"Iya, lebih jelasnya ibu bisa datang ke dokter kandungan. Biar ibu percaya." kata dokter lagi.


"Baiklah dokter. Saya percaya dengan ucapan dokter." kata Laras dengan lirih.


"Ibu bisa minum vitamin ya, agar kandungan ibu sehat-sehat saja. Saya sarankan setiap bulan ibu periksa ke dokter kandungan, jangan ke klinik umum." kata dokter lagi.


"Baik dokter, terima kasih." kata Laras.


Dia lalu menerima resep obat untuk menebus vitamin. Keluar dari ruangan dokter menuju apotik, pikiran Laras semakin kacau. Ternyata dia hamil dan entah harus bagaimana. Sedangkan Danu saja sudah tidak pernah datang lagi ke rumahnya.


Dia hanya memiliki nomor Danu yang lama, sedangkan Danu sudah berganti nomor ponsel. Setelah menebus obat, Laras pun pulang ke rumah dengan pikiran tak menentu. Di pegangnya perutnya yang masih rata.


Dokter mengatakan kalau dia mengandung sudah dua belas minggu. Tepat Danu dua bulan tidak datang ke rumahnya, dan satu bulan itu dia ingat tidak mengalami menstruasi lagi dan dia tidak menyadarinya.


"Bagaimana ini, aku mengandung anak mas Danu. Apakah aku harus datang ke rumahnya dan mengatakan kalau aku hamil anaknya." gumam Laras di sepanjang jalan menuju rumahnya.


Sampai di rumah, dia langsung masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuhnya yang tiba-tiba lemas tak bertenaga. Untung dia cepat sampai di rumah.


"Kak Laras, kakak di kamar?" tanya Dian dari luar.


"Ya Dian, kakak tiba-tiba lemas. Jadi langsung masuk ke kamar, semua belanjaan belum di bawa masuk." jawab Laras.


"Ooh, ya udah. Aku ambil dan bawa masuk kak." kata Dian lagi.


"Ya."


Laras menarik nafas panjang, hatinya tiba-tiba merindukan suaminya itu. Sangat menyesakkan hatinya, ketika hamil dan tiba-tiba merindukan sosok suaminya.


"Aku benci sekali dengan perasaan ini. Apakah karena aku hamil, jadi sering merindukan mas Danu?" ucap Laras sambil menangis terisak.


Lama kelamaan, Laras pun tertidur. Rasa kantuk setiap hari dia rasakan, hanya saja dia abaikan untuk terus membuat kue-kue pesanan pelanggannya di aplikasi. Dia masih sibuk membuat kue-kue di dapur ketika Laras terlelap dengan pulas.


_


_


*******************